
Hubungan suami istri yang mulai terasa dingin bukan berarti ada yang salah. Tak selalu soal seks, ini cara sederhana mengembalikan keintiman dalam pernikahan.
Banyak pasangan suami istri yang sudah menikah bertahun-tahun, masih saling cinta dan sayang tapi merasa sudah nggak hangat lagi. Tuntutan pekerjaan yang tak ada habisnya, urusan anak yang menguras energi, hingga tekanan finansial perlahan memadamkan percikan api yang dulu menyala. Alih-alih merasa seperti pasangan romantis, mereka justru merasa seperti “teman sekamar” yang hanya berbagi tagihan dan jadwal jemput anak.
Ada miskonsepsi umum bahwa keintiman atau intimacy hanya didefinisikan oleh aktivitas seksual. Akhirnya, ketika intensitas hubungan badan berkurang, hubungan dianggap “rusak”. Padahal, keintiman mencakup hal yang lebih luas: kedekatan emosional, rasa aman, dan koneksi batin yang dalam.
Kuncinya adalah tetap memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap pasangan kita,” terang Esther Perel, seorang psikoterapis, pembicara, penulis, dan pembawa acara Where Should We Begin? dan How’s Work?
BACA JUGA: Kenapa banyak perempuan kehilangan diri setelah menikah?

Membangkitkan kembali keintiman hubungan suami istri tidak harus dengan membuat perubahan-perubahan drastis. Tindakan-tindakan kecil juga bisa lho membuat perbedaan besar.
Luangkan 5-10 menit setiap hari untuk koneksi yang disengaja. Alih-alih bertanya “Sudah makan?”, cobalah pertanyaan yang lebih dalam seperti: “Ada hal bikin kamu stres hari ini, Sayang?” atau “Apa yang bikin kamu Bahagia hari ini?”.
Anggap ini sebagai “rapat rutin hubungan” yang dibalut kencan. Bisa sambil jalan pagi atau sekadar minum kopi di teras saat anak-anak sudah tidur. Fokusnya bukan membahas logistik rumah tangga, tapi berbagi apresiasi dan kebutuhan emosional masing-masing.

Tentukan area atau waktu bebas teknologi, misalnya saat makan malam, di dalam kamar tidur, atau 30 menit pertama setelah pulang kerja. Hadir secara penuh tanpa distraksi layar adalah bentuk penghormatan tertinggi pada pasangan.
Sentuhan fisik melepaskan hormon oksitosin yang menurunkan stres. Menurut Dr. John Gottman, pakar hubungan ternama, tindakan sederhana seperti berpelukan selama 20 detik, berpegangan tangan, atau sekadar menyentuh bahu saat berpapasan dapat memperkuat rasa aman dan kehangatan dalam hubungan.
Micro-dates bisa berupa minum kopi bareng di pagi hari, mendengarkan siniar bersama saat di mobil, atau memasak makan malam sebagai tim. Investasi kecil yang rutin ini akan menumpuk menjadi tabungan emosional yang besar.
Banyak pasangan kehilangan hobi yang dulu mereka nikmati bersama karena sibuk. Cobalah cari satu hal baru atau lakukan kembali hobi lama. Melakukan aktivitas baru bersama dapat merangsang dopamin yang meningkatkan kepuasan dalam hubungan.
Cara kita menangani konflik adalah investasi keintiman. Jadwalkan pembicaraan sulit saat emosi sedang stabil, gunakan validasi, dan jangan ragu untuk melakukan “perbaikan” (repair attempt) jika suasana memanas.

Ingatlah bahwa kita adalah pasangan terlebih dahulu sebelum menjadi orang tua. Hubungan pernikahan adalah jantung dari sistem keluarga. Menjaga jantung ini tetap kuat akan menguntungkan semua orang, termasuk anak-anak.
Jangan terlalu serius! Cobalah melakukan hal konyol, dance-off di ruang tamu, atau saling melempar candaan internal. Playfulness meredakan kecemasan dan membuat hubungan terasa segar kembali seperti masa pacaran.
Jika hambatan emosional terasa terlalu berat atau komunikasi selalu buntu, jangan ragu mencari bantuan profesional. Terapi pasangan atau sesi konsultasi dapat membantu menavigasi hambatan yang menghalangi Mommies dan pasangan untuk kembali terhubung.
Itu dia tips untuk mengembalikan lagi keintiman hubungan suami istri yang bisa Mommies terapkan. Semoga hubungan kalian bisa kembali membara dan penuh cinta.
BACA JUGA: 8 Cara Bertengkar dengan Sehat dalam Pernikahan, biar Makin Sayang!
Cover: Mommies Daily