Sorry, we couldn't find any article matching ''

Basic Life Skill yang Perlu Dikuasai Pasangan Baru Sebelum Punya Anak
Bahkan dari sebelum menikah, sebaiknya basic life skill berikut ini sudah dikuasai oleh pasangan wanita dan pria, sehingga saat membangun sebuah keluarga, hal-hal yang mendasar sudah dipahami bersama.
Menikah itu bukan hanya sekadar menyatukan dua pribadi menjadi suami dan istri dengan cinta sebagai landasannya. Namun ada satu hal mendasar yang efeknya besar terhadap kehidupan mereka ke depan, yakni soal kesiapan untuk hidup bersama dan berkeluarga. Selain nilai-niali yang dianut saat masih menjadi bagian dari keluarga masing-masing, ada juga basic life skill yang kemudian dibawa menjadi bagian dari kebiasaan yang dibentuk dalam dalam rumah tangga yang baru. Sehingga kemudian, penting untuk kita bahas mengenai apa saja basic life skill (kemampuan) yang perlu kita sebagai calon orang tua kuasai, karena nantinya kita akan meneruskan skill ini pada anak.
Kemampuan mengelola emosi
Hal ini seharusnya sudah terlihat bahkan dari tahap paling awal ketika menjalin hubungan asmara, satu sama lain. Kemampuan mengelola emosi ini juga biasanya terlihat saat merencanakan pernikahan, saat meminta restu orang tua, bahkan saat kedua belah pihak saling jujur terhadap masa lalu dan kehidupan masing-masing, sebelum sama-sama bertekad untuk membangun keluarga.
Kemampuan berkomunikasi yang jelas
Meski kebiasaan berbicara seseorang biasanya berbeda antara satu generasi dengan generasi lain. Namun, saat membina sebuah hubungan, tentu kemampuan untuk berkomunikasi yang jelas (tahu kapan dan dengan siapa harus bicara dengan sopan, dan kapan bisa bicara santai) merupakan hal yang mutlak, karena inilah juga yang akan menentukan masa depan dari keluarga yang akan dibina.
Kemampuan untuk mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memaafkan
Kalau tiga hal ini sudah sering dilewati selama pacaran, seharusnya saat menikah, ini bukanlah isu besar. Yang penting sama-sama paham bahwa untuk bisa melakukan ketiganya, seseorang perlu yang namanya kebesaran hati.
Kemampuan menyelesaikan konflik
Kita harus selalu paham bahwa konflik terjadi karena ada pemicunya. Salah satu yang paling saya ingat dari buku 8 Rules of Love, adalah ketika sang penulis, Jay Shetty, mengingatkan pentingnya menempatkan “masalah” sebagai si pemicu konflik dalam posisi yang seharusnya. Bukan Anda vs pasangan sebagai masalah, tetapi Anda dan pasangan vs masalah, artinya Anda berdualah yang berjuang menghadapi masalah/konflik tersebut.
Baca juga: Relationship Audit, Cara Cerdas Mencegah Hal Kecil Mengikis Pernikahan
Empati dan saling memahami
Kemampuan ini sudah kita latih sejak kecil, tinggal kita asah terus dalam kehidupan kita berumah tangga. Karena ketika Anda memilih pasangan yang sekarang, artinya Anda harus siap untuk tidak berhenti berempati dan saling memahami pasangan, seumur hidup, sampai maut saja yang memisahkan.
Kemampuan mengelola uang dan konsep menabung
Dari kecil sebetulnya kita juga sudah mengenal istilah menabung. Bahkan ketika merencanakan pernikahan pun, mayoritas pasangan di Indonesia yang berstatus ekonomi sosial B dan C tentu memerlukan pengelolaan uang untuk bisa mewujudkan pernikahan sesuai harapan. Maka mengelola uang merupakan syarat agar bisa terus bertahan dalam kehidupan seperti sekarang ini.
