Panduan Screen Time Anak saat Liburan Sekolah Berdasarkan Usia Menurut Psikolog

Parenting & Kids

Sisca Christina・in 6 hours

detail-thumb

Libur sekolah tiba, aturan screen time anak ikut longgar? Simak panduan screen time di masa liburan, agar dapat menyikapinya dengan bijak.

Saat libur sekolah, beberapa anak merasa ”berhak” untuk mendapatkan ekstra screen time. Alasannya, tentu saja karena lagi nggak sekolah, bebas tugas atau PR, jadi nggak ganggu pelajaran. Nah, tinggal kita, sebagai orang tua, mau mengabulkan atau tidak?

Sebelum memutuskan untuk menambah screen time anak di kala liburan, ada baiknya orang tua menimbang-nimbang dulu. Perlu atau tidak? Bermanfaat bagi anak atau tidak, dan berbagai faktor penting lainnya.

Panduan Screen Time Anak menurut WHO

Libur nggak libur, secara umum, World Health Organization (WHO), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan American Academy of Pediatrics (AAP) sepakat memberikan rekomendasi waktu layar atau screen time bagi anak sebagai berikut:

  • <1 tahun: tidak direkomendasikan sama sekali (0 jam).
  • 1-2 tahun: tidak dianjurkan, kecuali video call dengan keluarga.
  • 2-5 tahun: maksimal 1 jam per hari, semakin sedikit semakin baik. Wajib didampingi orang dewasa dan tayangan harus berkualitas tinggi dan edukatif.
  • 6-12 tahun: maksimal 60-90 menit per hari untuk screen time rekreasional atau di luar kebutuhan belajar sehari-hari.
  • 12-18 tahun: maksimal 2 jam per hari untuk screen time rekreasional atau di luar kebutuhan belajar sehari-hari.

Apabila mommies sudah memberlakukan waktu layar setiap hari bagi anak, sebaiknya durasinya tidak ditambah ketika libur. Namun, bagaimana bagi anak yang hanya punya waktu layar saat akhir pekan, apakah boleh ditambah?

Cara Mengatur Waktu Layar Anak Saat Libur Sekolah

1. Tetapkan batasan durasi

Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, M.Psi, Psikolog, menggunakan gawai saat liburan diperbolehkan, dengan catatan, orang tua memberi batasan yang jelas. Batasan ini mencakup kapan waktu yang diperbolehkan untuk main gawai, misalnya setelah melakukan kewajiban di rumah, dan berapa lama durasinya.

Jadi, anak hanya boleh mendapat screen time di jam tertentu, misalnya di jam 10.00-11.00 atau 16.00.17.00. Agar lebih jelas dan tidak kebablasan, pasang timer sesuai durasi, atau gunakan fitur screen time pada ponsel yang memungkinkan beberapa aplikasi tertutup otomatis saat screen time berakhir.

2. Bila Ada Ekstra Waktu, Pastikan Untuk Hal yang Bermanfaat bagi Anak

Saya pribadi tidak menganggap perlu menambah screen time anak untuk bermain game di masa libur sekolah. Jadi, libur nggak libur, jatah main game anak tetap di weekend.

Namun, di luar bermain game, saya masih mengizinkan anak sesekali menggunakan ponsel untuk kebutuhan yang saya pandang bermanfaat bagi anak, seperti chat dengan teman-teman (manfaat sosial), mencari informasi yang dia butuhkan atau minati seperti otomotif, sains (manfaat edukasi dan informasi) dan sejenisnya.

Waktunya pun dibatasi, biasanya saya tanya terlebih dahulu apa kebutuhannya, dan berapa durasi yang dibutuhkan. Untuk chat misalnya 15-30 menit saja. Sebagai catatan, saya dan pasangan belum memberikan anak ponsel sendiri hingga kini anak berusia menginjak remaja. Jadi, dengan sendirinya anak tidak memiliki kebebasan menggunakan gawai sebelum waktunya.

3. Buat zona bebas layar di rumah

Menurut Psikolog Anak dan Remaja dan Edukator, Hanlie Muliani, M.Psi, Psikolog, seperti dilansir dari situs Sahabat Orang Tua & Anak, salah satu cara mengatur screen time anak saat liburan yaitu dengan menetapkan area di rumah yang tidak diperbolehkan adanya layar. Misalnya, meja makan dan kamar tidur. Untuk zona lainnya, silakan tentukan sesuai kebutuhan.

4. Perbanyak aktivitas fisik dan outdoor

screen time anak

Foto: Magnific

Sebetulnya, ketika liburan, itulah saatnya anak lebih banyak bergerak dan eksplor kegiatan di luar ruang, setuju nggak? Karena sehari-hari ketika anak sekolah, gerak fisik mereka dan aktivitas di ruang terbuka cukup terbatas.

Jadi, rancanglah kegiatan liburan anak yang lebih melibatkan aktivitas fisik dan di luar ruang. Misalnya, rutin berenang, jalan-jalan ke pantai, ikut les bulutangkis, lari pagi, jalan-jalan ke pasar tradisional, dan lain sebagainya. Kalau energi anak tersalurkan, bisa jadi anak nggak butuh gawai lagi.

Baca juga: 17 Museum Ramah Anak untuk Mengisi Libur Sekolah di Jabodetabek, Seru dan Edukatif!

5. Orang tua tegas dan konsisten

Menurut Ellen Kristi, seorang Konselor Pengasuhan dan Keluarga dalam berbagai kelas-kelas yang beliau asuh, dalam hal menegakkan aturan screen time, kuncinya ada pada orang tua.

Sebab, orang tualah yang punya otoritas menegakkan aturan dan prinsip di dalam keluarga. Anak-anak bertugas menaatinya. Namun, pada pelaksanaannya, anak perlu di-briefing dengan jelas, aturan tidak bias, dan orang tua juga perlu tegas.

Jika anak tidak diperbolehkan screen time di saat waktunya makan, maka orang tua juga harus menaati aturan tersebut.

Karena pada dasarnya, anak hanya mencontoh apa yang mereka lihat dari orang tua. Jadi, pastikan kita juga nggak main gadget terus, sehingga anak nggak mengikuti kebiasaan screen time yang nggak sehat.

Apabila anak kesal, marah, protes, merengek karena tidak diberikan gawai, hati-hati, mommies jangan goyah. Tetaplah teguh menerapkan aturan. Jika mommies tegas dan konsisten dengan aturan screen time yang sudah ditetapkan, maka ke depannya anak juga lebih mudah beradaptasi dengan aturan tersebut.

Baca juga: 12 Holiday Program Anak saat Libur Sekolah 2026: Sensory Play hingga Leadership Camp

Cover: Magnific