banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

16 Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak

author

Mommies Dailyin 6 hours

16 Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak

Berikut 16 tanda Mommies atau Daddies tumbuh di toxic family atau keluarga toksik serta dampak yang bisa muncul dan terjadi pada anak. 

Jika Mommies tumbuh atau hidup dalam dinamika keluarga yang nggak sehat, perasaan yang muncul sering kali bukan sekadar kesal atau jengkel. Berinteraksi dengan anggota keluarga, atau hanya memikirkannya, bisa memicu tekanan emosional yang cukup berat, seperti cemas, sedih, atau merasa nggak aman.

Sayangnya, pola hubungan keluarga toksik atau disfungsional sering sulit dikenali, terutama jika Mommies masih berada di dalam situasi tersebut setiap hari. Kenapa sulit disadari? Bisa jadi karena orang itu menganggapnya sebagai hal yang “lumrah” karena sudah terbiasa sejak lama.

Padahal, ada beberapa tanda yang bisa bantu Mommies menyadarinya. Bagaimana caranya? Bisa dimulai dengan melihat beberapa pertanyaan di bawah ini.

BACA JUGA: Mau Hubungan Sehat antara Menantu dan Mertua? Terapkan 10 Hal Ini

Tanda-Tanda Jika Keluarga Kamu Toksik

Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak
Foto: jcomp/Magnific

Bagaimana cara mengetahui apakah keluarga kita bukan hanya punya keterbatasan, tetapi benar-benar toksik? Seiring bertumbuh dewasa, hal-hal ini sering tidak disadari. 

Menurut buku Parenting in Modern Societies, keluarga disfungsional telah menjadi masalah besar dalam masyarakat modern. Memang, tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi perilaku toxic family dan kurangnya keharmonisan dalam beberapa keluarga perlu dikhawatirkan. Berikut tanda-tanda keluarga disfungsional:

  • Banyak konflik
  • Hubungan tegang
  • Kacau
  • Abai atau tidak peduli
  • Melecehkan
  • Komunikasi butuk
  • Kurang empati
  • Kurang menghargai batasan

Dikutip dari artikel Verywell Mind yang ditinjau oleh psikiater bersertifikat, Mommies bisa memulainya dengan menjawab sejumlah pertanyaan ini. Jika menjawab “ya” bahkan untuk satu pertanyaan, barangkali hal ini menandakan bahwa keluarga Mommies disfungsional.

  1. Apakah kakak atau adik saling diadu domba dalam keluarga? Apakah orang tua punya anak kesayangan dan/atau kambing hitam?
  2. Dalam keluarga dengan dua orang tua, apakah kamu sangat dekat dengan salah satunya dan sangat jauh dengan yang lain? Apakah ayah dan ibu tampak lebih dekat dengan salah satu anaknya daripada dengan satu sama lain?
  3. Dalam keluarga dengan satu orang tua, apakah kamu sahabat dan tempat curhat terbaik orang tuamu? Apakah ayah atau ibu membenci kamu karena punya teman dan kehidupan sosial?
  4. Apakah orang tua secara rutin melanggar batasan kamu—membuka pintu kamar dan kamar mandi tanpa mengetuk, menggeledah barang-barang pribadi, menguping percakapan—tanpa alasan yang jelas?
  5. Apakah kamu kekurangan makanan, pakaian, perawatan medis, dan kebutuhan lainnya meskipun orang tua mampu menyediakannya?
  6. Apakah terjadi pelecehan (dalam bentuk apapun, baik verbal, emosional, fisik, dan seksual) di dalam rumah? Apakah orang tua gagal melindungi kamu dari pelecehan yang terjadi di tempat lain?
  7. Apakah kamu dilarang bercerita kepada orang lain tentang masalah di rumah?
  8. Apakah orang tua atau wali pernah berjuang melawan kecanduan makanan, narkoba, alkohol, judi, seks, penimbunan barang, belanja, dll? Apakah kecanduan ini tidak dibicarakan secara terbuka, atau apakah kamu dan anggota keluarga lainnya didorong untuk mendukung kecanduan ini?
  9. Apakah orang tua atau wali punya penyakit mental yang tidak diobati atau kurang diobati?
  10. Apakah terjadi kekerasan dalam rumah tangga di rumahmu?
  11. Apakah orang tua atau wali menyimpan rahasia besar dari kamu mengenai keuangan, penyakit, status ayah/ibu, perselingkuhan (dan anak-anak yang lahir dari hubungan tersebut), dll?
  12. Apakah ayah atau ibu mengancam akan meninggalkan atau benar-benar meninggalkan kamu? Apakah salah satu orang tua secara rutin mengancam akan meninggalkan yang lain atau benar-benar melakukannya secara tiba-tiba?
  13. Apakah kamu dihukum karena mengekspresikan diri, mengutarakan pendapat, melakukan hobi, berprestasi, atau bidang lainnya?
  14. Apakah kamu diperlakukan lebih seperti orang dewasa daripada anak kecil saat tumbuh dewasa? Apakah kamu pernah diharapkan untuk membesarkan saudara kandung, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang sulit, atau mengambil tanggung jawab yang lebih sesuai untuk orang dewasa?
  15. Apakah kamu diperlakukan seperti anak kecil—diperlakukan, dipakaikan pakaian, atau didisiplinkan seolah-olah kamu jauh lebih muda dari usia sebenarnya?
  16. Apakah citra publik orang tua atau wali sangat berbeda dari citra pribadi mereka di rumah atau ketika hanya bersama kamu?

Sayangnya, dalam beberapa keluarga, ketika kita mengutarakan ada yang salah, keluarga disfungsional atau yang punya perilaku toksik cenderung akan mengecilkan masalah itu, mengelak, atau bahkan menghukum orang tersebut. 

Hal ini bisa bikin seseorang justru berpikir dirinya terlalu sensitif atau membesar-besarkan masalah yang ada di rumah.

Ditambah, anak belum punya pengalaman hidup yang memadai untuk tahu perbedaan perilaku yang normal dan tidak normal dari orang tua atau wali. Inilah kenapa beberapa orang nggak sadar sudah tumbuh dalam keluarga yang toksik.

BACA JUGA: Perlu Introspeksi, Ini Tanda Anda adalah Menantu yang Sangat Menyebalkan

Dampak bagi Anak yang Tumbuh di Keluarga Disfungsional

Foto: Magnific

Tumbuh di keluarga disfungsional menimbulkan dampak buruk bagi anak, bahkan efeknya hingga mereka dewasa. Alih-alih mengungkapkan kekhawatiran dan menyelesaikan masalah dengan cara yang positif, anak dalam keluarga disfungsional menormalisasi situasi dan terbiasa mentolerir perilaku toksik.

Dinamika buruk yang ditemukan di keluarga disfungsional berdampak negatif bagi tumbuh-kembang anak, hal itu menimbulkan rasa sakit dan meninggalkan luka emosional yang nggak mudah pulih.

Melansir Bab “The Impact of Dysfunctional Families on the Mental Health of Children”, berikut dampak negatif bagi anak yang tumbuh di keluarga disfungsional atau toxic family:

1. Kondisi Selalu Waspada (Forever On Guard)

Anak terus-menerus merasa tidak aman dan siap siaga karena lingkungan rumah tidak stabil serta perilaku orang tua sulit diprediksi dan tidak harmonis.

2. Tidak Punya Ikatan Emosional (Emotionally Distant)

Jarak emosional yang diciptakan oleh orang tua membuat anak sulit memiliki ikatan keluarga yang normal atau sehat.

3. Rendahnya Kepercayaan Diri (Low Self-Esteem)

Dampak dari lingkungan tersebut secara langsung menurunkan rasa percaya diri pada anak

4. Sulit Mengekspresikan Diri

Anak mengalami kesulitan mengutarakan perasaan mereka dengan cara yang sehat.

5. Trauma

Tindakan, perkataan, dan sikap orang tua menyebabkan rasa sakit dan trauma yang berulang bagi anak.

6. Luka Emosional dan Mental yang Permanen

Anak tumbuh dengan trauma yang tidak tertangani sehingga meninggalkan bekas luka emosional dan mental yang permanen, serta rasa sedih dan penderitaan yang mendalam.

7. Stigma Sosial

Anak dari keluarga toksik sering kali dilabeli dengan stigma atau pandangan negatif karena situasi di rumah mereka

8. Isolasi dan Penarikan Diri

Anak berisiko tinggi untuk menarik diri dan mengisolasi diri dari lingkungan keluarga atau pertemanan karena tekanan di rumah atau stigma dari luar.

9. Risiko Gangguan Mental

Paparan trauma emosional yang terus-menerus selama tumbuh di keluarga toksik meningkatkan risiko anak terkena penyakit mental di masa depan.

BACA JUGA: Agar Rukun dan Bebas Drama, Ini 12 Tips Tinggal Bersama Mertua yang Wajib Dicoba!

Dengan mengetahui tanda-tanda dan dampak jika tumbuh di keluarga toksik atau disfungsional, Mommies selangkah lebih maju dalam perjalanan memahami dan menyembuhkan diri. Berada di lingkungan toxic family mungkin telah meninggalkan luka, tetapi luka itu tidak harus mendefinisikan masa depan Mommies. Mommies layak mendapatkan kedamaian batin, dan tidak apa-apa memprioritaskan kesehatan mental sendiri di atas segalanya.

Penulis: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: Magnific 

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan