Dilema Orang Tua Masa Kini: Gentle Parenting atau Strict Parenting? Psikolog Ungkap Kelebihan dan Kekurangannya

Freelance Mommies

Sisca Christina・in 2 hours

detail-thumb

Menerapkan gentle parenting, takut anak menjadi lunak; sementara strict parenting takut anak terluka. Bagaimana menerapkan pola asuh yang sadar dan seimbang?

Generasi orang tua di masa kini diperhadapkan pada persimpangan yang dilematis. Mungkin banyak dari kita yang tumbuh dengan pola asuh keras, disiplin dan aturan yang tidak bisa ditawar, alias strict. Walau pola asuh tersebut membentuk kita menjadi lebih resilien, namun kita sadar bahwa pola asuh strict juga bisa menoreh luka.

Kesadaran akan dampak tersebut kemudian membuat kita ingin menerapkan pola asuh yang lebih baik. Apalagi orang tua sekarang dibanjiri dengan berbagai konten parenting, yang mengajarkan pentingnya empati dan validasi emosi anak. Namun saat mempraktikannya, kemudian kita ragu:

  • “Ini aku terlalu keras, atau malah kurang tegas, ya?”
  • ”Dilembutin kok kayak nggak didengar, dikerasin sih langsung nurut, tapi kok kayaknya nggak bener, nih?
  • ”Terlalu tegas takut melukai anak, terlalu lembut takut anak menjadi manja.”

Timbullah dilema, orang tua bingung harus menerapkan pola asuh yang mana. Gentle parenting atau strict parenting?

Perdebatan soal mana yang lebih baik seakan nggak ada habisnya. Apalagi gentle parenting kini semakin populer. Manalah ada orang tua yang nggak ingin mengasuk anak dengan minim marah-marah, lebih lembut dan menghargai anak? Tetapi di sisi lain, ketegasan, disiplin dan batasan juga penting.

Supaya lebih tercerahkan, mari kita simak lebih jauh apa kata pakar tentang kedua pola asuh ini.

Gentle Parenting: Memahami Perasaan dan Perspektif Anak, Sambil Menerapkan Batasan Jelas

Melalui artikelnya di situs Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Belinda Adriani Ariyantoputri, S.Psi. dan Dr. Dyah Triarini Indirasari, MA, Psikolog memaparkan bahwa pendekatan gentle parenting berfokus pada bagaimana orang tua bisa memahami emosi anak dan membimbingnya dengan batasan dan aturan yang jelas dan konsisten, tanpa menggunakan ancaman atau hukuman keras.

Komponen utama di dalam pola asuh gentle parenting yaitu adanya rasa empati pada anak, menghormati anak sebagai individu yang memiliki pendapatnya sendiri, bimbingan orang tua yang jelas, mengutamakan koneksi dengan anak sebelum orang tua mengoreksi.

Senada dengan itu, Psikolog Elizabeth Solomon Loyola, Founder Child Psychology Center di San Diego Utara dan Sacramento melalui situsnya, memaparkan bahwa dalam menerapkan gentle parenting, batasan adalah penting.

gentle parenting

Foto: Image by Lifestylememory on Magnific

Adanya batasan justru menciptakan rasa aman pada anak-anak. Batasan pulalah yang akan  mengajarkan anak-anak cara berinteraksi dengan orang lain, sekaligus membantu mereka dalam mengelola emosi. Di dalam batasan, anak juga belajar tanggung jawab dan pengendalian diri, rasa hormat dan empati.

Justru, tanpa batasan, anak bisa hilang kendali dan bertindak semaunya, karena tak mengerti apa yang diharapkan dari mereka. Ketika orang tua menetapkan batasan yang jelas dan konsisten, anak-anak merasa aman.

Namun, jangan salah arti, ya. Batasan bukan berarti harus keras atau kasar. Batasan juga tetap bisa memberlakukan konsekuensi natural saat anak melakukan kesalahan. Namun bukan berarti sedikit-sedikit menghukum anak, memarahi apalagi mempermalukan anak.

Jadi, jika anak memukul adiknya, alih-alih berteriak, “Kasar banget, sih, sama adek, dia tuh masih kecil,” cobalah mengatakan: “Mama lihat kamu kesal adek ambil mainanmu, ya? Tapi, memukul adik itu nggak aman, lho. Yuk, kita cari cara lain untuk mengungkapkan perasaanmu. Kamu mau istirahat dulu, atau mau omongin sama Mama?”

Baca juga: 4 Gaya Pengasuhan dan Dampaknya pada Karakter Anak

Strict Parenting: Bisa Bikin Anak Disiplin, Tapi Belum Tentu Sadar dan Paham

Sekilas, bersikap strict tampak berhasil membuat anak “nurut”. Sayangnya, itu bisa menjadi jebakan bagi orang tua, karena tujuannya hanya jangka pendek: membuat anak melakukan yang orang tua minta, saat itu juga. Tanpa mempertimbangkan apakah anak benar-benar tulus dan sadar melakukannya, atau terpaksa.

Foto: Image by bearfotos on Magnific

Seperti dilansir dari Kompas, Psikolog Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah, Meriyati M.Psi, Psikolog mengakui bahwa strict parenting bisa membuat anak menjadi disiplin dan pandai mengikuti aturan. Ini menjadi baik dan diperlukan saat anak berinteraksi di sekolah atau lingkungan masyarakat.

Pola asuh yang tegas juga bisa membentuk anak terbiasa memahami aturan dengan jelas, dan bisa mendorong pencapaian yang tinggi, misalnya di bidang akademik, olahraga atau lainnya. Ini karena anak terbiasa kerja keras dan terpacu untuk mencapai goal tertentu.

Di sisi lain, Psikolog Meriyati menyebutkan, jika anak hanya tunduk pada apa kata orang tua terus-menerus, mereka jadi tidak terbiasa eksplorasi dan mengambil tindakan sendiri.

Hal senada disampaikan juga oleh Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi, seperti dilansir dari Klik Dokter. Dalam jangka panjang, pola asuh orang tua yang serba ketat bisa menimbulkan masalah perilaku pada anak. Misalnya, anak jadi punya kesulitan mengatur emosi, menjadi kurang percaya diri, tertekan karena terbiasa melakukan sesuatu hanya untuk orang tua, bukan atas keinginan dan kesadarannya sendiri.

Ujungnya, anak bisa jadi kurang bahagia.

Baca juga: 4 Gaya Pengasuhan dan Dampaknya pada Karakter Anak

Setiap Pola Asuh Punya Tantangannya

Salah satu kunci menerapkan pola asuh, apapun gayanya, yaitu terletak pada orang tua yang juga mau belajar untuk mengelola emosinya. Sebab, orangtualah yang bakal menjadi teladan anak dalam menjalankan setiap aturan dan bagaimana mengelola emosi dalam praktik sehari-hari.

Seperti halnya menerapkan gentle parenting, bisa jadi hal yang melelahkan bagi orang tua. Hasilnya nggak instan, sangat menguras energi dan butuh kesabaran dan proses yang panjang sampai akhirnya mommies bisa melihat hasilnya kelak. Selain itu, gentle parenting juga sering disalahartikan sebagai pola asuh yang permisif.

Padahal, pola asuh ini bukan sekadar serba memperbolehkan anak, serba sabar, nggak boleh tegur atau kasih konsekuensi. Sebaliknya, justru gentle parenting menerapkan batasan yang jelas. Namun, apabila mommies bisa menjalankan pola asuh ini dengan prinsip yang benar, sejatinya akan membuat hubungan orang tua dan anak menjadi lebih hangat, dekat dan terbuka.

gentle parenting

Foto: Magnific

Lebih lanjut, Meriyati memaparkan bahwa menerapkan strict parenting tanpa mempertimbangkan sudut pandang anak bisa berdampak kurang baik bagi anak. Bisa jadi anak jadi mudah takut, mudah khawatir, tidak mampu atau tidak berani mengemukakan pendapat, hingga membuat hubungan orang tua dan anak menjadi kaku dan kurang hangat.

Orang tua perlu berupaya mencari tahu sudut pandang anak, mengajak anak untuk berdiskusi terbuka, sehingga anak punya ruang aman untuk berkomunikasi dengan orang tua; bukan hanya menuntut atau memaksakan kehendak saja.

Pada akhirnya, bukan soal orang tua harus memilih menjadi gentle atau strict lagi. Gentle parenting bukan serba boleh, strict parenting bukan berarti selalu salah. Tetapi bagaimana orang tua bisa menemukan keseimbangan antara kasih sayang dan batasan yang jelas. Bagaimana orang tua bisa mendisiplinkan anak tanpa merusak hubungan dengannya. Kuncinya selalu: bangun koneksi dahulu, koreksi kemudian.

Baca juga: Gaya Pengasuhan Ala Ibunda Maudy Ayunda yang Patut Ditiru

Cover: Image by pressfoto on Magnific