banner-detik
KIDS

Pesan dari Tante Untuk Adek-adek yang Suka Pamer Saldo

author

Ficky Yusrini19 Aug 2021

Pesan dari Tante Untuk Adek-adek yang Suka Pamer Saldo

Kalau ada challenge buat emak-emak pamer, kira-kira apa yang mau dipamerin? Pamer saldo, pamer tagihan uang sekolah, pamer tagihan cicilan rumah atau pamer jumlah dana pensiun yang sudah terkumpul?

Beberapa waktu lalu, trending di TikTok adalah challenge review saldo dengan nama tren “Ganteng, review saldonya dong!” Netizen berlomba-lomba memamerkan saldonya, dari ratusan juga hingga miliaran, dengan backsound dari akun @yoloinebaliklagi. Terheboh, video yang diunggah dari akun @owner.studente, memamerkan saldo sejumlah 11 triliun. Hayo…ada yang bisa ngalahin?

Demam review saldo ini rupanya juga ramai di Twitter. Selain saldo ATM, ada juga yang pamerin saldo OVO atau Gopaynya. Ada yang menanggapi challenge ini dengan ‘serius’, memamerkan digit saldonya, tapi tak sedikit juga yang bangga dengan saldo Rp4, bahkan Rp0. Sebagai sebuah permainan, challenge ini sebetulnya cukup menghibur. Kebayang, kalau ada emak-emak ikutan, saya review tagihan saja, wkwkwk…

Lemeshin aja, daripada stress

Terhibur rasanya bisa melihat digit saldo struk ATM sepanjang itu, walau bukan punya sendiri, uang sebanyak 11 triliun 429 miliar 110 juta 204 ribu 608 koma 58 rupiah. Sudahlah, tidak penting untuk membuktikan apakah itu asli atau editan. Buat yang nonton, ibarat memberi mimpi, sejenak lupa sama saldo sendiri. Inhale exhale. Makasih lho, buat dedek-dedek yang kasih lihat saldo miliarannya juga, atau pamerin koleksi mobil mewahnya. Tante happy!

Ya kali beneran!

Kalau saya punya uang miliaran, tidak akan saya simpan di tabungan biasa. Pakai repot-repot datang ke ATM pula. Pastinya, uang miliaran saya dikelola sama manajer investasi. Butuh uang tunai, tinggal telepon asisten untuk bawain. Anteng deh, tiap bulan bisa menikmati keuntungan dari dana investasi. Nggak perlu pusing capek-capek kerja.

Kalau duit triliunan? Ya tidak akan saya simpan di dalam negeri, hahaha….! Lebih aman di Cayman Island, bebas pajak. Sebagian dibelikan properti di London. Simpan baik-baik buat persiapan kuliah anak di Oxford. Di sini, diem-diem bae, rumah sederhana saja. Kalau sudah kaya beneran, rasanya saya sudah nggak butuh pembuktian. Biarlah pamer hanya milik para kaum OKB dan OKK (orang kaya Kagetan). Contohnya, salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, yang rumahnya kecil saja di Omaha dan kemana-mana nyetir sendiri mobil Cadillac tuanya.

Baca juga: Begini Cara Investasi ala Menteri Keuangan, Sri Mulyani

Kena jebakan

Nah, kalau yang pamer saldo kisaran puluhan ratusan juta, bisa jadi benar. Gotcha, kamu masuk jebakan batman. Hati-hati saja jadi incaran kejahatan dan kejaran Dirjen Pajak. Hayo, sudah bayar pajak belum? Kitanya yang lihat juga nggak usah ikutan jadi panas hati. Saldo ATM tidak menentukan kaya dan miskinnya orang. Ada yang saldonya banyak, tapi utangnya jauh lebih besar dari saldonya. Ada yang duit modal semua, yang harus diputerin. Ada yang pengeluarannya sehari-hari jauh lebih besar daripada tiang. Rumput tetangga memang seringnya kelihatan lebih hijau.

Buat yang anggap permainan ini sebagai ajang pamer, karena hasratnya terpancing. Rasa ingin mendapat tepuk tangan, dikagumi, dan validasi dari orang lain. Media sosial mudah sekali memancing sisi hasrat yang satu ini. Bukan cuma dalam hal saldo, tapi misalnya, pamer hang out di resto mahal, makanan mewah, fashion bermerek, mobil premium, dan sebagainya. Semakin mewah isi postingannya, semakin ingin dianggap sultan, semakin mudah mendapatkan banyak follower, semakin kuat hasratnya terpancing untuk posting yang lebih wah lagi, dan begitu seterusnya seperti menggenjot di putaran roda hamster.

Duit sendiri atau ortu?

Melihat rata-rata yang muncul di video challenge ini muda dan kinyis-kinyis, saya jadi curita, itu uang sendiri apa ATM ortu? Okelah, sekarang anak kicik-kicik udah pada jago menambang miliaran dari Yutub dan Tiktok, selamat ya, semoga ortunya juga ikut menikmati kesuksesan anaknya. Tinggal bagaimana si anak ini harus diedukasi untuk belajar mengelola uangnya. Biar tidak terseret ke gaya hidup konsumtif dan tidak aji mumpung. Bagaimana supaya dia mulai memikirkan kebutuhan jangka panjangnya. Tanpa pemahaman yang tepat, duit banyak, semua temannya minta traktir tiap hari, minta diongkosin jalan-jalan, dibeliin ini itu, party-party, tahu-tahu habis, gigit jari, deh! Yang kasihan kalau itu uang ortu, dipamer-pamerkan sama anak biar nggak kena bully temannya. Salah asuhan jadinya.

Baca juga: Ketahui 10 Hal Ini Saat Menabung Emas di Pegadaian

Photo by Eduardo Soares on Unsplash

Share Article

author

Ficky Yusrini

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan