
Selain barang kebutuhan bayi, bicarakan hal-hal penting dibawah ini dengan pasangan saat baru menikah dan langsung hamil, agar persiapan lebih matang!
Idealnya, pasangan baru menikah punya waktu untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai suami istri, juga menikmati waktu bersama pasangan berdua atau honeymoon phase sebelum menambah peran baru sebagai orang tua. Namun ada juga pasangan baru menikah yang langsung hamil sehingga sebelum sempat membuat persiapan. Mungkin ada rasa cemas, karena sesuatu yang besar akan datang.
BACA JUGA: Awal Pernikahan Tak Selalu Manis: 7 Hal Ini Sering jadi Sumber Konflik

Simak obrolan Mommies Daily dengan Psikolog Klinis Fania Kusharyani, M.Psi., Psikolog, tentang beberapa hal yang perlu dibahas untuk pasangan yang baru menikah dan langsung hamil, supaya persiapannya semakin matang!
Baru menikah dan langsung hamil, kadang-kadang bikin pasutri panik dan langsung bikin persiapan teknis tanpa sempat mencerna, merasakan dan menerima berbagai perasaan seperti kaget, bingung, nervous yang mungkin bercampur senang atau excited. Wajar banget, ya, untuk merasakan semuanya. Ambil waktu untuk duduk bareng pasangan, dan bicarakan perasaan satu sama lain.
Hal itu penting agar suami istri bisa saling memahami dan mendukung satu sama lain, serta untuk menjaga kesehatan hubungan berdua
Sebagai pasangan baru menikah, tentu perlu untuk tetap meluangkan waktu buat quality time bareng di tengah kesibukan. Hal ini perlu dibahas bareng suami terutama saat langsung hamil setelah menikah, agar jangan sampai pasangan kehilangan koneksi dan “sparks”.
“Sparks” sebelum adanya anggota baru di dalam keluarga ini penting untuk terus dijaga agar saat sang bayi lahir, quality time berdua pun tetap akan diusahakan bersama. Atur waktu dan bikin jadwal untuk hang out, misalnya dengan makan bareng, nonton bioskop, staycation di hotel, atau sekedar nonton Netflix bareng di rumah. Pastikan kegiatan bareng suami aman buat calon ibu dan bayi, ya.
Bagi pasangan yang baru menikah dan langsung hamil, tidak mudah dengan beragam adaptasi yang perlu dibuat, juga perubahan hormonal yang bisa bikin emosi calon ibu tambah fluktuatif. Hal ini perlu dibahas terbuka, karena butuh komitmen suami untuk beradaptasi dengan perubahan. Misalnya mengatur waktu untuk cek rutin ke dokter misalnya dan memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan pasangan.
Bicarakan dengan pasangan tentang kalkulasi biaya yang diperlukan untuk proses kehamilan, melahirkan, dan juga urusan bayi. Jika menggunakan asuransi swasta, cek limit biaya berobat jalan, karena kehamilan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari biaya pemeriksaan rutin dokter, termasuk biaya USG, fetomaternal dan sebagainya. Jika tidak punya asuransi khusus Maternity yang meng-cover biaya kelahiran, bisa mulai sisihkan pendapatan rutin atau buat tabungan khusus sejak dini.
Bahas dengan pasangan soal dokter kandungan yang akan mendampingi dan membantu proses kehamilan dan kelahiran anak. Cek juga biaya RS dan jarak dari tempat tinggal ke faskes tersebut. Penting untuk mendapatkan dokter kandungan yang cocok, nyaman, dan bisa diajak diskusi.
Jadi, jangan ragu untuk mencoba dokter lain jika merasa kurang pas dengan dokter saat ini, agar pasangan suami istri lebih tenang dan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Bahas juga soal pembagian tugas rumah tangga bersama pasangan, karena ibu hamil punya limitasi tenaga dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Jika pasangan sama-sama sibuk dan ada budget lebih, bisa dipertimbangkan mencari asisten rumah tangga, alih-alih membebankan semuanya ke istri yang sedang hamil.
Hal ini juga perlu dibicarakan untuk pasangan yang baru menikah dan langsung hamil. Misalnya saat pasutri tinggal berdua saja, apakah ada yang perlu menemani selama proses kehamilan hingga melahirkan dan mengasuh bayi? Perlukah untuk tinggal sementara dengan orang tua, minta tolong orang tua untuk tinggal bersama sementara, atau mencari support system lain? Jika serumah dengan orang tua atau mertua, perlu juga berdiskusi dengan pasangan mengenai arrangement yang perlu dibuat terkait kehamilan.
Penting untuk berbagi tugas dan bekerjasama dalam pengurusan anak. Karena selain untuk mendapatkan dukungan yang diperlukan istri, tujuannya juga agar anak mendapatkan figur ayah sedari dini yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak yang optimal.
Bahas juga topik pengasuhan anak, seperti pandangan suami istri tentang cara mendisiplinkan anak, screen time, ataupun pengalaman pengasuhan terdahulu, yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bersama. Bisa juga ajak suami sama-sama belajar dengan mengikuti kelas parenting, membaca buku, cek postingan sosial media yang relatable, atau nonton tayangan seputar parenting bersama.
Bicarakan juga tentang penyesuaian lain yang perlu dibuat saat pasangan baru nikah dan langsung hamil, misalnya transportasi saat istri keluar rumah, yang biasanya naik kendaraan umum mungkin perlu diatur ulang, terutama saat istri hamil trimester pertama yang masih rentan. Bisa juga bahas bersama pasangan mengenai rencana yang perlu diubah atau ditunda, karena penyesuaian budget dan skala prioritas, misalnya rencana sekolah lagi, pindah kerja dan sebagainya. Tentunya mimpi pasangan suami istri masih bisa diraih, hanya perlu penyesuaian waktu dan keadaan.
BACA JUGA: Dulu Pacaran Romantis, Setelah Menikah kok ‘Beda’? Ini Kata Psikolog!
Untuk pasangan baru menikah yang langsung hamil, mungkin semuanya terasa terburu-buru dan kurang persiapan, tetapi dengan diskusi terbuka bersama pasangan, maka akan terasa lebih ringan karena semuanya ditanggung dan dihadapi berdua.
Cover: Pexels