Sorry, we couldn't find any article matching ''

Malu tapi Penting: Obrolan Seks yang Perlu Dibahas Calon Pengantin & Pengantin Baru
Calon pengantin perlu memulai obrolan soal seks? Ini manfaat membicarakannya beserta 15 topik yang penting untuk dibahas. Bisa jadi panduan, nih!
Jujur aja, deh, bagi beberapa orang ngobrol soal seks sebelum atau setelah menikah itu sering terasa canggung. Apalagi untuk calon pengantin atau pengantin baru yang masih dalam fase penyesuaian. Ada yang mikir, “Nanti juga ngalir sendiri.” Ada juga yang merasa malu, takut menyinggung, atau khawatir dianggap terlalu “agresif”. Padahal, diskusi soal seks justru penting dibicarakan sejak baru merencanakan pernikahan.
Sebelum menikah, kita tentu ingin mengenal pasangan sedalam mungkin. Bukan hanya kebiasaan sehari-hari atau sifat dan karakternya, tapi juga bagaimana pandangannya tentang keintiman dan seksualitas. Seberapa penting seks baginya? Seberapa sering dia menginginkannya? Apa batasan yang tidak bisa ditawar, dan apa yang masih bisa dieksplorasi bersama?
Percakapan tentang kebutuhan dan keinginan seksual ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memperkuat koneksi emosional dan fisik dalam pernikahan. Tanpa obrolan terbuka, banyak pasangan justru menyimpan asumsi yang keliru dan berujung pada kekecewaan diam-diam.
BACA JUGA: Basic Life Skill yang Perlu Dikuasai Pasangan Baru Sebelum Punya Anak
Kenapa Obrolan Seks Penting di Awal Pernikahan?

Foto: Freepik
Di masa awal pernikahan, segalanya memang terasa manis. Ada euforia, ada rasa lega “akhirnya sah”, dan hormon bahagia ikut bermain. Terapis seks dan konselor pernikahan Pat Love, Ed.D., menjelaskan bahwa kegembiraan menikah memberi pasangan lonjakan dopamin (zat kimia otak yang memicu rasa senang sekaligus meningkatkan gairah seksual).
“Selama beberapa bulan setelah menikah, segalanya bisa terasa sangat menggairahkan,” kata Love. Namun, ia juga mengingatkan bahwa seiring waktu, kadar dopamin akan kembali ke level normal. Pasangan kembali ke rutinitas nyata, kerja, stres, tanggung jawab rumah tangga dan ekspektasi tentang seks dalam pernikahan mulai muncul ke permukaan.
Di fase inilah, menurut Love, pasangan justru berada di waktu yang tepat untuk memperdalam ikatan seksual mereka. Bukan lagi soal euforia, tapi soal komunikasi, kejujuran, dan kedekatan emosional.
Senada dengan itu, Barry McCarthy, Ph.D., profesor psikologi dari American University di Washington, D.C., menekankan bahwa tantangan pasangan menikah adalah menjaga keseimbangan antara rasa aman dan keintiman dengan unsur spontanitas dan erotisme. Saat hubungan seksual sehat, seks berperan sekitar 15–20 persen dalam menjaga energi pernikahan. Namun, saat bermasalah, seks bisa memberi dampak negatif yang sangat besar, terutama pada pernikahan yang masih baru.
Manfaat Membicarakan Seks bagi Pengantin Baru & Calon Pengantin
Diskusi soal seksualitas bukan cuma soal teknik atau frekuensi. Ini tentang rasa aman, dihargai, dan dipahami. Berikut manfaat dari obrolan seks yang terbuka:
- Membangun fondasi kuat
Komunikasi terbuka membantu pasangan menyelaraskan harapan, batasan, dan kebutuhan masing-masing sejak awal. - Meningkatkan kualitas hubungan intim
Dengan membicarakan seks, pasangan bisa menghindari kesalahpahaman dan menciptakan pengalaman yang lebih memuaskan. - Menumbuhkan kepercayaan dan keintiman emosional
Kejujuran soal seks membuat pasangan merasa lebih dekat dan aman secara emosional. - Membantu mengatasi kekhawatiran dan keinginan yang terpendam
Banyak konflik muncul bukan karena masalah besar, tapi karena hal-hal kecil yang tak pernah dibicarakan.
15 Obrolan Tentang Seks yang Perlu Didiskusikan oleh Pengantin Baru

Foto: Freepik
Agar tidak hanya jadi teori, berikut topik obrolan seks penting yang sebaiknya dibicarakan secara terbuka oleh pengantin baru maupun calon pengantin:
1. Seberapa penting seks dalam hubungan?
Bagi sebagian orang, seks adalah bentuk utama ekspresi cinta dan kedekatan. Bagi yang lain, seks mungkin tidak terlalu dominan. Memahami posisi tentang seks dalam hubungan masing-masing membantu pasangan menentukan ekspektasi yang realistis dan saling menghargai.
2. Seberapa sering ingin berhubungan seks?
Di awal hubungan, seks sering terjadi spontan. Namun setelah menikah, perbedaan ritme dan kesibukan bisa membuat frekuensi menurun. Membicarakan preferensi ini membantu pasangan mencari titik tengah tanpa saling menyalahkan.
3. Perbedaan gairah seksual
Love menekankan bahwa perbedaan libido adalah hal yang sangat normal. Itu biasanya akan kelihatan setelah pernikahan berjalan beberapa waktu apalagi 2/3 perempuan nggak memikirkan seks sepanjang waktu. Mayoritas perempuan baru merasa bergairah setelah terjadi foreplay ringan. Memahami hal ini membantu suami melakukan pendekatan yang lembut, bukan memaksa.
4. Hasrat seksual bisa berubah seiring waktu
Libido bukan sesuatu yang statis. Faktor hormon, stres, kesehatan, dan fase kehidupan bisa memengaruhi hasrat. Dengan komunikasi terbuka, perubahan ini tidak perlu menjadi sumber konflik.
5. Menghormati batasan masing-masing
Setiap orang punya batasan yang perlu dihormati. Diskusi tentang apa yang nyaman dan tidak nyaman menciptakan ruang aman, sehingga keintiman tetap terasa positif dan menyenangkan.
6. Riwayat tes penyakit menular seksual
Topik ini memang sensitif, tapi sangat penting. Kejujuran tentang kesehatan seksual adalah bentuk tanggung jawab dan kepedulian terhadap pasangan dan keturunan kita kelak.
7. Hal yang paling membangkitkan gairah
Mengetahui apa yang disukai pasangan membantu menciptakan pengalaman intim yang lebih memuaskan. Ini juga membuka peluang eksplorasi yang sehat dan saling disepakati.
8. Preferensi foreplay
Bagi banyak orang, foreplay bukan pelengkap, melainkan kebutuhan utama. Diskusi tentang jenis sentuhan, suasana, dan ritme membantu pasangan lebih sinkron.
9. Hal yang paling tidak disukai
Turn-off sama pentingnya dengan turn-on. Mengetahui apa yang tidak disukai pasangan bisa mencegah momen canggung dan rasa tidak nyaman.
10. Peran dalam hubungan seksual
Sebagian orang suka memimpin, sementara yang lain lebih nyaman mengikuti arahan. Membicarakan peran ini membuka dinamika yang lebih seimbang dan memuaskan.
11. Pandangan tentang sex toys
Kehadiran sex toys masih dianggap tabu oleh sebagian pasangan meskipun beberapa pasangan yang lain merasa sex toys bisa membantu eksplorasi dan kepuasan seksual, terutama bagi yang sulit mencapai orgasme.
12. Pandangan tentang kontrasepsi
Diskusi ini mencakup kesiapan memiliki anak, pilihan kontrasepsi, hingga kenyamanan masing-masing pasangan terhadap metode kontrasepsi tertentu.
13. Dampak kehadiran anak pada kehidupan seks
Kehadiran anak hampir pasti mengubah dinamika seks. Membicarakannya sejak awal membantu pasangan menyesuaikan ekspektasi dan mencari solusi bersama.
14. Fokus pada kenikmatan, bukan orgasme semata
McCarthy menekankan pentingnya eksplorasi dan sentuhan tanpa tekanan orgasme. Kedekatan emosional tetap bisa terjaga, bahkan saat seks tidak selalu terjadi.
15. Jangan menjadikan seks sebagai alat tawar-menawar
Menahan seks saat marah hanya akan menambah jarak emosional. Komunikasi terbuka jauh lebih sehat daripada menggunakan seks sebagai senjata untuk menyakiti hati pasangan.
Jadi, Obrolan Tentang Seks Perlu atau Tidak?
Membicarakan seks memang tidak selalu nyaman, tetapi diam justru lebih berisiko. Obrolan seks membantu pasangan mengenal satu sama lain secara utuh. Bukan sekadar sebagai suami-istri, tapi sebagai dua individu dengan kebutuhan dan batasan yang sama-sama valid.
Kalau terasa canggung, mulailah pelan-pelan. Pilih waktu santai, gunakan bahasa yang jujur dan hangat, dan ingat: tujuan diskusi ini bukan mencari siapa yang kebutuhannya paling harus dipenuhi, tapi membangun hubungan yang sehat dan saling memuaskan.
BACA JUGA: Kost Khusus Pasutri Area Jabodetabek
Cover: Freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS