10 Bentuk Kasih Sayang yang Salah dari Orang Tua Terhadap Anak

Parenting & Kids

Sisca Christina・06 Feb 2023

detail-thumb

Berbagai bentuk kasih sayang orang tua juga bisa salah kalau dicurahkan dengan cara yang nggak bijaksana. Bukannya mendidik, malah bisa menjerumuskan.

Kalau semua orang tua aware dengan benar atau salahnya cara mereka menyayangi anak, tentu masalah parenting di dunia ini hampir selesai. Masalahnya, (tanpa bermaksud menghakimi para fellow parents di luar sana) banyak orang tua yang belum sadar bahwa bentuk kasih sayang yang mereka wujudkan terhadap anak bisa saja keliru.

Sebetulnya, logika dan naluri kita sebagai orang tua bisa memberi sinyal, lho, ketika kita menyayangi anak dengan cara yang salah. Selain itu, kita juga bisa lihat dari perilaku anak sebagai hasil atau dampak dari cara kita menyayangi anak. Misalnya, kalau kita suka membanjiri anak dengan hadiah, bisa saja perilakunya jadi materialistis.

Untuk memudahkan kita mengevaluasi diri, ini 10 bentuk kasih sayang yang salah dan seringkali dilakukan dari orang tua terhadap anak. Apa saja?

1. Membanjiri anak dengan hadiah

Naik kelas, beri hadiah. Hari raya, nggak usah ditanya. Membantu orang tua di rumah, kasih upah. Akibatnya, anak nggak bisa membedakan, antara momen yang memang wajar diberi hadiah, dan hal-hal yang sudah selayaknya ia kerjakan (tanggung jawab).

2. Menjustifikasi perbuatan anak dengan kalimat “namanya juga anak-anak”

Sudahlah memukul teman, masih aja ingin perbuatan anak dimaklumi, dengan dalih masih balita. Padahal, sayang dalam makna yang semestinya yaitu mencari tahu mengapa anak memukul, memvalidasi emosinya dan mengajarkan bagaimana mengelolanya.

3. Sayang anak = nempel dengan anak 24 jam

Siap-siap anak rewel jika berpisah sebentar saja. Atau diteleponin berkali-kali ketika orang tua memang harus banget keluar rumah untuk urusan genting. Anak jadi merasa nggak aman ketika jauh dari orang tua. Nempel terus bersama anak bagai materai 10 ribu nggak selalu jadi cara efektif untuk menunjukkan kita sayang kepada anak. Namun, ketika kita bisa mampu memberi pengertian dan rasa aman bahkan saat kita harus jauh dari anak, itu bisa membuat orang tua dan anak sama-sama tenang.

4. Terlalu protektif

Orang tua manapun nggak ada yang mau anaknya terluka, baik fisik maupun mental, terkena penyakit, berteman dengan anak lain bisa memberi pengaruh buruk, dan serentetan hal-hal lain yang kita anggap buruk. Namun jika orang tua terlalu protektif dan nggak mau anak sampai kena risiko apapun sedikit aja, resiliensi anak bisa jadi nggak terbangun.

5. Mengiyakan segala permintaan anak

Dengan maksud ingin anak bahagia, lupa mengajarkan kata “tidak”. Padahal nggak semua permintaan anak baik untuknya. Percayalah, ketika anak selalu diiyakan permintaannya, kelak besar, orang tua bakal kerepotan sendiri menghadapi anak yang kerap memberontak karena nggak sanggup menerima penolakan.

Baca juga: Tips Menghadapi Anak Ngeyel Selain Sabar

6. Otoriter dengan dalih: “ini semua kami lakukan karena kami sayang kamu”

Membentak anak habis-habisan saat berbuat salah lalu bilang: “Mama tegur kamu karena mama sayang kamu.”
Membebani anak dengan berbagai kegiatan yang menurut orang tua positif, dengan harapan anak jadi berprestasi, lalu bilang: “Ini semua kami lakukan demi kebaikan kamu.”
Ketika orang tua bertindak terlalu mengontrol, di sinilah bentuk kasih sayang orang tua diwujudkan dengan cara yang salah.

7. Meragukan kemampuan anak

Nggak selamanya anak balita balita terus. Anak pasti berkembang dan kemampuannya akan selalu naik level. Tapi saking sayangnya, kita selalu ingin melakukan segala sesuatunya untuk anak. Takut anak nggak mampu, takut anak kesulitan, takut anak nggak tahan, merasa kasihan, dan seterusnya. Bukannya anak semakin berkembang, malah bisa jadi mandek.

8. Selalu memberi kemudahan

Makan disediakan, PR dibantu kerjakan, ada masalah mama papa yang menyelesaikan. Akibatnya, anak jadi nggak ngerti apa itu tantangan, problem solving dan upaya.

9. Mengekspresikan rasa bangga berlebihan tentang anak

Setiap orang tua pasti punya rasa bangga terhadap anaknya. Salahnya di mana? Tentu nggak salah jika sesuai takaran. Jadi salah ketika orang tua mulai mengumbar segala prestasi dan kebaikan anak, sehingga anak menjadi tinggi hati dan merasa dirinya selalu lebih baik dari anak-anak lainnya.

10. Mendukung tapi nggak sadar sambil menuntut

“Wah oke, kamu dapat 90! Tapi menurut Papa, kamu bisa lho dapat nilai 100! Belajar lebih giat lagi, ya!”
“Bravooo, performancemu keren, nak. Tapi le bih keren lagi kalau kamu tadi nggak salah di nada X. Yuk, lebih rajin latihan.”
“Nggak apa-apa, sih, kalau kamu nggak ikut kompetisi tahun ini, tapi apa nggak sayang?”

Nggak nyangka ya, ternyata bentuk kasih sayang kita terhadap anak selama ini masih sering salah. Yuk, perbaiki.

Baca juga: Mengapa Kita Perlu Ajarkan Anak Berani Mengemukakan Pendapatnya? Ini Kata Psikolog

Follow us on Instagram