Pelajaran dari Perselingkuhan: 7 Hal yang Saya Pelajari Setelah Selingkuh

Sex & Relationship

Mommies Daily・in 6 hours

detail-thumb

Pengakuan jujur tentang perselingkuhan dan pelajaran dari perselingkuhan yang didapat. Dari rasa bersalah, kepercayaan, hingga dampaknya pada anak.

Saya pernah berselingkuh, dan itu jadi salah satu keputusan terburuk dalam hidup saya.

Perselingkuhan bukan cuma soal hubungan fisik, tapi juga melibatkan emosi, kepercayaan, dan dampak jangka panjang yang tidak sederhana.

Seperti yang dijelaskan oleh Esther Perel, perselingkuhan sering kali bukan hanya tentang seks, tapi tentang kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dalam hubungan.

Saya tidak bangga mengakuinya, tapi pengalaman berselingkuh selama 2 tahun dengan perempuan lain memberi saya banyak pelajaran dari perselingkuhan, yang sampai sekarang masih saya rasakan dampaknya.

BACA JUGA: Korban Perselingkuhan Bisa Jadi Pelaku Perselingkuhan? Ini 5 Alasannya!

pelajaran dari perselingkuhan

Foto: Freepik

Selama 2 tahun itu, ada banyak hal yang saya sadari, dan sebagian besar datang terlambat.

1. Gairahnya sementara, rasa bersalahnya menetap

Dan pelajaran pertama yang saya rasakan adalah ini. Saya tidak akan munafik, selingkuh itu terasa seru di awal. Ada sensasi deg-degan, rasa “hidup kembali”, dan semangat yang berbeda.

Tapi semua itu tidak berlangsung lama. Yang datang setelahnya adalah rasa bersalah yang terus menghantui. Bahkan sebelum istri saya mengetahuinya, saya sudah merasa bersalah setiap kali melihatnya.

Dan ketika semuanya terbongkar, rasa itu jadi berlipat ganda. Saya kehilangan kepercayaan yang selama ini dia berikan, dan saya menyakiti dia dengan amat sangat.

Dan dari situ saya mulai sadar, ini bukan sesuatu yang bisa selesai begitu saja. Sampai sekarang, rasa bersalah itu tetap ada.

2. Perselingkuhan fisik tidak pernah benar-benar “hanya fisik”

Di awal, saya meyakinkan diri bahwa ini hanya ketertarikan fisik. Saya merasa bosan dengan kehidupan pernikahan kami, dan saya butuh sesuatu yang baru.

Namun, semakin lama berjalan, saya tidak bisa menyangkal bahwa ada keterlibatan emosi di dalamnya. Kami saling berbagi cerita tentang hidup, masalah, bahkan hal-hal yang selama ini tidak pernah saya ceritakan ke istri saya.

Dan jujur saja, kalau saat itu tidak ketahuan, kemungkinan besar saya tidak akan berhenti. Di titik itu, saya sadar semuanya sudah melampaui batas yang saya kira bisa saya kendalikan.

3. Kepercayaan jauh lebih mudah dihancurkan daripada diperbaiki

Kesalahan ini terjadi bertahun-tahun lalu, tapi dampaknya masih terasa sampai sekarang. Istri saya masih memiliki trust issue terhadap saya. Saya tidak menyalahkannya. Saya yang menghancurkan kepercayaan itu.

Butuh waktu yang sangat lama, usaha yang konsisten, dan pembuktian yang terus menerus untuk mencoba memperbaikinya. Tapi jujur saja, rasanya tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Seperti cermin yang retak, bisa diperbaiki, tapi bekasnya tetap terlihat, dan saya harus hidup dengan konsekuensi itu.

4. Orang lain bukan solusi dari masalah pernikahan

Saat pertama kali bertemu dengan selingkuhan saya, saya benar-benar percaya dia adalah jawaban dari semua masalah dalam pernikahan saya.

Dia membuat saya merasa dihargai, diinginkan, dan dipahami. Sesuatu yang saat itu saya rasa hilang di rumah. Tapi pada akhirnya saya sadar, semua itu hanya ilusi sementara.

Tidak peduli seberapa menarik orang lain yang hadir dalam hidup kita, mereka bukan solusi. Perselingkuhan tidak menyelesaikan apa pun, justru menambah masalah baru.

Dan saya terlambat menyadari itu.

5. Kehilangan respek ternyata lebih menyakitkan

Saya selalu berpikir selama saya menjadi ayah yang baik dan mencukupi kebutuhan keluarga, istri saya akan selalu menghormati saya. Ternyata saya salah.

Saat perselingkuhan itu terbongkar, saya kehilangan respek dari dia. Dan itu terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan kepercayaan.

Respek bukan sesuatu yang otomatis kita miliki, dan ketika itu hilang, sangat sulit untuk mendapatkannya kembali.

Dan sampai sekarang, itu masih saya rasakan.

6. Anak-anak tetap merasakan dampaknya

Saya sempat berpikir anak-anak tidak akan terpengaruh karena mereka masih kecil. Ternyata saya salah besar.

Mereka mungkin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka bisa merasakan ada yang berubah. Ketegangan, jarak, bahkan emosi yang tidak stabil di antara kami.

Dan itu jadi salah satu penyesalan terbesar saya. Karena tanpa sadar, mereka ikut merasakan dampak dari keputusan saya.

7. Selingkuh bisa jadi lingkaran yang sulit diputus

pelajaran dari perselingkuhan

Foto: Freepik

Awalnya mungkin hanya coba-coba, tapi lama-lama, itu bisa jadi kebiasaan.

Selingkuh terasa seperti pelarian, seperti cara cepat untuk mengisi kekosongan, padahal sebenarnya itu hanya memperparah keadaan.

Saya bersyukur bisa keluar dari situasi itu. Tapi saya tahu, tidak semua orang seberuntung itu. Dan di titik itu, saya sadar, ini adalah lingkaran yang harus diputus, atau akan terus terulang.

BACA JUGA: Waspada Selingkuh Emosional, 15 Tanda yang Sering Tak Disadari

Kalau bisa kembali ke masa itu, saya tahu satu hal: ini bukan keputusan yang sepadan dengan apa pun yang saya rasakan saat itu.

Apa yang saya alami ini bukan sesuatu yang bisa dibenarkan, tapi jadi pengingat bahwa satu keputusan bisa membawa dampak panjang—bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga untuk pasangan dan anak-anak, dan jadi pengingat bahwa pelajaran dari perselingkuhan ini datang dengan harga yang sangat mahal.

Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa perselingkuhan dan pelanggaran kepercayaan dalam hubungan dapat memicu stres emosional, rasa bersalah, hingga gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang.

Mungkin bagi sebagian Mommies yang membaca ini, ada luka yang pernah atau sedang dirasakan.

Dan saya harus hidup dengan semua itu.

Cheating is not a one-time mistake; it’s a choice that can become a habit if you’re not careful.

Cover: Freepik