
Childfree bukan berarti anti anak, tetapi pilihan individu atau pasangan yang sudah melalui pertimbangan matang. Cek juga bedanya dengan childless.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah childfree semakin sering muncul dalam obrolan sehari-hari, media sosial, hingga artikel gaya hidup. Pilihan hidup ini kerap memantik diskusi panjang, mulai dari soal kesiapan mental, finansial, tekanan sosial, dan seterusnya.
Padahal, bagi sebagian orang, keputusan untuk tidak memiliki anak justru lahir dari refleksi yang matang tentang apa yang mereka inginkan dalam hidup. Bisakah mereka bahagia tanpa anak? Bisa. Sebaliknya, pasangan yang memiliki anak pun hidupnya juga bahagia.
Jika Mommies dan Daddies berencana untuk childfree, nggak usah khawatir, di luar sana banyak juga yang serupa, kok. Kalau dicari mungkin saja ada komunitasnya, jadi bisa lebih saling memahami dan banyak belajar dari sesama pasangan yang memilih childfree.
BACA JUGA: 13 Tanda Kamu Siap Punya Anak: secara Emosional dan Finansial

Jennifer Watling Neal dan Zachary Neal, Profesor Psikologi Sosial di Michigan State University sekaligus pasutri, melakukan penelitian yang mempelajari tentang kelompok orang-orang yang memilih childfree. Apa itu childfree, kenapa mereka memilih tidak punya anak, stigma yang dihadapi mereka, apakah mereka bertahan dengan keputusan itu atau tidak, dan sebagainya.
Dikutip dari laman American Psychological Association (APA) melalui podcast Speaking of Psychology, childfree adalah istilah untuk orang dewasa yang tidak punya anak dan secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak. Jadi, mereka berbeda dengan orang-orang yang—saat ini—tidak punya anak dan berencana punya anak di masa depan.
Dari penelitian Jennifer dan Zachary, sebanyak 20–25% orang dewasa di negara bagian Michigan, Amerika Serikat memilih childfree. Kelompok ini memang tidak punya anak dan tidak berencana memiliki anak di masa mendatang.
Lantas, apa bedanya childfree dan childless? Meski terdengar mirip, kedua istilah ini punya makna yang berbeda. Jika childfree merujuk pada kondisi tidak memiliki anak karena sadar, childless justru menggambarkan kondisi tidak memiliki anak bukan karena pilihan. Artinya, mereka adalah orang-orang ingin punya anak tetapi tidak bisa karena faktor tertentu, seperti masalah kesehatan atau situasi hidupnya.
BACA JUGA: “Kapan Punya Anak?”, Ini 5 Cara Menjawabnya dengan Tenang

Menurut Jennifer, studi di luar sana sudah banyak yang mengungkapkan alasan kenapa beberapa orang memilih childfree, dan mereka memberikan spektrum yang luas. Beberapa contohnya seperti beban finansial yang tinggi, karier dan kebebasan jadi terbatas, risiko medis, perubahan iklim, dan masih banyak lagi.
Kalau kita susun ke bawah kira-kira seperti ini alasan kenapa beberapa orang memilih childfree:
Yasmin Latif, seperti dilansir dari laman The Guardian, mengungkapkan bahwa hidupnya bahagia-bahagia saja meski tidak punya anak. Ia menyukai anak-anak, tetapi berbeda halnya kalau punya anak sendiri, justru ia enggan. Meski begitu, pengalamannya dengan anak-anak sejauh ini kebanyakan positif. Ia menjadi ibu baptis bagi 6 anak dari berbagai agama dan 14 keponakan yang sangat ia sayangi.

Apakah hidup kita bahagia atau tidak—dengan atau tanpa anak—sebenarnya bukan orang lain yang memutuskan. Perihal bahagia, setiap orang punya hak untuk menentukan kebahagiaannya masing-masing. Jika pasangan memilih tidak punya anak dan hidupnya tetap bahagia, nggak masalah. Jika pasangan memilih punya anak dan hidupnya bahagia juga nggak masalah.
Jennifer Watling Neal juga mengungkapkan pada penelitiannya bahwa orang childfree pada dasarnya nggak berbeda jauh dari kelompok lain, dengan kata lain sama-sama bahagia. Tingkat kepuasan hidup mereka sama baiknya dengan orang tua yang punya anak.
Pasangan yang memilih childfree memang tidak ada keinginan untuk punya anak, tetapi bukan berarti mereka anti. Mereka masih bisa menjadi wali, paman, bibi, tante, atau om yang keren dan menyenangkan bagi anak-anak teman atau saudara mereka.
Individu atau pasangan yang memilih childfree pasti akan selalu diikuti oleh macam-macam pertanyaan tentang alasan mengambil keputusan itu. Memangnya nggak khawatir nanti tua nggak ada yang urus? Anak, kan, sumber keberkahan? Yakin nanti nggak menyesal? Yakin nanti nggak berubah pikiran? Dan sekian pertanyaan lainnya yang bikin telinga panas. Belum lagi kalau keluarga tidak bisa menerima keputusan itu dengan baik.
Intinya, keputusan childfree adalah pilihan hidup tiap individu atau pasangan dan tidak seharusnya dipandang sebelah mata, justru layak dihormati. Alih-alih menghakimi atau memaksakan standar hidup yang seragam, yang lebih penting adalah membangun sikap saling menghargai terhadap pilihan hidup yang berbeda.
BACA JUGA: 7 Alasan Peran Ayah Penting sejak Anak Masih di Kandungan
Penulis: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: jcomp/Freepik