Kemampuan menahan diri
Hal ini lazimnya merupakan kebiasaan yang dianut sejak kecil, lewat didikan orang tua yang menerapkan bahwa keinginan untuk memiliki barang tertentu perlu diwujudkan lewat usaha. Dari pola pengasuhan tersebut, kita juga belajar untuk bisa menahan diri, tidak kalap saat menggunakan uang. Maka hal ini tentu tidak akan sulit buat kita dan pasangan jalani. Karena kelak, kita juga pasti akan menurunkan nilai ini pada anak.
Masak sederhana
Mengingat masakan khas Indonesia mayoritas memang cukup sulit, maka setidaknya kita harus bisa masak sederhana, seperti masak nasi, mi instan, menggoreng telur, bikin nasi goreng, bahkan sup sayur. Kemampuan untuk masak juga sebaiknya tidak dibebankan hanya pada istri saja. Yuk, normalisasi menghabiskan waktu di dapur bareng pasangan. Sehingga ketika nanti punya anak, Ayah maupun Ibu bisa diandalkan untuk menyediakan makanan sehari-hari.
Beres-beres rumah, menyapu, mengepel, menyeterika
Kecuali kita adalah bagian dari keluarga kerajaan yang sehari-harinya tidak perlu menyentuh pekerjaan rumah. Seberapa berat dan membosankannya house chores, tidak ada pilihan lain selain kita melakukannya. Karena semua yang kita lakukan, kelak akan anak tiru.
Manajemen waktu
Ngaret mungkin merupakan kebiasaan umum, apalagi kalau negara kita sendiri juga masih menganut “jam karet”. Namun, balik lagi tanyakan hal ini pada diri sendiri, “Maukah kita menunggu lama? Bila kita tidak mau, maka pastikan kita tidak membuat orang lain mengalaminya.” Waktu adalah uang, bila kita tidak bisa mengaturnya dengan bijak, maka kita akan kehilangan banyak kesempatan.
Hidup mandiri (tidak bergantung orang lain)
Sejatinya, semua orang bisa keliling dunia tanpa harus mengemudikan pesawat. Hidup mandiri adalah kunci untuk kita bisa terus menjalani kehidupan ini. Meski pasangan dan anak adalah bagian dari hidup kita, belum tentu mereka akan selalu berada di samping kita.
Kerja sama dan pembagian peran
Keluarga yang sehat adalah keluarga yang bisa selalu bekerja sama dan berbagi peran. Mungkin ibu hanya bisa masak, tidak bisa menyetir. Atau sebaliknya, ayah tidak mahir di dapur, tapi rela mengantar keluarga kapanpun dibutuhkan. Pembagian peran tidak selalu bisa sama rata di semua rumah tangga. Yang penting, ada kesepakatan dari keluarga yang menjalaninya.
Menjaga pola hidup sehat
Ini adalah kemampuan plus tanggung jawab yang bisa kita berikan terhadap diri sendiri dan orang terdekat kita. Banyak pasangan muda yang kini mengubah pola pikirnya, yang tadinya “rela mati demi orang yang dicintai”, menjadi “rela hidup sehat dan umur panjang, demi orang yang dicintai.”
Mengukur diri, paham akan riwayat kesehatan diri sendiri
Sadar diri bila kita memiliki penyakit tertentu atau ada riwayat kesehatan yang perlu terus kita follow-up, ini juga merupakan tanggung jawab kita terhadap diri sendiri dan keluarga kita.
Peduli dengan kesehatan mental
Tambah lagi hal yang perlu dinormalisasi, yaitu konsultasi ke psikolog tentang apa yang sedang kita alami. Kesehatan mental memiliki arti yang besar, apalagi kalau kelak kita akan membangun keluarga yang lebih besar. Ibaratnya, kalau kita belum selesai dengan diri sendiri, bagaimana kita bisa melanjutkan hidup bersama orang lain?
Kemampuan untuk bisa sepakat soal nilai maupun prinsip hidup
Sudah punya nilai yang dibawa dari masa kecil masaing-masing, sekarang tinggal disepakati mana yang mau dibawa ke keluarga baru Anda.
Kalau semua sudah Anda dan pasangan miliki, jangan lupa kuncinya, yakni kemampuan untuk selalu mau belajar, beradaptasi, dan menyesuaikan diri.
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS