
Berapa jarak usia anak ideal? Ini penjelasan dokter anak, dokter kandungan, dan psikolog tentang jarak anak pertama dan kedua yang aman bagi ibu, bayi, dan keluarga.
Saat orang tua ingin menambah anak, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, dan salah satu yang paling penting adalah jarak usia anak dengan calon adiknya.
Satu keputusan penting ini akan membawa beragam dampak bagi Ibu, calon bayi, dan seluruh anggota keluarga. Simak kata ahli tentang jarak usia anak yang ideal dan aman, baik secara fisik, psikologis, maupun finansial!
BACA JUGA: 6 Hal Ini Pasti Dialami Ibu yang Melahirkan Anak Kedua

Dijelaskan oleh Dokter Anak, dr. Citra Raditha, Sp.A(K), jarak anak pertama dan anak kedua yang aman minimal dua tahun setelah kelahiran sebelumnya. Apa dampaknya jika jarak usia anak kurang dari itu? Berikut penjelasannya!
Jarak anak pertama dan anak kedua yang terlalu dekat meningkatkan risiko bayi lahir prematur, yaitu kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu. Semakin dini lahirnya, semakin tinggi risiko komplikasi karena paru-paru, pencernaan, dan sistem imun belum matang sempurna.
Bayi bisa mengalami napas cepat atau sesak, refleks menghisap dan menelan yang belum kuat, pertumbuhan melambat, hingga memerlukan perawatan khusus.
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram, yang salah satunya disebabkan oleh jarak kehamilan pertama dan kehamilan kedua yang terlalu dekat.
Potensi risikonya antara lain gula darah rendah, kesulitan menyusu, kemungkinan infeksi lebih tinggi, hingga lebih mudah sakit.
Bayi prematur juga meningkatkan risiko keterlambatan bicara, masalah motorik, kurangnya fokus, dan gangguan belajar di kemudian hari.

Selain dokter anak, Dokter Kandungan dr. Muhammad Fadli, Sp.OG, juga mengatakan dua tahun sebagai jarak aman kehamilan pertama dan kehamilan kedua. Ini alasannya!
Jika kehamilan pertama Ibu melahirkan caesar, dengan jarak dua tahun Ibu dapat mencoba untuk melahirkan per vaginam pada kehamilan kedua. Jika jaraknya lebih dekat, maka Ibu tidak punya banyak pilihan dan harus melahirkan secara caesar lagi.
Pemberian ASI yang disarankan adalah selama dua tahun. Jika Ibu sudah hamil anak kedua sebelum dua tahun, anak pertama bisa kekurangan ASI.
Jadi, Ibu bisa fokus terlebih dahulu dan merencanakan kehamilan kedua setelah selesai memberi ASI.
Ibu yang sedang hamil dan memberi ASI dapat mengalami kontraksi dini yang tentunya bisa membahayakan kesehatan bayi dan Ibu.
Selain kesehatan fisik, kesiapan mental Ibu juga perlu diperhatikan.
Ibu yang belum siap mental dan kelelahan dengan jarak kehamilan yang terlalu dekat, ditambah anak pertama yang belum siap menerima adik, rentan merasa bersalah dan berpotensi mengalami baby blues atau stres pasca melahirkan.
Beberapa hal perlu disiapkan selama tiga bulan sebelum kehamilan. Ibu perlu minum asam folat, juga melakukan perbaikan lifestyle. Misalnya jika orang tua merokok, minum alkohol, atau berat badan belum ideal, hal-hal tersebut perlu diperbaiki terlebih dahulu agar kesehatan Ibu dan calon bayi lebih aman.
Jarak kehamilan kedua yang terlalu dekat membuat orang tua tidak punya waktu cukup untuk persiapan, yang dapat menyebabkan komplikasi kehamilan.

Berikut penjelasan dari Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Ristriarie Kusumaningrum, M.Psi., Psikolog, tentang jarak usia antar anak yang direkomendasikan, yaitu antara 3-5 tahun, dan pertimbangannya!
Pada usia tiga tahun, anak sudah cukup mandiri. Kemampuan motorik, bahasa, dan komunikasi biasanya juga sudah lebih berkembang.
Walaupun ada kecemburuan, anak berusia tiga tahun ke atas sudah dapat diberikan pengertian dan mampu berkomunikasi dua arah. Jika jarak usia anak terlalu dekat, berpotensi menyebabkan sibling rivalry atau persaingan antar saudara yang lebih tinggi karena kurangnya perhatian dan waktu orang tua.
Kehadiran adik baru adalah perubahan besar dalam hidup seorang anak.
Usia kakak yang terlalu muda akan membuat anak sulit memahami adanya perubahan situasi, peran, dan tanggung jawab, hingga memicu perubahan emosi dan perilaku yang drastis pada anak pertama.
Kesiapan psikologis Ibu juga menjadi pertimbangan penting. Dengan jarak anak pertama dan anak kedua yang cukup, Ibu punya waktu pemulihan agar kesehatan fisik dan mentalnya terjaga.
Ibu yang kelelahan bisa mengalami stres, yang juga berdampak pada kualitas pengasuhan terhadap masing-masing anak, serta kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.
Persiapan dari segi finansial juga perlu diperhatikan agar stabilitas dalam rumah tangga tetap terjaga dengan baik, dan kebutuhan semua anak dapat terpenuhi secara optimal, termasuk biaya hidup sehari-hari dan dana pendidikan anak.
Jarak anak pertama dan anak kedua yang rapat juga membuat orang tua punya tantangan tersendiri, dan membutuhkan bantuan serta dukungan lebih dalam proses pengasuhan masing-masing anak.
Jadi kesimpulannya, baik dokter anak, dokter kandungan, maupun psikolog menyarankan jarak anak pertama dan anak kedua yang aman dan ideal sekitar tiga tahun. Rentang waktu ini memberi kesempatan bagi tubuh Ibu untuk pulih, anak pertama untuk lebih siap secara emosional, serta keluarga untuk mempersiapkan diri secara finansial dan mental.
Jangan lupa merencanakan kehamilan anak kedua dengan baikm, ya, Mommies. Dengan persiapan yang matang, kesehatan dan kesejahteraan diri, anak, dan keluarga juga bisa lebih terjaga.
BACA JUGA: 7 Kesalahan Orang Tua pada Anak Pertama, Bikin Anak Tertekan!
Cover: Pexels