Sorry, we couldn't find any article matching ''

Pembatasan Media Sosial Anak: TikTok Nonaktifkan 1,7 Juta Akun, Apa Artinya untuk Mommies?
Pembatasan media sosial anak di Indonesia mulai berlaku. TikTok menonaktifkan 1,7 juta akun anak. Bagaimana orang tua menyikapinya?
Di zaman sekarang, rasanya hampir semua anak sudah “kenal” media sosial, bahkan sebelum mereka benar-benar paham bahaya yang ada di baliknya. Dari nonton video di YouTube sampai scrolling berjam-jam di TikTok, dunia digital sudah jadi bagian dari keseharian anak-anak.
Namun Mommies harus tahu, bahwa di balik kemudahan dan hiburan itu, ada banyak kekhawatiran yang selama ini mungkin hanya jadi obrolan antar orang tua. Sampai akhirnya, pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah yang lebih tegas.
Mulai 28 Maret 2026, pemerintah resmi membatasi akses anak di bawah usia 16 tahun ke media sosial. Dan yang terbaru, TikTok dilaporkan telah menonaktifkan 1,7 juta akun anak sebagai bagian dari implementasi aturan ini.
Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Dan apa dampaknya untuk kita sebagai orang tua?
BACA JUGA: Indonesia Resmi Menunda Akses Anak di Media Sosial Mulai 28 Maret 2026, dari YouTube hingga Roblox
Dari Aturan ke Aksi Nyata
Mungkin banyak Mommies yang belum tahu, kalau sebelum angka 1,7 juta akun itu muncul, pemerintah sudah lebih dulu mengeluarkan kebijakan penting, yaitu Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.
Aturan ini pada dasarnya mengharuskan semua platform digital untuk:
- Memiliki batas usia minimum pengguna
- Menyediakan sistem verifikasi usia
- Mendesain fitur yang sesuai dengan perkembangan anak
Tujuannya jelas, yaitu menciptakan ruang digital yang lebih aman untuk semua orang, termasuk juga anak-anak.
Kebijakan ini kemudian diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang secara khusus mengatur perlindungan anak di sistem elektronik.
Dan bukan cuma teori, tetapi implementasinya sudah mulai terlihat, nih, Mommies.
TikTok Jadi yang Pertama “Gerak Cepat”

Foto: Pexels
Menurut Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, TikTok menjadi platform pertama yang tidak hanya menyatakan komitmen mereka tapi juga melaporkan data konkret ke pemerintah.
Hingga 28 Maret 2026, TikTok telah menonaktifkan sekitar 1,7 juta akun pengguna di bawah usia 16 tahun. Angka ini naik drastis dari laporan sebelumnya yang masih sekitar 780 ribu akun.
“Jadi, kalau tanggal 10 April lalu TikTok melaporkan telah menonaktifkan akun di bawah 16 tahun itu kurang dari 780 ribu akun. Maka per hari ini yang telah dinonaktifkan akun di bawah 16 tahun adalah 1,7 juta akun anak dari TikTok per tanggal 28 Maret,” tutur Meutya Hafid di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta, Selasa (28/4), dikutip dari detik Inet.
Langkah ini disebut sebagai bentuk kepatuhan nyata terhadap regulasi yang berlaku.
Platform Lain Juga akan Mengikuti
Perlu digarisbawahi, aturan ini tidak hanya berlaku untuk TikTok, tetapi media sosial lainnya, seperti Instagram, Facebook, Roblox, X, Threads, Bigo Live, dan lainnya.
Pemerintah bahkan memberikan tenggat waktu hingga 6 Juni 2026 bagi semua platform untuk melakukan self-assessment dan melaporkan langkah perlindungan anak yang sudah dilakukan. Jika tidak patuh, maka akan ada sanksi bertahap yang akan diberikan.
Kenapa Akses Anak Perlu Dibatasi?
Mungkin banyak Mommies yang bertanya-tanya, “Memangnya separah itu?” Faktanya di lapangan risiko di dunia digital itu memang nyata, terutama untuk anak.
Ini beberapa risiko yang bisa mengintai si kecil:
- Paparan konten tidak sesuai usia (pornografi, kekerasan)
- Interaksi dengan orang asing
- Perundungan siber (cyberbullying)
- Penipuan online
- Risiko adiksi digital
- Gangguan kesehatan mental dan perkembangan
Selain itu, anak juga rentan terhadap eksploitasi data pribadi dan konten yang memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri. Sebelumnya pun sudah banyak kasus yang menyerang anak dari media sosial.
Dengan kata lain, pembatasan ini bukan untuk melarang, tapi untuk melindungi anak-anak.
Realita yang Dihadapi Mommies
Namun tidak bisa dipungkiri, di sisi lain, realita di lapangan memperlihatkan bahwa kadang gadget jadi “penyelamat” Mommies dalam banyak kondisi, seperti:
- Saat harus kerja dari rumah
- Saat butuh waktu istirahat sebentar
- Atau saat anak sedang rewel
Dan Mommies harus tahu kalau hal tersebut sangat valid.
Namun kebijakan ini seperti pengingat bahwa kita tidak bisa sepenuhnya menyerahkan kontrol ke platform, sebab peran orang tua tetap yang utama dalam menjaga dan melindungi anak.
Tips Bijak untuk Orang Tua Menghadapi Anak & Media Sosial

Foto: Pexels
Supaya tidak panik, tapi tetap waspada, ini beberapa hal yang bisa Mommies lakukan untuk menjaga anak dari bahaya media sosial.
1. Kenali Dunia Digital Anak
Mommies tidak harus jadi expert dan mengenal sangat dalam tentang media sosial, tapi setidaknya Mommies tahu apa saja platform apa yang digunakan anak dan konten seperti apa yang sering ditonton mereka.
Dengan begitu, kita bisa lebih nyambung saat ngobrol dengan anak.
2. Patuhi Batas Usia (Sebisa Mungkin)
Kalau anak belum 16 tahun, sebaiknya Mommies tunda dulu penggunaan akun pribadi atau gunakan dengan pengawasan ketat. Aturan usia dibuat untuk melindungi, bukan membatasi secara sembarangan.
3. Manfaatkan Fitur Parental Control
Banyak platform sudah menyediakan fitur parental kontril, seperti:
- Pembatasan waktu layar
- Mode aman (restricted mode)
- Pengawasan akun
Mommies bisa gunakan ini sebagai “alat bantu”, ya, bukan satu-satunya solusi.
4. Bangun Komunikasi Terbuka
Alih-alih Mommies langsung melarang, cobalah untuk tanyakan apa yang mereka suka dan cobalah untuk mendengarkan anak tanpa menghakimi.
Anak yang merasa didengar biasanya lebih terbuka jika mengalami hal yang tidak nyaman dan akan berani bercerita ke orang tua.
5. Tetapkan Aturan yang Konsisten
Mommies dan Daddies juga harus kompak dan konsisten dalam menetapkan aturan, misalnya dengan:
- Tidak ada gadget saat makan
- Ada jam khusus screen time
- Tidak boleh posting tanpa izin
Konsistensi ini penting untuk membentuk kebiasaan .
6. Dampingi Anak, Bukan Hanya Mengawasi
Sesekali Mommies bisa mencoba untuk nonton bareng video yang suka ditonton anak, melihat konten bersama, hingga diskusi ringan mengenai konten yang menarik perhatiannya. Ini bisa jadi momen bonding sekaligus edukasi Mommies bersama si kecil.
Bekal Penting untuk Anak
Selain aturan dari Mommies sebagai orang tuanya, anak-anak juga perlu dibekali pemahaman dasar mengenai cara bermain media sosial.
Bekali mereka untuk:
- Jangan mudah percaya orang asing di internet
- Jangan membagikan data pribadi
- Berani bilang jika merasa tidak nyaman
- Paham bahwa media sosial tidak selalu mencerminkan realita
BACA JUGA: Cara Aktifkan Fitur Parental Control di Instagram, TikTok, dan YouTube
Jadi, kabar tentang 1,7 juta akun anak yang dinonaktifkan mungkin terasa mengejutkan, tetapi di sisi lain, ini juga kabar baik.
Karena artinya ada regulasi yang jelas, ada pengawasan yang mulai berjalan, dan ada tanggung jawab dari masing-masing platform. Namun yang paling penting adalah orang tua tidak lagi “sendirian” menghadapi tantangan ini.
Pada akhirnya, dunia digital memang tidak bisa dihindari. Tapi dengan kombinasi antara aturan, teknologi, dan peran aktif orang tua, kita bisa membantu anak-anak menjalani dunia tersebut dengan lebih aman.
Karena di tengah semua perubahan ini, satu hal tetap sama, yaitu anak tetap butuh kita orang tuanya, bukan hanya untuk melindungi, tapi juga untuk membimbing mereka memahami dunia yang terus berkembang.
Cover: Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS