Sorry, we couldn't find any article matching ''

Kenapa Banyak Perempuan Merasa “Kehilangan Diri” Setelah Menikah?
Sebenarnya ketika perempuan merasa kehilangan diri setelah menikah adalah yang wajar. Namun perlu juga diketahui sebab musababnya.
Pernah nggak, sih, setelah menikah, lalu punya anak, Mommies tiba-tiba tersadar, ternyata sudah lama banget, ya, nggak melakukan hal yang dulu Mommies suka? Bukan karena dilarang, bukan juga karena nggak bahagia, tapi entah bagaimana, waktu seakan habis untuk mengurus rumah, bekerja, bersama pasangan, atau anak. Mana waktu untuk diri itu?
Pelan-pelan, ambisi atau mimpi pribadi jadi jarang muncul, hobi tak lagi pernah Mommies lakukan, dan pelan tapi pasti, Mommies lebih sering dikenal sebagai “istrinya siapa” atau “mamanya siapa” dibanding nama sendiri. Perasaan seperti ini ternyata cukup umum terjadi. Dalam banyak kasus, ini bukan soal salah memilih pasangan, melainkan proses penyesuaian diri yang begitu besar sampai-sampai kita lupa mengecek: aku sendiri masih ada di mana, ya?
Pernikahan adalah transisi Identitas
Dalam psikologi perkembangan, pernikahan termasuk major life transition yang mengubah konsep diri seseorang. Sebuah penelitian “Journal of Personality” menunjukkan bahwa masa awal pernikahan merupakan fase identity consolidation, yaitu proses ketika seseorang menanamkan dirinya pada peran baru sebagai pasangan hidup dan anggota keluarga baru. Pada fase ini, individu sering menyesuaikan nilai, prioritas, dan perilaku agar sesuai dengan peran pernikahan.
Yang jadi masalah adalah ketika penyesuaian yang dilakukan ternyata sangat memengaruhi bahkan pelan-pelan memudarkan identitas lama, minat pribadi, tujuan hidup, atau bahkan kebiasaan individu kita, Mommies. Ini nggak cuma berlaku buat perempuan saja, ya. Pria pun mengalaminya.
Identitas perempuan lebih mudah melebur
Nah, masalahnya, berdasarkan riset psikologi sosial di Frontiers in Psychology, secara historis dan budaya, identitas perempuan itu yang paling mudah melebur. Kenapa? Ya, karena sering diasosiasikan dengan pasangan atau keluarga setelah menikah, bahkan tercermin dari praktik perubahan nama keluarga. Contohnya saja, ketika Mommies menikah, beberapa teman atau kerabat bisa jadi memanggil Mommies dengan “Bu Andri” misalnya, sesuai dengan nama suami. Nggak pernah dengar kebalikannya, kan?
Tradisi ini berakar pada sistem sosial yang menempatkan identitas perempuan sebagai bagian dari identitas suami, bukan individu yang berdiri sendiri. Inilah yang kemudian secara psikologis, dapat memicu kondisi identity merging, yaitu ketika batas antara “aku” dan “kita” menjadi kabur.
Perubahan peran memicu role overload (kelelahan peran)
Fenomena role overload adalah kondisi ketika seseorang menjalankan terlalu banyak peran sekaligus. Ya, kita ini, Mommies. Dalam pernikahan kita berperan sebagai pasangan, pengelola rumah tangga, ibu (jika memiliki anak), hingga pekerja (apakah itu karyawan ataupun wiraswasta).
Sebuah penelitian relationship psychology menunjukkan bahwa tekanan peran domestik dan ekspektasi gender memang masih lebih besar dialami perempuan, sehingga energi mental lebih banyak terserap untuk memenuhi kebutuhan orang lain dibanding kebutuhan diri sendiri. Dampaknya, perempuan merasa hidupnya dipenuhi tanggung jawab, tetapi kehilangan ruang personal. Sampai sini pasti udah pada relate, nih.
Diri sendiri tidak lagi jadi prioritas
Mommies merasa nggak, kalau di suatu waktu pernah merasa berhenti mengeksplorasi potensi diri karena sudah terlanjur “mengunci” diri pada satu peran sosial tertentu?
Setelah menikah, sebagian besar perempuan tanpa sadar menunda mimpi pribadi, berhenti mencoba hal baru, atau bahkan lebih memprioritaskan tujuan pasangan atau keluarga. Ini yang menyebabkan munculnya perasaan stagnan atau kehilangan arah hidup.
Yang perlu disadari, ternyata kehilangan diri itu nggak selalu disebabkan tekanan eksternal, lho. Bisa juga dari internal, dari diri sendiri. Tekanan untuk menjadi istri yang baik, ibu yang selalu siaga, menantu yang siap sedia. Itu semua yang membuat perempuan setelah menikah, kemudian merasa kehilangan dirinya.
Bahayanya, jika ini diteruskan, dalam jangka panjang, pengabaian kebutuhan diri dapat menurunkan self-concept clarity (kejelasan identitas diri), yang berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis.
Pada akhirnya, merasa sedikit “kehilangan diri” setelah menikah adalah hal yang wajar. Jangan pula dipersepsi sebagai tanda bahwa seseorang gagal menjalani peran barunya. Justru kesadaran akan perasaan itu bisa menjadi pengingat bahwa setiap kita, tetap membutuhkan ruang untuk tumbuh sebagai individu. Pernikahan yang sehat seharusnya memberi tempat bagi kedua pasangan untuk saling mendukung, tanpa membuat keduanya kehilangan diri. Nggak ada salahnya, kok, sesekali kita kembali menengok hal-hal yang dulu membuat kita merasa hidup, karena merawat diri sendiri juga bagian dari merawat hubungan.
Cover photo by Envato
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS