Now Reading
Ingin Childfree, Apa yang Harus Dipertimbangkan?

Ingin Childfree, Apa yang Harus Dipertimbangkan?

Saat secara sadar memilih tidak punya anak atau childfree, harus ada yang dipertimbangkan. Itu karena setiap pilihan selalu ada konsekuensi yang mengiringi.

Tidak semua orang berjatah untuk hidup berkeluarga dan punya anak. Bolehkah kita memilih untuk tidak punya anak? Tulisan ini tidak bermaksud membahas hukum childfree. Sudahlah, biarkan para ‘ahli hukum’ berdebat karena itu ranah mereka.

Saya mendukung free will, bebas-bebas saja dong orang punya pilihan, toh, yang bersangkutan yang mau menjalani. Lagipula, misi hidup kita sebagai manusia -maupun sebagai perempuan- tidak melulu tentang harus punya dan membesarkan seorang anak ke dunia ini.

Pilihan punya anak membawa konsekuensi yang tidak ringan. Orang tua tidak sekadar punya tanggung jawab finansial tapi juga kasih sayang, cinta tak bersyarat, pengasuhan, pendidikan, dan sebagainya, tidak terputus terus sampai akhir hayat.

Lantas, bagaimana jika seseorang memilih untuk tidak punya anak? Ya, bukan berarti tidak ada konsekuensi. Secara standar sosial, mereka yang childfree dianggap tidak utuh hidupnya, ada yang kurang. “Nanti sepi rumahnya”, “Siapa yang urus kalau menua nanti”, “Kalau ada apa-apa siapa yang nemenin?”, “Apa nggak bosan berdua aja?”, dan komentar-komentar lainnya. Belum lagi, komen yang bawa-bawa tradisi dan dogma. Bisa panjang urusannya.

BACA JUGA: To Have or Not To Have, Memahami Pilihan Childfree

Siapkan Hal Ini Saat Memilih Childfree

Buat para pejuang childfree, baik karena kondisi maupun pilihan bebas, tidak perlu gentar sama bibir-bibir yang akan selalu nyinyir. Ada baiknya pikirkan beberapa hal ini.

pasangan

1. Siapkan mental

Ini hal paling utama. Hujan komentar akan selalu menyertai perjalanan Anda, kapan pun di mana pun. Dari orang tua, keluarga besar, kerabat, tetangga kanan kiri, sampai dokter, lurah, kolega, atasan, dan sebagainya. Sediakan stok jawaban ‘cerdas’ yang membuat para penanya tak berkutik untuk mengulik. Jangan galak-galak juga, sih, nanti dikira SJW childfree.

2. Kontak darurat

Baik itu Anda hidup sendiri, atau punya pasangan, ada baiknya mengangkat seorang kepercayaan sebagai kontak darurat. Kalau terjadi sesuatu dengan salah satu dari Anda atau pasangan, mungkin kontak darurat bisa pasangan, tetapi jika terjadi sesuatu dengan Anda berdua, siapa yang harus dihubungi? Kalau kita meninggal dunia, siapa yang akan handle? Termasuk urusan utang-utang, tentunya, hehehe.

3. Rencanakan hari tua

Kelihatannya seperti iklan asuransi atau tabungan. Maksudnya, tidak hanya dari sisi finansial saja tentunya, tapi juga support system yang bisa mendukung Anda untuk hidup mandiri. Teman-teman dekat, aktivitas hobi untuk mengisi waktu dan sarana aktualisasi, serta yang tak kalah penting adalah ‘investasi’ terbesar, yakni menjaga kesehatan tubuh dan mental dari sekarang. Seperti kata pepatah, “Your body is your temple”.

4. Fasilitas perawatan

Kita tidak pernah tahu usia kita akan sepanjang atau sependek apa. Ketika masa itu tiba, kita akan menjadi sangat tergantung pada bantuan orang lain sebagai caregiver. Pada kebanyakan orang yang menjadi caregiver adalah anak. Ini bisa disiasati dengan belanja informasi tentang fasilitas perawatan untuk lansia yang ideal buat Anda, kira-kira seperti apa?

5. Ahli waris

Setelah meninggal, tidak satu pun yang kita bawa ke alam keabadian nanti. Tidak ada salahnya merancang akan dikemanakan harta ataupun benda-benda yang Anda miliki jika Anda tiada. Secara tradisi, pasti akan jatuh ke pasangan atau kerabat terdekat Anda. Tetapi, jika Anda sudah mempersiapkannya dengan baik, misal, menunjuk next of kin Anda, tentu akan lebih besar kemanfaatannya sesuai yang Anda harapkan.

6. Relasi yang dekat

Menurut penelitian Harvard, The Good Life, tentang rahasia hidup bahagia, terletak pada ada tidaknya hubungan yang dekat, bukan uang atau ketenaran yang membuat orang bahagia sepanjang hidup mereka. Ikatan ini melindungi orang dari ketidakpuasan hidup, membantu menunda penurunan mental dan fisik, dan merupakan faktor penting untuk hidup yang panjang dan bahagia. Relasi ini tidak hanya tentang hubungan pernikahan atau asmara, tapi juga relasi kedekatan dengan keluarga, teman, ataupun dalam lingkup komunitas. Jadi, dari sekarang, jangan nambah-nambahin daftar musuh, ya.

7. Kontribusi

Dengan kata lain bisa disebut juga sebagai legacy. Legacy ini bisa apa saja, sepanjang kita terus berkarya yang memberi kebaikan dan kemanfaatan bagi banyak orang, maka kita secara tidak langsung telah mengukir legacy. Hidup memang tidak sekadar untuk kesenangan sendiri.

BACA JUGA: Ingin Tambah Anak? Jawab Dulu 8 Pertanyaan Ini ke Diri Sendiri

Cover: Freepik

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top