banner-detik
PARENTING & KIDS

Melepas Anak Kuliah di Luar Kota: Cerita Ibu Saat Anak Mulai Mandiri

author

Ficky Yusriniin 5 hours

Melepas Anak Kuliah di Luar Kota: Cerita Ibu Saat Anak Mulai Mandiri

Ketika melepas anak kuliah di luar kota, yang hilang bukan hanya kehadirannya—tapi juga sebagian peran kita sebagai orang tua. Cerita tentang belajar melepas dan menemukan kembali diri sendiri.

Melepas Anak Kuliah di Luar Kota Bukan Sekadar Soal Jarak

Melepas anak kuliah di luar kota bukan sekadar soal jarak. Ini tentang melepaskan sebagian dari keseharian yang selama ini terasa biasa. Tidak ada yang benar-benar siap untuk hari ketika anak pergi, bukan untuk liburan, tapi untuk memulai hidupnya sendiri.

Tahun ini, anak saya menjadi mahasiswa baru (maba). Fase yang dulu terasa jauh, tiba-tiba hadir di depan mata. Dan saat momen itu datang, saya menyadari: yang berubah bukan hanya hidupnya, tapi juga hidup saya sebagai orang tua.

Ketika anak saya menyodorkan dua pilihan kampus — satu yang masih bisa pulang-pergi, satu lagi yang berjarak 14 jam dari rumah — saya menahan diri untuk tidak langsung bereaksi. Saya mencoba netral.

BACA JUGA: Kampus yang Punya Program AI di Indonesia Siap Hadapi Era Digital

Tapi jauh di dalam hati, ada keyakinan yang sudah lama terbentuk: bahwa kuliah jauh dari rumah bisa menjadi cara anak belajar mandiri. Dan akhirnya, itulah pilihan yang terjadi.

Belajar dari Pengalaman: Kuliah Jauh Membentuk Kemandirian Anak

Saya pernah ada di posisinya.

Saya ingat euforia itu. Kebebasan itu. Sebagai anak yang lama merasa terkungkung dalam didikan keras, pergi jauh dari rumah terasa seperti dilepas ke dunia baru.

Keterbatasan orang tua saat itu justru menjadi bahan bakar. Saya bisa sampai ke kampus impian, dan itu masih saya syukuri sampai sekarang.

Maka ketika anak saya dihadapkan pada pilihan yang sama, saya tahu: jika dia memilih kuliah di luar kota, dia sedang memilih proses bertumbuh yang tidak selalu nyaman, tapi sangat membentuk.

BACA JUGA: Cara Cerdas Mengelola Keuangan untuk Anak dan Remaja

Rumah Terasa Sepi saat Anak Kuliah di Luar Kota

Tidak ada yang benar-benar mempersiapkan saya untuk bagian ini. Selama ini, keramaian rumah kami adalah dia — langkah kakinya, suara pintu, dan… teriakan saya. Karena kamarnya di lantai atas, komunikasi kami sering menggunakan “volume penuh”.

Sekarang?

Tidak ada lagi yang saya panggil untuk membantu hal-hal kecil di rumah. Rutinitas yang dulu dibagi, kini saya jalani sendiri. Rumah tidak benar-benar kosong, tapi terasa berbeda.

Bukan sekadar sepi—melainkan sepi yang menyadarkan: betapa besar kehadirannya selama ini.

Foto: Dok. MD

Rindu Momen Kecil Setelah Anak Pergi Kuliah

Yang paling saya rindukan justru hal-hal sederhana. Dulu, dia sering datang ke kamar saya di malam hari. Duduk, lalu bercerita—tentang harinya, hal-hal random, atau sekadar update singkat.

Sekarang, semua berubah menjadi chat, telepon, atau voice note. Masalahnya, waktu kami tidak selalu bertemu. Saat saya ingin berbicara, dia sibuk. Saat dia menghubungi saya, saya sedang bekerja.

Di sini saya belajar: menjaga hubungan dengan anak yang sudah mandiri butuh usaha ekstra—dan tidak selalu bisa terjadi kapan saja.

Anak Kuliah Jauh, Saya Jadi Tempat Sampahnya

Ini yang menarik. Katanya kangen, tapi giliran dicurhatin panjang lebar, malah jadi trigger saya. Harus siap kalau isinya adalah ranting (keluhan). Dosen A begini-begitu, dia nggak suka. Teman-temannya begini-begitu, menyebalkan. Organisasi mahasiswanya begitu-begini, kecewa. Pemerintah ini-itu, rebel. Kayaknya tidak ada yang benar di matanya.

Kalau saya sedang tidak dalam kondisi jernih, kuping bisa sakit. Serius.

Tapi lama-lama saya belajar: ini bukan berarti hidupnya buruk. Ini berarti dia mempercayai saya sebagai tempat aman untuk meluapkan semuanya. Mungkin memang itu yang dia butuhkan — didengar, bukan dinasihati.

BACA JUGA: Overthinking di Kalangan Remaja Meningkat, Ini 9 Penyebab dan Cara Menghadapinya

Tantangan Komunikasi dengan Anak yang Kuliah di Luar Kota

Komunikasi jarak jauh ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Candaan bisa disalahartikan. Chat bisa terasa dingin. Emoji bisa menimbulkan makna berbeda. Hal-hal kecil bisa memicu miskomunikasi.

Dan seringkali, ini terjadi justru karena kami dekat.

Saya belajar untuk lebih hati-hati memilih kata—dan lebih sabar menunggu waktu yang tepat untuk memperbaiki keadaan.

Foto: Dok. MD

Ini Bukan Hanya Tentang Dia Tumbuh — Ini Tentang Saya Juga

Jika jujur, ini bukan hanya tentang anak belajar mandiri. Ini juga tentang saya belajar melepaskan. Saya belajar bahwa saya tidak harus selalu ada, selalu membantu, atau selalu menjadi pusat hidupnya.

Dia punya jalannya sendiri.

Dan di sisi lain, saya mulai menemukan kembali diri saya. Bahwa saya juga punya tujuan, identitas, dan perjalanan hidup yang tidak hanya tentang menjadi ibu.

Berjauhan dengan anak ternyata mendidik kami berdua.

Untuk Orang Tua yang Anak Mau Kuliah Jauh

Kalau Anda sekarang sedang menimbang hal yang sama — anak yang punya pilihan kuliah dekat atau jauh — saya tidak akan bilang mana yang lebih baik. Itu sangat personal dan kontekstual.

Tapi kalau bertanya soal rasa?

Melepas anak kuliah ke kota yang jauh itu terasa seperti membuka tangan — bukan melepasnya jatuh, tapi membiarkannya terbang dengan cara yang tidak bisa dilakukan kalau tangan kita masih menggenggam terlalu erat. 

Salah satu hal yang saya syukuri, saya sudah menyiapkan mental untuk ini sebelumnya. 

Cover: Dok. MD

Share Article

author

Ficky Yusrini

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan