
Refleksi mahasiswi S3 di luar negeri tentang PhD, pengasuhan, beban emosional, dan pentingnya ruang aman sebagai strategi bertahan hidup di dunia akademik.
“Aku besok mau CoC tapi anakku umur 9 bulan tidak ada yang nungguin”.
Saya membaca pesan ini malam hari di awal tahun 2023 di sebuah grup Whatsapp besar warga Canberra. Apabila saat menjadi mahasiswa S1 kita mengenal ‘sidang proposal skripsi’, maka Confirmation of Candidature (CoC) adalah gerbang utamanya di sini. Ini adalah momen sakral ketika mahasiswa mempresentasikan rencana studi doktoralnya di hadapan panel supervisi dan pakar. Sulit membayangkan seorang mahasiswa—yang kebetulan seorang ibu—mempresentasikan kerangka teoritis rumit sambil kebingungan siapa yang akan menjaga bayinya.
Bandingkan dengan mahasiswa asal Australia atau negara Barat pada umumnya. Jalur mereka seringkali linear: lulus S1, tambah setahun honors, lalu lanjut S3. Tidak heran jika rata-rata doktor lokal usianya relatif muda. Saya teringat rekan-rekan Australia saya yang mempersiapkan CoC tanpa beban domestik yang berarti, dan begitu presentasi usai, langsung merayakannya di bar.
Sementara bagi mahasiswa dari Global South—terutama perempuan Indonesia—ceritanya sangat berbeda. Beban domestik seperti pengasuhan anak dan anggota keluarga menjadi “semburat warna permanen” dalam keseharian kami. Tidak mudah bergantung pada beasiswa yang angkanya setara UMR terendah, sambil harus mengumpulkan data, menganalisis temuan, hingga menguasai teori dengan segala tanggung jawab sosial yang melekat.
Ada sebagian yang membagi waktu menjadi tutor demi uang tambahan, namun ini pun bukan kerja ringan. Di sinilah titik rapuh itu sering muncul. Ketika tenggat waktu akademik bertabrakan dengan realitas domestik, crash atau kelelahan mental menjadi tak terelakkan.
Tentu, tugas fisik seperti memasak atau antar-jemput bisa dibagi dengan suami. Namun, ada “ruang emosional” yang seringkali tersisa hanya untuk ibu. Balita sakit yang hanya ingin digendong ibunya, atau anak perempuan beranjak remaja yang butuh teman bicara saat menstruasi pertama—momen-momen ini tidak bisa dijadwalkan. Bahkan bagi mereka yang lajang, tanggung jawab hadir dalam bentuk lain: mengkoordinasikan perawatan orang tua yang menua dari jarak jauh. Di situlah kecemasan (anxiety) memuncak: rasa bersalah karena tidak bisa 100% hadir untuk keluarga, sekaligus ketakutan tertinggal dalam balapan akademik. Apa justifikasinya meninggalkan keluarga demi gelar di negeri orang?
Momen-momen seperti ini menjadikan perempuan membutuhkan “ruang aman”. Studi PhD adalah kerja yang mengisolasi; tanpa suara lain sebagai penyeimbang, dialog dengan diri sendiri bisa berubah menjadi ruang yang mencekam dan klaustrofobik.

Namun, perempuan Global South memiliki keunggulan tersembunyi. Kami adalah mereka yang terlatih menghadapi birokrasi inkompeten dan sistem yang tidak ideal di tanah air. Daya lenting (resilience) kami berbeda. Alih-alih mengisolasi diri, mahasiswa S3 perempuan Indonesia memilih membangun ruang aman bagi sesamanya.
Ruang aman ini mengubah dialog batin yang mencekam tadi menjadi percakapan komunal yang melegakan. Di sini, validasi diberikan tanpa syarat. Seorang perempuan bisa mengaku, “Hari ini saya gagal menulis satu kalimat pun karena anak demam,” dan ia tidak akan dihakimi, melainkan diafirmasi bahwa ia tetap peneliti yang berharga.
Solidaritas ini melampaui sekadar curhat; ini adalah strategi bertahan hidup (survival strategy) yang kami bawa dari rumah. Kami mereplikasi konsep “kampung” di tengah dinginnya iklim akademik global. Jika satu orang jatuh atau terserang imposter syndrome, yang lain tidak membiarkannya tenggelam. Kami saling mengingatkan bahwa ketangguhan bukan lahir dari kerja tanpa henti, tapi tahu kapan harus berhenti sejenak untuk menengok kanan-kiri.
Di perantauan, semangat saling merawat ini hadir dalam bentuk yang paling konkret: cara kami saling menjaga agar tetap waras dan bertahan. Kami mungkin “kalah muda” dibanding mahasiswa lokal, dan mungkin sampai di garis akhir dengan langkah yang lebih pelan dan napas yang lebih berat. Namun, kami tiba dengan membawa serta seluruh “kampung halaman” di punggung kami, mulai dari nilai, kebiasaan, dan etika merawat yang kami pelajari sejak lama.
Solidaritas ini menjadi pengingat bahwa merawat bukanlah kelemahan yang menghambat karier, melainkan infrastruktur sosial yang memungkinkan kami terus berjalan. Di tengah dunia akademik yang kerap dingin dan individualistik, praktik saling menopang inilah yang membuat perjalanan doktoral tetap manusiawi. Kami tidak sekadar mengejar gelar, tetapi membangun cara hidup yang memungkinkan kami tumbuh bersama, alih-alih saling tertinggal.
PS: Ingat ibu di awal tulisan yang kesulitan mencari orang untuk menunggui bayinya saat sidang? Akhirnya, sesama mahasiswi PhD turun tangan mengasuh si bayi, mengajaknya berkeliling kampus sampai ibunya usai mempresentasikan proposalnya. Hari ini, si bayi sudah bisa berlari, dan sang ibu dalam waktu dekat akan menyelesaikan tesisnya. Hore!
BACA JUGA: 7 Tips Pilih Jurusan S2 untuk Kuliah di Dalam dan Luar Negeri, Catat!
Ditulis oleh: Gita Putri Damayana
Cover: Pexels