Tantangan Komunikasi Antara Orang Tua dan Anak Zaman Sekarang

Parenting & Kids

Sisca Christina・09 Feb 2022

detail-thumb

Ternyata, tantangan komunikasi antara orang tua dengan anak di zaman sekarang itu mostly datang dari kita sendiri. Simak apa kata psikolog tentang hal ini.

Bicara soal tantangan komunikasi antara orang tua dan anak, sadar atau tidak kita sering menuding “pihak ketiga”: misalnya menyalahkan perkembangan zaman, pengaruh lingkungan, kurang waktu, repot dengan berbagai pekerjaan dan urusan, dan seterusnya. Jarang kita mau instrospeksi dan mengakui, jangan-jangan kendala terbesar ada di diri kita sendiri, nih, sebagai orang tua? Betul apa betul?

Dari pada wondering sendiri, saya putuskan untuk bertanya mengenai hal ini kepada Mbak Firesta Farizal, M. Psi, Psikolog, seorang Psikolog Anak dan Remaja. Jawaban beliau cukup mencerahkan. Intinya, apapun tantangan komunikasi dengan anak, efektif atau tidaknya komunikasi tersebut, berpulang kepada orang tua. Yuk, simak tanya jawab saya dengan psikolog sekaligus ibu dua anak, yang sering disapa Mbak Eta, berikut ini.

T: Apa saja tantangan komunikasi terbesar antara orang tua dan anak yang paling sering terjadi dewasa ini?

J: Banyak sebenarnya. Namun tantangan yang bisa dibilang paling sering terjadi di era digital sekarang ini yaitu: orang tua dan anak sibuk dengan urusan dan gadget masing-masing. Baik orang tua dan anak-anak punya kegiatannya masing-masing, yang nggak bisa dipungkiri memang sulit dilepaskan dari gadget. Tugas sekolah anak, ceknya pakai gadget. Urusan orang tua, dari pekerjaan hingga acara rembukan warga komplek, dibahas di grup WA. Hampir semua urusan dihandle pakai gawai kecil di tangan. Jadi, terlepas dari kebaikan gadget yang bisa membantu kita mengurusi banyak hal, ternyata di rumah, gawai malah bisa jadi penghalang komunikasi antara orang tua dan anak.

Sebetulnya, kita punya cukup waktu bersama dengan anak di rumah. Tapi, akibat setiap anggota keluarga sibuk dengan gadgetnya masing-masing, maka komunikasi itu nggak tercipta.”

T: Apakah benar di era sekarang anak lebih sulit diajak berkomunikasi dibanding jaman dulu, mungkinkah karena anak-anak jaman sekarang cenderung lebih kritis, lebih berani berpendapat, atau lebih banyak terpapar dengan banyak hal-hal baru dan modern?

J: Perkembangan era digital memang bisa menjadi tantangan berkomunikasi antara orang tua dan anak di zaman sekarang. Namun, di sisi lain, dengan segala kecepatan arus informasi sekarang ini, anak-anak kita malah jadi bisa punya knowledge yang lebih luas, lho. Nah, hal ini malah bisa membuka kesempatan untuk kita berdiskusi lebih banyak bersama anak-anak.

Pertanyaannya, kalau anak-anak kita lebih kritis, bertanya banyak hal, kita siap meladeni anak-anak, nggak? Atau malah merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan anak yang entah sulit dijawab, atau jangan-jangan kita malas menjawabnya karena ribet?

T: Artinya, tantangan komunikasi itu terkadang datangnya dari orang tua sendiri?

J: Betul. Nggak jarang orang tua belum siap, atau belum mau, atau kurang terbuka untuk beradaptasi dengan perkembangan anak jaman sekarang, yang salah satunya sudah semakin kritis tadi. Padahal, ini sebenarnya membuka banyak kesempatan bagi orang tua untuk berdiskusi bersama anak. Sayangnya, orang tua nggak menyadari hal ini. Jika orang tua nggak siap membuka komunikasi dua arah dengan anak, maka itu bakal jadi kendala. Jadi, kembali lagi, bagaimana orang tua bagaimana menyikapi sikap kritis dari anak-anak. Apakah itu jadi kendala atau peluang berkomunikasi?

T: Oke, berarti bukan anak-anak yang sulit diajak berkomunikasi, ya?

J: Sulitnya, bagaimana dulu? Tentu cara, gaya dan kemampuan berkomunikasi anak berbeda-beda sesuai usianya, ya. Kita, orang tua, harus menyesuaikan dengan itu. Nah, kalau tantangan atau kesulitan berkomunikasi dengan anak-anak itu artinya anak-anak nggak mau mengindahkan apa yang kita minta, itu lain cerita. Bisa jadi, ada yang keliru dengan cara kita berkomunikasi dengan anak.

T: Nah, kalau begitu, bagaimana caranya agar orang tua bisa membuat anak-anak lebih willing to listen kepada orang tua, sehingga komunikasi antara ortu dan anak semakin efektif?

J: Pertama-tama, kita perlu tanya dulu pada diri kita sendiri: kita sudah willing to listen to our kids, nggak? Kita mau punya waktu, ruang dan atensi untuk mendengarkan pendapat atau cerita anak-anak kita nggak? Menganggap bahwa apa yang disampaikan mereka adalah hal-hal yang penting? Benar-benar berusaha memahami apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan mindful saat kita berinteraksi dengan mereka?

Kedua, bagaimana kita memaknai willing to listen ini? Kalau yang dimaksud adalah supaya anak nurut; ini yang keliru. Sebab, kita mendidik anak tujuannya bukan supaya anak nurut apapun yang dikatakan orang tua. Bahwa sebetulnya mendengarkan itu nggak sama dengan menuruti.

Baca juga: 7 Cara Menjadi Pendengar yang Lebih Baik untuk Anak

Terkadang, kita inginnya anak menuruti apa yang kita katakan, namun kita lupa bahwa kita harus terlebih dahulu membangun connection dengan mereka. Ada istilah connection over direction. Biasanya, direction yang kita berikan nggak diindahkan anak karena anak nggak merasa butuh mengikuti direction tersebut karena nggak ada connection dengan kita. Jadi, coba kita cek kembali, apakah hubungan kita dengan anak adalah hubungan yang terkoneksi dengan baik? Hubungan di mana ada rasa aman dan nyaman bagi anak, dan anak bisa leluasa bercerita dengan kita?

Apakah percakapan kita dengan anak sehari-hari lebih luas dan lebih dalam dari sekedar menanyakan: “udah mengerjakan PR, belum?” “sudah makan atau belum?” “ayo sekarang waktunya tidur, kan?”

Atau, bisakah kita berbicara tentang apa yang mereka rasakan, harapkan, inginkan bahkan mereka pilih? Apakah kita punya koneksi seperti itu? Kalau iya, semestinya nggak sesulit itu untuk membuat anak memahami apa maksud orang tua. Ketika orang tua sudah punya relasi yang terkoneksi dengan anak, rasa percaya anak akan tumbuh kepada orang tua. Maka anak juga akan memercayai bahwa apa yang dikatakan orang tua, baik baginya.

Sebaliknya, kalau hubungan orang tua dengan anak belum terkoneksi, dan komunikasi yang disampaikan orang tua kepada anak hanyalah berupa perintah-perintah tanpa ada koneksi, maka wajar saja kalau anak nggak willing mengikuti apa yang kita sampaikan.

Oke baik. Saya cukup tertampar sekaligus tercerahkan dengan penjelasan Mbak Eta soal tantangan komunikasi antara orang tua dan anak ini. Terutama di poin terakhir. Kalau mommies gimana?

Foto: Freepik