Silent Treatment, Cara Hindari Konflik yang Berujung Merusak Hubungan

Sex & Relationship

gitalarasw・15 Oct 2021

detail-thumb

Mendiamkan pasangan selama beberapa waktu bukan cara terbaik untuk menyelesaikan konflik. Silent treatment justru bisa membahayakan hubungan. 

Ada masa-masa di mana dalam hubungan, Mommies dan pasangan membutuhkan waktu “diam” bersama. Sebagai contoh, ketika pasangan membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran, Mommies akan memberikan jeda untuknya. Namun, bentuk diam ini tidak selalu baik. Ada silent treatment yang justru buruk bagi hubungan.

Yang membedakan keduanya adalah saat diam biasa, ada kesepakatan atau batas waktu bahwa Mommies dan Daddies akan meninjau kembali hal-hal yang sebelumnya menjadi masalah. Namun, pada silent treatment, “diam”-nya dijadikan sebagai cara mengancam, memanipulasi, atau membuat pasangannya merasa bersalah.

Mengidentifikasi silent treatment

Secara umum, silent treatment merupakan taktik manipulasi yang justru menjauhkan pasangan dari masalah yang terjadi. Pada akhirnya, konflik tidak terselesaikan. Itu juga bisa membuat salah satu pihak merasa bersalah, tidak dicintai, tak berarti, bingung, marah, dan sakit hati.

Ketika pasangan merajuk, cemberut, atau menolak untuk berbicara—ia menunjukkan bahwa tidak cukup peduli untuk berkomunikasi atau menyelesaikan masalah. Orang-orang biasanya menggunakan silent treatment untuk menghindari tanggung jawab dan tidak mau mengakui kesalahannya.

pasangan zodiak libra

Beberapa contohnya, meliputi:

  • Dingin kepada pasangan selama beberapa jam, hari, atau minggu
  • Menolak berbicara, membuat kontak mata, menjawab telepon atau chat
  • Menggunakan cara pasif agresif untuk mengontrol perilaku kita
  • Meminta pasangannya untuk meminta maaf, jika tidak akan terus diam
  • Menolak mendengarkan alasan hingga kita memohon
  • Bagaimana silent treatment memengaruhi hubungan?

    Penelitian menunjukkan bahwa banyak pria maupun wanita kerap melakukan cara ini dalam hubungan mereka. Padahal, itu bukan cara efektif untuk mengatasi perselisihan.

    Bagaimana pun juga, komunikasi yang tepat dan jelas merupakan sumber hubungan yang sehat. Melakukan silent treatment mencegah orang-orang menyelesaikan konflik dengan berkomunikasi.

    Ketika salah satu pihak ingin membicarakan masalah, tetapi yang lainnya menarik diri, itu dapat menimbulkan emosi negatif seperti kemarahan dan kesedihan. Menurut studi pada 2012, orang-orang yang sering merasa diabaikan, memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah dalam hidup mereka.

    Melihat hal tersebut, silent treatment dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental serta hubungan yang dijalaninya. Jika Mommies atau pasangan kerap menghindari konflik, maka perselisihan akan mungkin terjadi dalam jangka panjang karena tidak ada kesempatan untuk mendiskusikan keluhan masing-masing.

    Cara merespon

    Bagaimana kita menanggapinya bergantung apakah pasangan berlaku kasar atau tidak. Jika diamnya tidak disertai dengan kekerasan, Mommies bisa melakukan beberapa pendekatan berikut.

    Pahami situasi

    Mommies haru tahu apakah pasangan memang sedang melakukan silent treatment dan utarakan hal tersebut kepadanya. Sebagai contoh, Mommies bisa mengatakan: “Aku sadar kamu lagi nggak mau jawab aku”, biasanya setelah itu justru ada fondasi untuk terlibat satu sama lain dengan lebih efektif.

    Menggunakan “aku”

    Mommies bisa membiarkan orang lain mengetahui apa yang dirasakan dengan menggunakan pernyataan “aku”. Misalnya, saat pasangan menghindari konflik, coba katakan: “Aku merasa sedih dan frustasi karena kamu nggak mau ngomong sama aku. Aku akan cari cara untuk menyelesaikan masalah ini.”

    Dana Liburan

    Biarkan pasangan mengungkapkan perasaannya

    Minta pasangan untuk membagikan perasaan mereka. Beri tahu bahwa apa yang dirasakannya penting dan valid—ini membuka jalan untuk memulai percakapan. Hindari menjadi defensif atau ingin segera menyelesaikan masalah. Coba untuk bersabar dan empati.

    Atur waktu untuk menyelesaikan masalah

    Kadang-kadang, seseorang melakukan silent treatment mungkin karena mereka terlalu marah, terluka atau kewalahan untuk berbicara. Mereka juga mungkin takut mengatakan sesuatu yang akan memperburuk situasi. Dalam kasus ini, sangat membantu jika memberikan waktu untuk menenangkan diri sebelum saling bicara lagi untuk membahas masalah tersebut.

    Jika Mommies menerima silent treatment, jangan menyalahkan diri sendiri. Diamnya pasangan bukan kesalahan Mommies. Dan jika hal tersebut mulai mengarah ke ancaman atau kekerasan, penting untuk menghindarinya selama beberapa waktu. Minta bantuan kepada dokter, terapis atau sahabat.

    BACA JUGA: 

    Karantina dan Konflik dalam Rumah Tangga

    Mengelola Konflik Keluarga dengan Cara Menyenangkan