Seiring waktu, kebutuhan karyawan di tempat kerja mengalami perubahan. Salah satunya untuk tetap sehat secara mental. Perlukah konseling psikolog di kantor?
Salah satu aspek penting yang semakin disadari oleh perusahaan sebagai salah satu kebutuhan pekerja adalah kesehatan mental mereka. Banyak perusahaan kini mempertimbangkan untuk menyediakan layanan konseling dengan psikolog di kantor guna membantu karyawan mengatasi stres kerja dan berbagai tantangan emosional lainnya.
Namun, benarkah layanan ini diperlukan oleh semua perusahaan? Jika memang diperlukan, haruskah sebuah perusahaan secara khusus meng-hire Psikolog? Mari kita cari tahu!
Psikolog atau terapis karyawan adalah profesional yang memiliki kualifikasi dalam memberikan dukungan dan bimbingan bagi individu yang mengalami masalah emosional, psikologis, atau perilaku. Mereka menggunakan empati serta teknik khusus untuk membantu karyawan memahami akar permasalahan dan menemukan cara mengatasinya saat sesi konsultasi. Selain itu, terapi juga bisa menjadi wadah bagi individu untuk berkembang, mengeksplorasi nilai-nilai pribadi, dan memperkuat kepercayaan diri.
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Pelatihan Virtual Assistant, Harga Mulai Rp190 Ribuan
Walaupun tidak semua perusahaan wajib memiliki psikolog di kantor, keberadaan Psikolog untuk memberikan konseling bisa memberikan manfaat besar, terutama di lingkungan kerja yang memiliki tingkat stres tinggi. Berikut beberapa alasan mengapa perusahaan perlu mempertimbangkan layanan ini:
Dengan adanya layanan psikolog di kantor, karyawan dapat mengakses bantuan kesehatan mental tanpa harus keluar dari lingkungan kerja. Ini dapat mengurangi kesulitan dan hambatan saat mereka membutuhkan dan perlu mencari bantuan profesional.
Deteksi dini dan penanganan cepat atas masalah kesehatan mental dapat mencegah dampak yang lebih besar terhadap produktivitas dan performa kerja karyawan.
Psikolog dapat memberikan strategi untuk mengelola stres, mengatasi konflik dengan rekan kerja, serta mencegah karyawan mengalami burnout.
Lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental dapat meningkatkan kepuasan dan loyalitas karyawan, sehingga mengurangi angka turnover di kantor.
Selain itu, adanya layanan konseling juga dapat meningkatkan rasa kebersamaan di dalam perusahaan. Ketika karyawan merasa bahwa perusahaan peduli terhadap kesejahteraan mental mereka, mereka cenderung lebih termotivasi dan produktif dalam bekerja.
Keputusan untuk menyediakan layanan konsultasi dengan psikolog di kantor harus mempertimbangkan beberapa faktor penting, antara lain:
Meskipun memiliki psikolog di kantor dapat memberikan manfaat, ada juga tantangan yang perlu diperhatikan. Berikut beberapa alasan mengapa perusahaan mungkin tidak perlu menyewa psikolog secara full-time:
Mempekerjakan satu atau dua psikolog saja mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua karyawan dengan latar belakang dan pengalaman berbeda.
Jika psikolog adalah bagian dari tim internal, ada risiko mereka terlibat dalam dinamika konflik kantor sehingga sulit bersikap objektif.
Psikolog mungkin kesulitan mendapatkan manfaat pekerjaan yang setara dengan karyawan lain karena mereka berada dalam posisi yang unik.
Kedekatan dengan psikolog di kantor bisa menjadi hambatan bagi karyawan yang ingin berbicara jujur tentang masalah mereka di tempat kerja.
Tidak semua karyawan akan merasa cocok dengan psikolog yang disediakan, karena terapi adalah proses personal yang memerlukan kecocokan antara klien dan terapis.
Menilai kinerja psikolog di tempat kerja bisa menjadi tantangan, karena peran mereka tidak dapat diukur berdasarkan produktivitas seperti halnya karyawan lain.
Ada risiko konflik kepentingan jika psikolog menangani beberapa klien dalam satu organisasi yang memiliki hubungan kerja satu sama lain.
Psikolog yang bekerja secara eksklusif di satu perusahaan mungkin kehilangan kesempatan untuk berkembang dan mendapatkan supervisi dari rekan sesama profesional.
Biasanya, psikolog memiliki rekan sejawat untuk berdiskusi dan mendapatkan supervisi dalam menjalankan terapi, yang mungkin sulit ditemukan dalam lingkungan kantor.
Terkadang, akar permasalahan kesehatan mental di tempat kerja berasal dari sistem dan budaya organisasi yang tidak sehat, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kehadiran psikolog.
Jika ada ketidaksesuaian antara karyawan dan psikolog, atau jika masalahnya membutuhkan spesialisasi lain, akan sulit bagi psikolog internal untuk merujuk karyawan ke pihak lain yang lebih sesuai.
Apa pendapat pakar? Menurut Dr. Arum Hidayat Etikariena, M.Psi., Psikolog, Psikolog Industri dan Organisasi, sebetulnya tidak mungkin semua perusahaan memiliki psikolog atau bahkan ilmuwan psikologi (mereka yang lulus S1-S2-S3 tapi bukan program profesi psikolog), karena jumlah lulusan psikolog terbatas dibandingkan kebutuhannya.
Memiliki layanan psikolog di kantor memang bisa memberikan banyak manfaat, tetapi bukan berarti itu adalah satu-satunya solusi untuk membantu terjaganya kesehatan mental karyawan. Perusahaan harus mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memutuskan apakah layanan ini benar-benar diperlukan di tempat kerja atau apakah ada cara lain yang lebih efektif dan efisien dari perusahaan untuk mendukung kesejahteraan mental karyawan.
Lalu, apa saran dari pakar? Sebagai alternatif, Psikolog Arum menyarankan:
BACA JUGA: Wacana 4 Hari Kerja di Jakarta, Dampak hingga Manfaat bag IBu Bekerja
Pada akhirnya, yang terpenting adalah menciptakan budaya kerja yang peduli terhadap kesehatan mental, baik dengan menyediakan layanan psikolog di kantor maupun dengan cara lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas perusahaan.
Cover: Alex Green on Pexels