banner-detik
EDUCATION

SMP Indonesia Natural School: Ke Sekolah Nggak Ada Beban.

author

dewdew11 Nov 2022

SMP Indonesia Natural School: Ke Sekolah Nggak Ada Beban.

Kalau mau anaknya berangkat sekolah dengan riang gembira tanpa paksaan, Indonesia Natural School di Depok ini mungkin bisa jadi pertimbangan.

Yes, kalau mommies sempat tahu SD Semut Semut The Natural School di Depok, nah, Indonesia Natural School ini adalah jenjang SMPnya. Sekolah yang beralamatkan di Jl. Raya Industri kecamatan Sukmajaya, Kelapa Dua, Depok ini meski mungil, juga menerima anak berkebutuhan khusus, lho. 

Sekolah kecil dengan komitmen besar

Setiap angkatan hanya terdiri dari paling banyak 2 kelas. 1 kelas berisikan sekitar 20-25 orang anak. Yes, nggak banyak. Sekolahnya juga nggak besar, tapi dilihat dari komitmennya, nggak main-main. Dilansir dari situs resminya, SMP Indonesia Natural School sendiri punya tujuan untuk mengakomodasi perbedaan gaya belajar setiap anak, sesuai dengan keunikan anak itu sendiri. Di awal-awal, Awan, anak saya yang pertama sedikit struggling. Iya, ketika SD ia terbiasa menerima pembelajaran satu arah, nah, di sini berbeda. Selain pembelajaran 2 arah, dia juga seringkali praktek dan mengerjakan banyak project. Sempat sedikit mengeluh, tapi hingga ia sekarang duduk di kelas IX saya lihat dia malah enjoy ke sekolah. Istilah kata, ke sekolahnya nggak pakai beban. Alhamdulillah sekarang sudah full offline school.

Sekolah Islam dengan kebangsaan yang kuat

Perlu diketahui kalau INS ini merupakan sekolah berbasis Islam. Namun tidak berada di bawah naungan JSIT, ya. Jadi untuk pendidikan agama Islamnya juga berbeda. INS sendiri merasa agar siswa-siswanya harus diperkuat rasa  kebangsaannya. Selama sekolah di INS, saya perhatikan pengenalan  kekayaan alam dan keanekaragaman budaya di Indonesia, tuh, pada dasarnya kaya banget. Selain pentas seni, anak-anak juga diajak turun langsung melakukan Bakti Bumi serta Bakti Bahari di waktu-waktu tertentu untuk mengenal lebih jauh budaya di lingkungan terdekat, sekaligus berbuat baik. Kemajuan informasi dan teknologi juga diadaptasi dengan baik, kok.

Sekolah gercep di masa pandemi

Ketika Awan lulus SD di tahun pertama pandemi, ia sudah terdaftar sebagai siswa SMP yang bernaung di bawah Yayasan Semut Beriring ini. Alhamdulillah, sih, meski baru pertama kali menyelenggarakan sekolah online, SMP Indonesia Natural School termasuk sekolah di Depok yang menurut saya siap banget. Kendala di awal-awal, ya, terima sajalah. Sekolah mana, sih, yang nggak gagap ketika harus online school secara full time? Ah, semua gegara pandemi. Bahkan yang saya dengar, kala itu INS bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia demi menyajikan pembelajaran online yang mumpuni. Jadi saya dan suami tenanglah kalau urusan sekolah. Nggak pakai tarik urat sama pihak sekolah seperti pengalaman beberapa teman lain. Kalau online school aja gercep, bisa dibayanginlah, ya, offline school-nya seperti apa.

Baca juga: Tips Parenting Dari Para Ayah Anggota The Prediksi

Sekolah dengan guru rasa teman 

Setelah kenaikan kelas IX, Awan sempat bilang sama saya, bisa nggak, sih, cari SMA yang guru-gurunya kayak di INS? Hahaha…seandainya Yayasan Semut Beriring buka jenjang SMA mungkin sudah daftar duluan kita. Buat anak saya, guru di INS sudah kayak teman. Perhatian dan nggak ada yang galak. Nggak ada, tuh, istilah guru killer, guru favorit, kayak kita dulu. Soalnya semua guru favorit katanya, hahaha. Praktik guru rasa kawan ini mungkin juga jadi bagian dari misi INS sendiri, yaitu menyediakan sarana untuk perkembangan kognitif, sikap (afektif- psikomotorik) dan melatih keterampilan hidup secara mandiri (life skill), dan pertumbuhan sosial emosi pada anak masa pubertas (umur 12-16 tahun). Tahu, kan, ya, yang namanya berhadapan sama anak puber dengan hormon yang naik turun perlu strategi tersendiri. INS juga rajin banget ngajak kita orangtuanya untuk ikut seminar sekolah yang mengundang psikolog dan berbagi ilmu soal parenting. 

INS punya kuota untuk anak berkebutuhan khusus. Tapi kudu gercep, ya, pas daftar. Karena biasanya sudah terisi oleh siswa yang bersekolah di SD Semut-Semut. Nggak ada yang namanya bully-bully-anlah kalau di sini. Pencapaian setiap anak bersifat pribadi. Jadi nggak ada acara minder sama anak yang lain hanya karena perbedaan nilai. Bahkan ranking kelas saja nggak ditulis di rapor. Award dan reward? Ada. Uniknya untuk kategori award sendiri nggak berdasarkan ranking tapi lebih kepada sikap humoris, kepemimpinan, social skill, dan sejenisnya, meski kategori akademik juga ada. 

 

Share Article

author

dewdew

Mother of Two. Blogger. Make-Up Lover. Skin Care Amateur. Beginner Baker. Entrepreneur Wannabe. And Everything in Between. www.therusamsis.wordpress.com


COMMENTS