banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

Kenali 5 Tipe Kepribadian Yang Berpotensi Bikin Pernikahan Bermasalah, Nomor 2 Bikin Kesal!

author

Fannya Gita Alamanda19 Jan 2023

Kenali 5 Tipe Kepribadian Yang Berpotensi Bikin Pernikahan Bermasalah, Nomor 2 Bikin Kesal!

Jika Mommies atau pasangan termasuk dalam salah satu tipe kepribadian ini, kemungkinan besar konflik bakal menjadi makanan sehari-hari dalam pernikahan.

Bahkan pernikahan yang bahagia pun tidak bebas dari konflik. Sesungguhnya, konflik (dalam takaran yang sehat) sangat dibutuhkan karena memiliki peran yang sehat dan positif. Yes, konflik membantu Mommies dan pasangan bisa belajar menyelesaikan perbedaan pendapat, mengungkapkan perasaan, dan mencari solusi.

Sayangnya, ada orang-orang yang gagal mengelola perdebatan sehingga provokasi sekecil apa pun memicu ledakan amarah. Tipe kepribadian seperti ini mudah terpantik emosinya karena miskomunikasi kecil atau celetukan-celetukan yang tidak disengaja, sehingga hubungan mereka didominasi oleh perselisihan.

Seseorang dengan pola pikir yang berorientasi pada konflik cenderung melihat hanya ada dua pilihan selama pertengkaran berlangsung: menghindar atau cari menang. Alih-alih mengelola atau mengurangi konflik, mereka lebih suka berteriak, melempar barang, mendorong, memukul, berbohong, menceritakan aib, memberi silent treatment, dan pergi dari rumah untuk waktu yang lama.

“Pasangan dengan potensi konflik tinggi sering bergumul dengan pamer kekuasaan dan kendali,” jelas Nicole Arzt, seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi di Family Enthusiast. 

Fran Walfish, psikoterapis keluarga dan hubungan di Beverly Hills, penulis The Self-Aware Parent, bilang bahwa untuk memutus siklus konflik tinggi, masing-masing harus melakukan introspeksi diri yang sungguh-sungguh.

“Renungkan ​​​​dan perhatikan apakah kecemasan Anda meningkat ketika segala sesuatu tidak pada tempatnya, tidak seperti harapan atau tidak sesuai jadwal Anda. Jika Anda gemar mengontrol segala sesuatu, Anda mungkin perfeksionis,” kata Arzt.

Walfish menyarankan agar setiap orang yang berpasangan berlatih membiarkan kecemasan itu meningkat dan buat catatan seberapa jauh seseorang tersebut dapat menolerir, sebelum memutuskan untuk mengambil tindakan. “Cobalah pelan-pelan naikkan tingkat toleransi Anda ke titik maksimum Anda,” katanya. 

Ketika bicara soal hubungan, di mana konflik selalu ada, memahami dan menemukan cara untuk menangani apa yang memicu kemarahan dan frustrasi sangatlah penting. Apakah itu akan menyita waktu? Sangat. Apakah akan sulit? Ya. Tetapi jika upaya positif tidak dilakukan, semua yang terjadi di dalam hubungan Anda bakal memburuk.

BACA JUGA: Topik yang Biasa Jadi Obrolan Para Pasangan Bahagia

Si Dinding Batu

Seperti apa dia: Si Dinding Batu cenderung menutup diri selama perselisihan, menolak duduk bersama untuk menyelesaikan masalah bahkan berkomunikasi. “Cara ini ia lakukan sebagai bentuk pertahanan diri untuk mempertahankan ego dan menunjukkan kemarahannya,” jelas Walfish.

Hadapi dengan: Cara terbaik adalah tetap bersikap lembut. Tunjukkan empati dan kesabaran untuk menerobos sikap keras kepala dan penolakannya. Daripada balas marah-marah, beri tahu dia bahwa Anda memahami perasaannya.

“Utarakan dengan berempati bahwa Anda memahami perasaannya dan tawarkan untuk bicara lagi nanti setelah amarah mereda,” kata Walfish.
Membangun dinding pemisah sering menjadi alat yang digunakan seseorang ketika ia mulai kesal. Satu-satunya cara untuk menghindari ini adalah dengan tidak menabung rasa jengkel dan kebencian. Biasakan menyelesaikan masalah, bukan mendiamkannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Si gemar cari-cari kesalahan

Seperti apa dia: Ketika masalah muncul, yang pertama kali dilakukan bukan segera mencari solusi, tapi Anda atau pasangan Anda malah saling menyalahkan, mengkritik, bersikeras bahwa kesalahan sepenuhnya ada pada pihak yang satunya. “Tipe ini akan melindungi diri sendiri dengan mengalihkan tanggung jawab atas konflik,” kata Walfish.

Hadapi dengan: minta penjelasan dari pasangan Anda. Katakan kepadanya bahwa Anda ingin tahu apa yang telah Anda lakukan yang membuat ia kesal, tetapi jelaskan juga bahwa Anda tidak ingin diserang karena penghinaan atau ucapan buruk tidak akan menyelesaikan masalah. Jika Anda yang gemar melimpahkan kesalahan, jangan pakai kata “Anda” tapi ubah menjadi “saya”. Jangan fokus pada Tindakan. Sebagai gantinya, fokuslah pada bagaimana perasaan Anda.

Si Senang menghindar

Seperti apa dia: Penghindar akan melakukan apa pun yang bisa mereka lakukan untuk menghindari konfrontasi, dari menyampaikan argumen yang nggak banget sampai mengubah topik pembicaraan. Selain itu, Penghindar akan membelokkan dan mengalihkan perhatian selama pertengkaran, bukannya mencari akar masalahnya.

Jika Anda sering menginterupsi atau sibuk memikirkan alasan atau tanggapan Anda saat pasangan berbicara, maka buat Anda lebih penting memenangkan pertengkaran daripada menyelesaikannya dengan benar.

Hadapi dengan: Jika intensitas pertengkaran terlalu berat, cobalah selipkan sedikit humor untuk mencairkan suasana. Jika Anda tahu pasangan Anda suka menghindari pertengkaran, beritahu dia bahwa Anda paham dia enggan ribut dan Anda sendiri juga nggak suka, tapi problem tidak akan selesai hanya dengan mengabaikannya. Yakinkan pasangan Anda bahwa Anda ingin masalah itu dibicarakan baik-baik, dicari solusinya agar lain kali tidak terulang lagi. 

Si Pasif dan penurut

Seperti apa dia: Punya pasangan penurut memang ada enaknya tapi jika dia SELALU mengalah dan nurut, duh, hambar jadinya pernikahan Anda. Nggak dinamisSikap ini sama seperti si Penghindar. Mereka akan selalu menyerah dan mengakui bahwa mereka salah (meskipun sebenarnya tidak) demi menghindari pertengkaran. Mereka sangat takut dibenci atau membuat seseorang marah sehingga mereka akan ambil jalan pintas, selalu minta maaf. Masalah selesai? Tentu tidak!

Hadapi dengan: Jangan coba menghapus ketakutan atau perasaan negatifnya dengan bilang bahwa ketakutannya itu konyol. Itu hanya akan bikin perasaan negatif terus bertumbuh. Alih-alih, Walfish menyarankan untuk mengatakan sesuatu seperti, “Saya tahu kamu takut saya akan marah, tetapi saya janji untuk tidak panik dan marah. Jadi, ayo kita bicara baik-baik. Saya mau dengar pendapatmu dan mau tahu perasaanmu.”

Si Pemecah masalah

Seperti apa dia: Pemecah masalah selalu ingin menawarkan solusi untuk semua masalah dengan segala cara. Mereka tidak suka hal-hal yang tidak pasti, dan alih-alih mau terlibat dalam diskusi apalagi adu argumentasi, mereka lebih suka langsung melompat ke solusi hanya untuk mengakhiri perdebatan.

Hadapi dengan: si Pemecah Masalah yakin banget solusi yang ia tawarkan selalu yang terbaik, jadi bagi mereka, diskusi apa pun hanyalah serangkaian omong kosong yang buang-buang waktu. Jika Anda atau pasangan Anda cenderung menjadi Pemecah Masalah, hentikan. Cobalah tetap terbuka, dengarkan pendapat masing-masing, dan berkomunikasilah.

“Hal terbaik untuk dikatakan kepada pemecah masalah adalah, ‘Saya tahu kamu nggak betah ngomongin masalah ini dan mau buru-buru cari solusi, tapi sebenarnya penting lho untuk ngelewatin proses ngobrol, cari tahu di mana letak kesalahannya, mengapa bisa terjadi, dan kita sama-sama cari penyelesaian yang terbaik, ‘” saran Walfish.

BACA JUGA: Kenali Jenis Cemburu yang Sehat dan Tak Sehat di Dalam Pernikahan

Cover: Photo by Timur Weber on Pexels

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-


COMMENTS