Now Reading
Cara Tepat Memuji Anak

Cara Tepat Memuji Anak

siscachristina
Cara Tepat Memuji Anak

Orang tua mana yang nggak pernah memuji anak? Pertanyaannya, apakah cara memuji anak sudah tepat dan bijaksana? Lakukan tips berikut!

Memuji anak bisa dibilang salah satu tugas parenting yang paling mudah (kecuali bagi orang tua yang punya karakter pelit muji kali, ya? Hehehe). Kebanyakan orang tua nggak punya kesulitan menjalankan tugas yang satu ini. Namun saking mudahnya, terkadang cara yang digunakan kurang tepat.

Manfaat memuji anak

Menurut para ahli, memuji anak memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak. Dr. Michelle Macias, profesor pediatri di Medical University of South Carolina, menjelaskan bahwa pujian bisa menjadi cara untuk membantu anak-anak memelajari jenis perilaku mana yang dapat diterima.

Setidaknya, ada empat manfaat dari memuji anak dengan kalimat positif, yaitu:

  • Meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak.
  • Meningkatkan motivasi di dalam diri anak, antara lain motivasi untuk belajar.
  • Meningkatkan ketekunan dan keterlibatan anak-anak.
  • Menurunkan kecemasan dan mengurangi risiko depresi pada anak.

Lantas, jika memuji itu punya dampak baik bagi anak, apakah artinya kita harus membanjiri anak-anak dengan pujian? Jangan keliru, mommies! Pujian itu hanya akan bermanfaat bagi anak bila disampaikan dengan cara yang tepat.

Cara tepat memuji anak

Agar kalimat pujian tak hanya sebatas mengumbar kata-kata manis belaka, berikut ini cara yang bisa mommies lakukan dalam memuji anak.

Tatap mata si kecil

Ingat, letak makna pujian bukan pada kata-katanya saja, tapi juga ekspresi orang tua. Lakukan dengan penuh kasih sayang, ada kontak mata, upayakan wajah mommies sejajar dengan wajah si kecil. Interaksi semacam ini meningkatkan kepercayaan diri anak.

Gunakan bahasa sesuai dengan tahap perkembangan anak

Gunakan kata-kata yang mencerminkan pengalaman mereka dan tunjukkan pengertian serta empati. Misalnya, ketika si kecil yang berusia 2 tahun bertekad untuk mengenakan kaus kakinya sendiri tetapi belum berhasil, katakan: “Adek sudah berusaha keras untuk memakai kaus kaki itu. Mama bisa memberi tahu caranya, nanti kamu bisa coba pakai sepatumu sendiri, ya.” Namun, kalimat pujian semacam ini sudah nggak perlu dikatakan kepada anak usia 5 tahun, sebab sudah sepatutnya mereka mampu melakukannya.

Fokus pada proses, bukan hasil

Sebuah laporan dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa anak-anak yang dipuji atas kecerdasannya ternyata berdampak kurang baik karena pada akhirnya membuat mereka tidak mampu menangani kegagalan. Sebaliknya, anak-anak yang mendapat pujian atas usahanya tampak lebih ulet dan gigih.

Shari Young Kuchenbecker, seorang psikolog, sekaligus peneliti dan penulis buku Raising Winners: A Parent’s Guide to Helping Kids Succeed on and Off the Playing Field, menjelaskan bahwa kecintaan pada proses, sikap positif, dan keinginan untuk berkembanglah yang membuat anak-anak menjadi anak yang ‘bisa-melakukan’.

Jadi, penting bagi orang tua untuk fokus pada prosesnya daripada hasilnya. Misalnya, jika anak suka membantu mommies mencuci piring tapi malah bikin becek, walau gemas-gemas dikit (hehehe), tetap katakan: “Mama tahu masih sulit bagimu mencuci piring tanpa menyiprat ke-mana-mana, tapi mama senang kamu mencobanya.” Tak apa membiarkan mereka gagal. Itu membuat mereka belajar menyelesaikan tugas tanpa bantuan orang dewasa.

Tak perlu menunggu anak meraih prestasi besar

Bukan berarti anak layak dipuji saat berhasil meraih prestasi besar saja. Perubahan-perubahan kecil pada anak yang mereka lakukan dengan upaya penuh juga patut dihargai. Misalnya, ketika anak pada akhirnya berhasil berani tidur sendiri, atau anak mengerjakan PR sendiri tanpa diminta, atau bangun pagi untuk sekolah tanpa dibangunkan. Katakan: “Kamu sudah berhasil mengalahkan rasa takutmu (atau malasmu,), terima kasih sudah berani tidur sendiri.”

Hindari memuji berlebihan

Kuchenbecker mengatakan, jika orang tua terlalu banyak memuji, maka kita akan kehilangan kredibilitas. Terutama jika menggunakan kalimat-kalimat non spesifik nan hiperbolis: “Kamu keren!”, “Great job!”, “Si jagoan matematika!”, “Kamu paling pintar (atau manis, baik, dan seterusnyaa)”.

Berikan pujian dengan spesifik, misalnya: ketimbang bilang “Gambarmu bagus banget,” katakan: “kombinasi warna yang kamu pilih membuat gamarmu lebih indah.” Ini memberi anak gambaran mengapa dia layak dipuji. Dengan demikian, anak-anak dapat membedakan antara pujian nyata dengan pujian kosong. Tapi ingat, tak perlu memuji untuk setiap setiap hal-hal kecil yang anak lakukan.

Baca juga: Walau Terdengar Manis, Sebaiknya Hindari 10 Kalimat Ini ke Anak

Gunakan kalimat spesifik

Kalimat yang lebih spesifik dan deskriptif dipercaya lebih memberikan dampak positif pada anak ketimbang kalimat pendek yang berleih-lebihan.

Hindari Ganti dengan
Good job! Terima kasih sudah bantu mama mencuci piring.
Anak mama ganteng/cantik banget! Mama suka deh dengan gambar kucing di baju kamu. Mana kucing favoritmu?
Wow, gambarmu bagus sekali! Warna yang kamu pilih terlihat cocok untuk gambar pemandangannya. Mengapa kamu pilih warna itu?
Anak pintar! Kamu sudah belajar sangat keras saat ujian kemarin. Kalau benar-benar fokus, hasilnya pasti memuaskan.
Kamu baiiiikkk banget, deh. Mama tadi lihat kamu menolong dan memeluk adik saat ia jatuh. Adik pasti merasa baikan. Rasanya menyenangkan kalau bisa membantu orang, ya, kak?”
Yay, adik makannya habis, kereeen! Terima kasih sudah makan dengan tertib sesuai aturan, ya, dek.

Pada akhirnya, ketika orang tua bisa memuji anak dengan cara yang tepat dan bijaksana, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana juga.

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top