Ario Pratomo: Pola Asuh Anak Juga Tanggung Jawab Ayah

MD Powerful People

Dhevita Wulandari・24 Jan 2024

detail-thumb

Kesibukan Ario Pratomo di pekerjaan bukan alasan yang bisa menghambatnya dalam menjadi sosok suami dan ayah yang ada untuk keluarga.

Sebagai podcaster dan content creator, Ario Pratomo punya caranya sendiri dalam memenuhi perannya yang lain yaitu sebagai suami dan ayah dari dua orang anak perempuan. Ia juga sering berbagi pengalaman dan cerita di media sosial mengenai relationship dan parenting. 

Mommies Daily mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Ario Pratomo. Simak selengkapnya, yuk!

Sebagai suami dan ayah bekerja, bagaimana cara Ario Pratomo membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga?

Alhamdulillah Aku punya privilege untuk bisa bawa kerjaan di rumah, ya. Jadi, rumahku yang baru ini memang sudah direncanakan dengan adanya kantor di rumah. Ada ruangan yang benar-benar untuk tempat kerja Aku dan tim. Jadi ketika anak pulang sekolah, Aku bisa ketemu anak sebentar untuk say hi, terus dia lanjut les dan main lagi sama aku di sorenya. Dan itu salah satu privilege yang Aku dapatkan.

Dengan ada kantor di rumah dan juga bagian dari memilih lapangan pekerjaan atau jenis pekerjaan, yang memang (bagiku) anak itu adalah bagian dari pekerjaan itu sendiri. Entah itu sebagai sumber konten, sumber inspirasi, atau cuma bagian dari bikin senang aja sehingga kerjaannya jadi beres.

Foto: Dok. Istimewa

Nah, itu semua menjadikan kids is part of the life. Jadi kalau orang bilang work life balance, bagiku sih work is life. Dan kebetulan my work is part of my life, udah jadi satu semuanya. Jadi bukan mencari kebebasan, antara misalnya udah jam segini harus udah selesai dari kantor, terus switch off completely and then focus on your family. Alhamdulillah, sekarang sih nggak begitu, bisa sama keluarga dan anak sambil kerja.

Tapi ada masanya, di saat lagi mengerjakan deadline dari klien atau projek di luar rumah, sehingga harus pulang malam. Atau mungkin beberapa kali Aku trip diundang brand keluar gitu misalnya, akibatnya nggak ketemu keluarga. Tapi di saat kayak gitu, Aku berusaha ngeluangin waktu yang kayak switch off completely dari pekerjaan dan seharian sama anak tanpa mikir pekerjaan, full without undervided intention demi anak-anak.

Kalau dari Aku, bikin keadaan pekerjaan yang menyesuaikan keadaan anak. Privilege or not, menurutku semua orang punya caranya sendiri.

BACA JUGA: 10 Cara Mendidik Anak Laki-laki agar Jadi Suami dan Ayah yang Bertanggung Jawab

Pola asuh seperti apa yang Ario Pratomo terapkan pada anak?

Aku nggak punya pakem sendiri bahwa Aku harus ngikutin pola asuhnya si A atau si B. Tapi Aku juga sempat belajar banyak dari Dr. Shefali yang membahas Consious Parenting. Misal ketika kita marah ke anak, kita berusaha mencari tahu sebenarnya kita tuh marah kenapa.

Apakah marah karena memang anaknya itu yang berbuat kesalahan yang memang karena dia, atau sebenarnya ada sesuatu di balik itu? Ada inner child kita yang belum selesai, atau lagi kesal sama istri. Sehingga, kadang-kadang anak sadar nggak sadar bisa menjadi “korban” dari penyebab Aku atau Nucha marah.

Kita (Ario dan istri) percaya kalau parenting itu berasal dari kata “parent”, bukan “anak”. Jadi itu semua berawal dari kitanya sendiri. Parenting itu berusaha dan sadar dulu kitanya tuh seperti apa. Karena Aku ingat banget kata-katanya Jay Shetty, “We parent our kids the way we want to parented“. Terkadang kita mengajarkan anak tentang sesuatu yang padahal sebenarnya kita yang pengen diajarkan itu saat kecil dulu.

Aku dekat dengan anakku sekarang adalah “teriakan” bahwa aku nggak dekat dengan bapakku dulu. Pernah ada masanya aku overprotective ke anak, padahal mungkin anaknya nggak mau diperlakukan seperti itu. Ada saat dan kondisi di mana dia harus mandiri juga, kan.

Jadi ini proses yang terus belajar. Aku masih berusaha menyadarkan diri sendiri, Aku sebenarnya gimana dan apakah anakku membutuhkan semua itu. Tapi ya itu kira-kira pola asuh yang diterapkan.

Foto: Instagram @sheggario

Menurut Ario Pratomo, apa tantangan menjadi seorang ayah di Indonesia?

Walaupun kesannya masih kurang, tapi menurutku sudah semakin banyak ayah-ayah yang sadar untuk ikut bertanggung jawab dalam pola asuh dan menjaga anak. Aku melihat ayah-ayah di sekitarku yang anaknya seumuran sama Ayra dan Syua, mereka mau kok main sama anaknya. Ini dasar penting yang bisa dilakuin bapak-bapak, yaitu bisa main dengan anak.

Tantangannya adalah stigma lama dari orang-orang sekitar. Tapi harusnya hal-hal seperti itu bisa diatasi dengan equality, khususnya woman equality dan woman empowerment. Aku lebih takut bahwa kalau laki-laki itu ditentukan dari hal-hal seperti apakah dia bisa menghasilkan banyak uang, sampai bagaimana pekerjaannya. Padahal, istrinya bisa jadi lebih bisa dan lebih jago dalam hal mencari uang, serta mungkin tidak membutuhkan the alpha male seperti standar banyak orang tentang bagaimana harusnya laki-laki itu.

Sehingga, balance menjadi hal yang penting untuk ada dan dibutuhkan pasangan suami istri dalam menumbuhkan sebuah keluarga. Tetap harus bicarakan, who is better at making money, who is better staying at home, we better doing this together or we should be separated in the industry?

Di keluargaku, nggak ada penentuan siapa kepala keluarganya. And so far it works for us. Jadi balik lagi, tantangan menjadi seorang ayah dimulai dengan menganggap pasangannya itu partner, tanpa mempedulikan di luar sana orang bicara apa.

Dunia seperti apa yang ingin Ario Pratomo harapkan untuk anak saat dewasa nanti?

Setiap generasi pasti akan berpikir bahwa kehidupan di depan tuh akan sulit, misalnya nanti susah cari kerja, dan lain-lain. Pekerjaan yang ada sekarang aja belum ada 10-20 tahun lalu. Siapa sangka juga sekarang aku jadi content creator. 

Dunia yang aku harapkan untuk anak-anakku saat dewasa nanti aku dan istriku mulai dari memasukkan mereka di sekolah yang bisa mengajarkan banyak hal berguna untuk masa depan. Aku harus bangun anakku untuk bisa kuat, mulai dari aspek adaptibility, resilience, curiosity, sampai collaborations. Aku berharap dia akan punya willingness to learn, unlearn, and re-learn.

Aku berharap juga anak-anakku bisa fokus ke dirinya sendiri dulu dan fokus pada apa yang bisa dia lakukan kedepannya. Karena, untuk mempedulikan dunia akan seperti apa, berarti harus kuat dulu fondasi dirinya.

Foto: Dok. Istimewa

Tips parenting Ario Pratomo?

Zaman sekarang sudah banyak media parenting, buku, expert dan marriage counsellor, yang bagus banget dan kita bisa belajar dari mereka. Kalau dari aku, tips parenting yang aku terapkan adalah lihat dulu ke relationship dengan pasangan. Relationship yang benar itu akan menghasilkan peran sebagai orang tua untuk belajar pola pengasuhan pada anak. Ke marriage counsellor juga penting, aku dan Nucha melakukannya setahun sekali.

Selain orang tua, jangan lupa, semua orang yang pernah mengasuh kita ketika kecil dulu juga berpengaruh pada pembentukan sifat diri kita dan pola asuh yang akan kita ciptakan untuk anak.

Jadi, cek dan diskusikan dengan pasangan apakah bisa saling belajar satu sama lain, saling sepakat untuk cara asuh ke anak, dan apa yang bisa dilakukan bersama untuk membesarkan anak. Karena, baik suami dan istri pasti punya sejarah masa kecil yang berbeda-beda. Kalau nggak mau belajar bareng-bareng antara suami dan istri untuk pola asuh anak, ya pasti akan susah.

BACA JUGA: Mengenal Tren Parenting Sittervising, Bikin Anak Lebih Mandiri

Cover: Instagram @sheggario