
Jangan diguyur air, ya, Mommies. Ada banyak cara untuk mengatasi anak susah bangun sahur. Cek alasan dan cara mengatasinya di sini.
Masuk bulan Ramadhan, tantangan buat ibu-ibu makin bertambah. Selain memikirkan menu sahur dan berbuka yang bergizi seimbang, ada juga hal menantang lainnya, yaitu membangunkan anak sahur.
Dulu, jaman anak-anak masih usia SD, saya sempat merasakan hal yang sama. Memang, sih, yang namanya bangun sahur, terutama untuk anak-anak di usia 5-9 tahun, cukup membuat mereka kesulitan. Ada yang sulit dibangunkan, ada yang sudah bangun tapi rewel, bahkan ada yang kembali tertidur sebelum makan. Dalam kasus saya, anaknya sambil ngunyah, sambil merem. Canggih nggak, tuh? Hahaha…
Kondisi ini sebenarnya wajar, karena tubuh anak belum sepenuhnya terbiasa dengan perubahan ritme selama bulan puasa.
Kita tahu, kalau tubuh manusia bekerja mengikuti ritme sirkadian. Anak yang biasanya tidur pukul 20.00–21.00 dan bangun pukul 06.00 keesokan harinya, tentu akan “kaget” ketika harus bangun pukul 03.30–04.00. Tubuhnya masih berada di fase tidur dalam (deep sleep), sehingga lebih sulit dibangunkan.
Cara membangunkannya adalah dengan melakukannya pelan-pelan. Alih-alih membangunkan anak dengan terburu-buru atau mengguncang-guncangkan badannya, Mommies bisa mencoba dengan menyalakan lampu terlebih dahulu. Kalau dulu, saya suka usap-usap punggung anak-anak perlahan, belai kepalanya, pokoknya dengan sentuhan yang lembut. Kadang-kadang saya cium juga pipinya. Bagaimanapun saya usahakan transisi dari tidur menuju bangun itu tetap nyaman bagi anak.
Baca juga: 30 Ide Menu Sahur yang Mudah dan Cepat, Bergizi Pula
Nah, ini yang mesti Mommies waspadai. Terkadang anak jadi ikut tidur larut (misalnya ikut tarawih atau bermain setelah berbuka), sehingga sulit dibangunkan di jam sahur. Anak usia sekolah idealnya membutuhkan 9–11 jam tidur per hari. Kurang tidur membuat anak lebih sulit bangun dan cenderung rewel.
Cara mengatasinya adalah dengan mengusahakan anak tidur 30–60 menit lebih awal dari biasanya, selama bulan Ramadhan. Saya sempat membatasi aktivitas malam yang terlalu stimulating buat mereka. Boleh saja kalau Mommies mau mengajak anak sholat Tarawih di masjid, tapi usahakan sampai di rumah langsung tidur.
Anak yang sedang growth spurt biasanya membutuhkan tidur lebih banyak. Saat tubuh sedang aktif bertumbuh, rasa kantuk bisa lebih dominan.
Cara mengatasi susah bangun tidurnya, bisa dengan mengakali menambah jam tidur di waktu siang sedikit lebih lama.
Untuk anak yang baru belajar puasa, sahur bisa terasa seperti “gangguan” terhadap rutinitasnya. Jika belum memahami tujuan puasa, ia mungkin merasa tidak termotivasi untuk bangun.
Cara mengatasinya adalah dengan memberinya pengertian akan makna sahur sesungguhnya. Jelaskan padanya kenapa sahur penting. Kaitkan dengan nilai ibadah dan juga manfaatnya bagi tubuh agar kuat beraktivitas.
Baca juga: Asupan Makanan Penambah Energi Saat Puasa
Ada juga, lho, anak-anak yang begini. Meski menu sahurnya sama dengan menu sehari-hari ia tetap menolak untuk makan.
Cara mengatasinya adalah dengan mencoba menyiapkan menu favoritnya. Anak lebih termotivasi bangun jika tahu ada makanan yang ia suka. Kalau anak-anak saya dulu suka makanan yang berkuah. Jadi menu sop ayam, sup daging, atau soto sering jadi menu favorit saat sahur.
Untuk anak-anak di usia yang masih belum wajib berpuasa, tak perlu terlalu menetapkan standar tinggi, ya, Mommies. Jika suatu hari anak benar-benar sulit bangun dan belum kuat berpuasa penuh, itu bukan kegagalan. Proses adaptasi memang bertahap. Yang penting Mommies konsisten dan mengajarkan tentang berpuasa dengan nyaman.
Cover photo by Freepik