Sorry, we couldn't find any article matching ''

Stop Lakukan 10 Hal Ini Jika Tak Ingin Memelihara Budaya Patriarki di Keluarga
Untuk memutus stigma budaya patriarki perlu dimulai dari masing-masing keluarga di rumah dengan menerapkan hal-hal non patriarki paling sederhana.
Belakangan, isu patriarki naik daun lagi. Di media sosial banyak yang angkat bicara mengenai isu ini. Kalau dilihat-lihat sekilas, di balik hangatnya topik ini dibahas oleh berbagai kalangan, ada kesan marah, protes, dirugikan dan tidak puas oleh sistem patriarki ini. Kira-kira, ujungnya akan ke mana?
Mari kita pahami lebih dalam tentang patriarki agar keluarga kita tak tumbuh menjadi keluarga yang patriarki.
Apa Itu Patriarki?
Secara sederhana, budaya patriarki diartikan sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai figur otoritas utama atau pemegang kekuasaan utama dalam organisasi sosial. Manifestasinya, laki-laki jadi dianggap superior, lebih kuat, memiliki hak-hak istimewa di dalam menjalankan perannya, terutama di dalam rumah tangga, dibanding perempuan.
Contoh sederhana terjadi di dalam pembagian peran di dalam rumah tangga. Sejak zaman lampau, ketika masyarakat Indonesia masih menganut sistem kekerabatan yang bersifat patrilineal atau garis keturunan laki-laki, laki-laki didapuk untuk mencari nafkah, sementara perempuan bertugas di rumah untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga.
Sadar atau tidak, akhirnya sistem ini menjadi sistem yang dibakukan di masyarakat secara turun temurun, generasi ke generasi, zaman ke zaman, terlepas dari kesetaraan gender yang sudah diupayakan.
Dampak Budaya Patriarki yang Dianggap Merugikan Laki-laki dan Perempuan
Budaya patriarki yang menganggap laki-laki lebih superior dan lebih kuat akhirnya menganggap kaum perempuan sebagai kaum lemah. Di beberapa keluarga, pembatasan peran dan peluang bagi perempuan hingga terjadinya diskriminasi, masih terjadi. Inilah mengapa kesetaraan gender masih terus digaungkan.

Foto: Ibu bekerja, Freepik
Tapi apakah kaum laki-laki lantas diuntungkan dengan adanya budaya patriarki yang seakan pro kaum pria? Ternyata nggak juga, lho. Bagi laki-laki, budaya ini juga bisa menjadi momok yang mengganggu. Karena dianggap superior tadi, tercipta tuntutan sosial bahwa laki-laki itu harus kuat, harus ”lebih” dari perempuan. Kalau seorang suami pekerjaan atau gajinya di bawah istri, harga dirinya bisa terganggu; atau dianggap gagal.
Belum lagi tuntutan tidak boleh cengeng dan harus selalu berada di garda depan untuk melindungi keluarga. Padahal laki-laki nggak selamanya sekuat itu. Mereka juga ada kalanya rapuh, dan itu manusiawi!
Baca juga: Peran Ayah dalam Membentuk Anak Hebat: Secara Emosional, Sosial, dan Rohani
Jadi, Bagaimana Menyikapi Budaya Patriarki Secara Sehat?
Menghilangkan budaya patriarki yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu bukan perkara mudah. Rasa-rasanya, budaya patriarki sudah ada sejak dunia dijadikan, deh. Mau dihapus? Hmm, kalau mau membesarkan satu anak saja butuh upaya holistik dari warga satu kampung, bagaimana mau mengubah sistem yang sudah mendarah daging?
Bukan, bukan pesimis. Saya yakin budaya patriarki ini dapat dimaknai dan diimplementasikan secara kodrati dan adil bagi kaum laki-laki dan perempuan.
Bukankah sekarang sudah banyak peluang terbuka bagi perempuan? Bukankah sekarang banyak pasangan di mana perempuan memilih untuk nggak masuk dapur, dan suami yang memasak karena memang hobi, dan mereka santai aja, tuh. Lalu, dewasa ini, ada juga beberapa keluarga yang menyepakati peran suami istri di rumah di mana sang istri sebagai pencari nafkah, lalu sang suami memutuskan menjadi bapak rumah tangga yang mengurus urusan domestik dan merawat anak kala istri bekerja.

Foto: Ayah mengasuh anak, Freepik
Pada situasi-situasi tersebut, perlahan patriarki mulai terkikis. Artinya, untuk mengikis patriarki, perlu dimulai dari keluarga kecil dulu. Bagaimana nilai-nilai keluarga yang dianut yang tentunya, kesepakatan-kesepakatan yang dibuat, dan pola asuh yang diterapkan kepada anak-anak, yang tentunya non patriarki.
Hal yang perlu diantisipasi saat kita hidup di budaya yang sudah terlanjur patriarki ini yaitu, mengupayakan agar tidak ada penyalahgunaan peran bagi laki-laki maupun perempuan. Jangan sampai, anggapan superioritas pada laki-laki lantas menindas perempuan. Misalnya membatasi hak-hak perempuan untuk bertumbuh, bersuara dan memandang perempuan sebagai figur pelengkap semata. Urusan perempuan kini tak lagi hanya di sumur, dapur dan kasur. Perempuan yang berdaya bisa turut membesarkan bangsa dan generasinya!
Sebaliknya, jangan juga lantas perempuan mengatasnamakan patriarki kemudian menjadi serba bergantung pada pria, menolak berdaya dan mandiri.
10 Perilaku Patriarki yang Masih Diterapkan di Keluarga
Jadi, apabila ingin memutus rantai patriarki, mulailah berhenti melakukan hal-hal berikut di rumah.
- Mengajarkan tugas rumah tangga hanya kepada anak perempuan, dan memberikan hak istimewa untuk anak laki-laki tidak mengerjakannya.
- Mengklasifikasikan mainan untuk anak berbasis gender. Anak laki-laki dilarang main boneka, anak perempuan diberi mainan masak-masakan. Berikan mainan edukatif sesuai kebutuhan anak guna mengasah keterampilannya, bukan berdasarkan gender.
- Melarang anak laki-laki untuk menangis, tak boleh cengeng, harus kuat. Anak laki-laki boleh banget mengekspresikan perasaanya layaknya anak perempuan.
- Menjalankan fungsi pengasuhan anak di rumah yang dititikberatkan pada ibu. Ayah diberi hak istimewa buat absen ngurusin anak karena sudah lelah bekerja? Ini perilaku yang tanpa disadari sedang memelihara budaya patriarki di keluarga.
- Ibu mengambil seluruh tugas rumah tangga karena menganggap sudah tugasnya. Jadi semacam, over initiative. Nggak ada makanan? Sebentar ibu masakin. Baju belum diseterika? Sebentar ibu seterikain. Kok rumah ngeres, Bu? Sebentar ibu sapuin. Hati-hati, terkadang kita nggak sadar bahwa kita sendiri yang mempertajam sistem patriarki di rumah. Terkadang sesederhana atas dasar: ”Ahh si ayah atau si abang nggak bersih mencuci piring. Sini ibu aja!”
- Mengatakan kepada suami: ”Ya, kan, cari uang udah tugasmu! Tugasku kan di rumah ngurusin anak-anak di rumah dan rumah tangga,’ atau suami yang mengatakan yang sebaliknya kepada sang istri.
- Menerapkan stereotip gender dalam pendidikan dan pekerjaan. Misalnya, mengarahkan anak perempuan untuk menjadi guru, suster, psikolog, ahli gizi, sementara anak laki-laki diarahkan untuk menjadi pilot, praktisi teknologi, dokter, pengacara, hakim, dan seterusnya. Arahkan dan ajarkan kepada anak, bahwa profesi apapun dapat dilakukan oleh jenis kelamin apapun.
- Meledek anak laki-laki ketika mengungkapkan perasaannya, misalnya: ”Yailaaa gitu aja ngambek!” dan melabel anak perempuan dengan ”sensitif”.
- Berkata: ”Dek, anak perempuan nggak boleh duduk tak sopan begitu!” Seolah anak laki-laki boleh?
- Mendorong anak laki-laki untuk kuat (maskulin) dan anak perempuan harus santun (feminin).
Baca juga: 7 Alasan Anak Tidak Dekat dengan Ayah, Bisa Alami Fatherless hingga Daddy Issue
Cover: Image by freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS