
Fenomena childfree dan childless bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dipahami agar bisa saling menghargai dengan empati dan toleransi.
Sejak zaman dahulu, adalah wajar jika pasangan ingin memiliki memiliki anak setelah menikah. Bahkan bagi kebanyakan pasangan, memiliki anak sangat diharapkan. Selain untuk untuk melanjutkan garis keturunan, memiliki anak membuat kehidupan keluarga dirasa lengkap. Oleh karena itu, tak sedikit pasangan menikah yang melakukan berbagai upaya demi hadirnya sang buah hati di keluarga.
Namun seiring berkembangnya zaman, pemikiran tersebut ikut mengalami pergeseran. Tak semua pasangan menikah berprinsip sama tentang anak. Anak kini tak lagi sebuah kemutlakan dalam pernikahan. Bahkan, beberapa di antaranya dengan lantang mengikrarkan untuk tidak memiliki anak alias memilih childfree. Alasannya beragam, mulai dari kondisi medis, kesiapan mental hingga nilai hidup. Sayangnya, pemahaman ini sering memicu pro dan kontra.
Childfree adalah sebuah keputusan sadar dari seorang individu maupun pasangan untuk tidak memiliki anak atas pertimbangan-pertimbangan tertentu. Berdasarkan pandangan psikolog dan berbagai studi, pada umumnya keputusan tidak memiliki anak didasari oleh beberapa pertimbangan berikut:
Baca juga: 50 Pertanyaan yang Perlu Didiskusikan Bersama Pasangan Sebelum Punya Anak
Tak semua pasangan yang tidak memiliki anak didasari atas keputusan sendiri. Beberapa karena kondisi yang di luar kendalinya. Misalnya infertilitas, kondisi medis yang memengaruhi kesuburan, atau penyakit atau kondisi psikologis tertentu yang membuatnya tidak memungkinkan untuk bereproduksi maupun merawat anak. Kondisi ini disebut childless.
Hingga saat ini, childfree masih ramai diperbincangkan. Masih ada stigma negatif yang menempel pada orang yang membuat pilihan ini, terutama perempuan. Mereka acap dibilang egois, hanya ingin memikirkan diri sendiri.
Namun di sisi lain, semakin banyak figur publik yang terbuka untuk membahas perihal hal ini dan memberikan pandangan yang lebih luas untuk membuka cakrawala masyarakat tentang childfree.
Sesungguhnya, childfree dan childless bukanlah sebuah penolakan terhadap keberlanjutan kehidupan, melainkan respon jujur atas kondisi, nilai dan kapasitas masing-masing pasangan. Ini pilihan personal, bukan untuk dihakimi. Masyarakat perlu untuk belajar bersikap netral dan empatik terhadap perbedaan prinsip dan nilai-nilai perihal memiliki anak. Kondisi seperti mengajak kita untuk saling menghormati, memberi ruang untuk tak sepaham, tanpa mengkritik.
Baca juga: Parenting Reset: Apa yang Perlu Dipertahankan dan Dilepas di Tahun Baru
Cover: Image by freepik