
Kalau anak nggak suka belajar, jangan-jangan ada peran kesalahan orang tua di dalamnya. Apakah komunikasi, motivasi, atau hukuman?
Seringkali orang tua, tuh, mengeluh kalau anaknya malas belajar. Padahal tanpa disadari, ada beberapa sikap dan pendekatan orang tua di rumah, yang justru jadi pemicu anak nggak suka belajar.
Memang, sih, yang namanya orangtua, kita pasti punya niat baik, ya, kan? Biar anak terus berkembang. Tapi, ngaku, deh. Siapa di sini yang sering overthinking, kalau niat baik itu suka diiringi dengan kecemasan? Takut kalau anak tertinggal pelajaran, takut kalau nilai ulangannya jelek, sehingga ujung-ujungnya berubah menjadi tekanan. Tekanan inilah yang kemudian diturunkan ke anak, membuat proses belajar terasa tidak menyenangkan.
Menurut Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., berikut beberapa kesalahan orangtua yang tanpa disadari, malah bikin anak jadi nggak suka belajar.
Kecemasan membuat orang tua jadi kurang sabar, gampang frustrasi, dan menyebabkan kemarahan ketika anak nggak langsung paham apa yang diajarkan. Belajar pun berubah menjadi kewajiban yang harus dilakukan tanpa anak benar-benar memahami alasannya. Anak hanya tahu ia harus belajar, mengerjakan PR, atau membaca, tanpa pernah diajak memahami kenapa hal itu penting. Akibatnya, kecintaan terhadap proses belajar tidak pernah tumbuh.
Tekanan nilai, target akademik, hukuman, atau perbandingan dengan anak lain memang bisa mendorong anak belajar, tetapi sayangnya, itu hanya bersifat sementara. Motivasi ini kemudian disebut dengan motivasi ekstrinsik. Artinya anak belajar karena takut dimarahi atau dibandingkan.
Nah, yang jauh lebih bertahan lama adalah motivasi intrinsik, yaitu dorongan dari dalam diri anak untuk belajar karena rasa ingin tahu dan kepuasan pribadi. Jika sejak kecil anak mengenal belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan dan membanggakan, keinginan belajar ini bisa bertahan hingga dewasa.
Baca juga: Dana Pendidikan Anak, Kapan Harus Disiapkan?
Jelas pola komunikasi atau cara mengarahkan orang tua saat belajar itu memengaruhi minat belajar mereka. Cara orang tua membingkai belajar, apakah itu sebagai sesuatu yang menakutkan atau netral dan menyenangkan, akan terekam kuat di benak anak.
Ada baiknya orang tua juga ikut menunjukkan bahwa orang tua juga nggak berhenti belajar, lho. Misalnya, nih, ketika belajar bersama, orang tua mengajak anak untuk menggali informasi bersama, “Kira cari sama-sama, yuk, jawabannya.” Dengan begitu anak melihat bahwa belajar adalah bagian dari kehidupan, bukan hukuman. Sebaliknya, kata-kata yang menjatuhkan, menghakimi, atau memberi label negatif seperti “bodoh” justru membuat anak merasa tidak mampu dan kehilangan kepercayaan diri. “Ngapain juga aku belajar, kan, bodoh,” demikian pemikiran anak jadinya.
Mendorong anak untuk mengembangkan dirinya sebenarnya boleh-boleh saja, sih, Mommies. Tetapi dorongan tersebut juga perlu realistis, lho. Misalnya saja, kita tahu anak mampu melakukan suatu hal, satu tingkat di atas kemampuan anak saat ini. Nah, itu yang kita support.
Bukannya kemampuan yang terlalu jauh. Target yang masuk akal membantu anak merasakan keberhasilan kecil, yang kemudian memupuk rasa percaya diri dan semangat untuk mencoba lagi. Apalagi kemudian secara ekspresif Mommies mengungkapkan apresiasi terhadap usahanya,
Jadwal belajar dan les yang terlalu padat juga bisa menjadi pemicu anak kehilangan minat belajar. Meski tidak bisa dipungkiri, ada saja anak yang menikmati tantangan. Namun pada dasarnya setiap anak tetap membutuhkan waktu tidak terstruktur, yaitu waktu untuk istirahat, bermain, dan mengeksplorasi minatnya tanpa aturan. Kegiatan les yang penuh aturan perlu diimbangi dengan ruang bebas agar kreativitas anak berkembang dan ia tidak merasa hidupnya hanya diisi tuntutan.
Baca juga: Rekomendasi Psikolog Pendidikan di Jawa Barat Lengkap dengan Biaya Konseling
Orang tua perlu peka terhadap sinyal-sinyal berikut:
Jika keluhan fisik muncul berulang pada pelajaran tertentu, ini bisa menjadi tanda adanya tekanan emosional yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Lantas kalau sudah terlanjur bagaimana? Apakah ada yang bisa diperbaiki? Tentu saja. Langkah pertama adalah menumbuhkan motivasi internal anak. Anak perlu tahu alasan ia belajar. Mommies bisa mengaitkannya dengan cita-cita, nilai agama, atau keseruan menemukan hal baru. Untuk anak usia kecil, pembelajaran bisa dikaitkan dengan minatnya, misalnya berhitung lewat mainan favorit atau membaca lewat cerita yang ia sukai.
Kita sebagai orang tua juga perlu mengelola emosi diri sendiri saat mendampingi anak belajar. Menarik napas, bersabar, dan mengulang penjelasan berkali-kali jauh lebih efektif daripada marah-marah. Pengalaman emosional inilah yang paling kuat terekam dalam ingatan anak. Jujur kalau saya, sih, cari guru les yang lebih sabar aja, deh.
Terakhir, apresiasi usaha, bukan hanya hasil. Alih-alih memuji nilai bagus semata, hargai fokus, ketekunan, dan inisiatif anak. Dengan begitu, anak belajar bahwa proses sama berharganya dengan hasil, dan ia tidak mudah patah semangat saat menghadapi kesulitan.
Belajar seharusnya menjadi perjalanan yang menyenangkan dan ingatlah bahwa orang tua memegang peran besar dalam menentukan bagaimana anak memaknainya.
Cover photo by Freepik