Now Reading
Kenali 3 Masalah Kulit Vagina dan Cara Mengatasinya

Kenali 3 Masalah Kulit Vagina dan Cara Mengatasinya

Tahukah Mommies kalau kulit vagina juga perlu dirawat lho! Karena ternyata masalah kulit vagina itu ada dan bisa menganggu kenyamanan bercinta.

Anda mungkin sudah tahu bahwa produksi kolagen di dalam tubuh – zat yang membuat kulit kenyal dan kencang – menurun seiring bertambahnya usia. Tapi yang kebanyakan orang belum tahu adalah menurunnya produksi kolagen juga terjadi di vagina, membuat elastisitasnya berkurang, kering, terjadi perubahan warna, hingga meningkatnya sensitivitas,.

“Semakin usia bertambah, semakin sedikit tubuh menghasilkan estrogen padahal bagi vagina, estrogen itu seperti pelembap untuk wajah,” kata Karyn Eilber, M.D.,seorang ahli urologi di California. Tanpa estrogen yang cukup, daerah vulva dan vagina menjadi lebih kering, kulit menipis sehingga mudah iritasi, dan tingkat pH menjadi tidak seimbang menyebabkan vagina mudah terkena infeksi. Penuaan juga dapat memengaruhi warna kulit di daerah sekitar vagina.

Meskipun semua perubahan ini normal, sebagian besar wanita akan sadar bahwa ada perubahan pada penampilan area bawah mereka sehingga memunculkan rasa tidak nyaman.

Masalah Kulit Vagina 1: Kekeringan

Penyebabnya:

Penurunan estrogen secara bertahap biasanya dimulai pada usia 40-an sehingga membuat area vagina – baik vulva luar maupun saluran vagina – terasa lebih kering.
Atasi dengan:

Coba produk topikal yang berfungsi untuk menghidrasi dan melembabkan kulit vulva dan meredakan kekeringan di kulit vagina, cari produk bebas pewangi berbahan dasar air.

Untuk kekeringan yang ekstrim bisa lakukan perawatan estrogen topikal-krim atau cincin yang diresepkan untuk menghambat hilangnya estrogen. Bila digunakan sesuai resep, formula estrogen bisa menjadi solusi yang efektif dan risikonya rendah,” papar. Dr. Eilber.

Untuk kulit vagina yang kering ditambah hilangnya elastisitas, beberapa dokter akan merekomendasikan peremajaan laser (FemiLift). Perawatan ini bertujuan menciptakan kerusakan mikro di dalam vagina untuk memicu proses penyembuhan. Hasilnya produksi kolagen dan pelumasan akan meningkat. Tapi usai perawatan ini, Mommies harus cuti bercinta dulu selama 2 x 24 jam ya.

Masalah Kulit Vagina 2: Hilangnya Elastisitas

Penyebabnya
“Banyak wanita di awal 40-an mengeluhkan seks yang menyakitkan. Kurangnya kelembapan ditengarai sebagai penyebab, namun biang keladi utamanya adalah atrovi vagina,” papar Cindy Barshop, pemilik VSpot, spa medis kesehatan vagina di New York dan Philadelphia.

Hilangnya kelenturan di saluran vagina dapat membuat seks sangat nggak nyaman. Hilangnya kolagen juga dapat membuat kulit yang merenggang saat melahirkan menjadi kendur secara permanen. “Kulit vagina wanita yang lebih muda biasanya akan kembali lagi 6 bulan setelah melahirkan. Tetapi jika Anda adalah seorang Ibu berusia 40-an, kehilangan kolagen membuat Mommies juga kehilangan elastisitas secara permanen.

Atasi dengan

Obat untuk vagina kering juga bisa membantu masalah hilangnya elastisitas dan kulit vagina yang kendur. Estrogen topikal, pelembab vagina, dan perawatan dengan laser CO2 terbukti meningkatkan produksi kolagen di saluran vagina. Lebih banyak kolagen berarti kulit yang lebih elastis. Jika hilangnya elastisitas sangat signifikan, terapi akan membantu vagina kembali elastis dan kencang.

Metode lain yang lebih menyenangkan adalah dengan rutin dan sering berhubungan seks untuk membantu vagina mempertahankan kelenturannya. Jika di awal seks terasa menyakitkan, gunakan pelumas.

Baca juga: Penyebab dan Cara Atasi Vagina Kendur

Masalah Kulit Vagina 3: Iritasi

Penyebabnya
Kulit yang menua ditambah ketidakseimbangan pH yang disebabkan oleh kadar estrogen yang naik turun dapat menyebabkan kulit menjadi sensitif, terkena infeksi jamur dan bakteri, dan hiperpigmentasi.

Atasi dengan
“Hindari douching,” saran Dr. Eilber. Menggunakan apa pun untuk membersihkan bagian dalam vagina dapat mengganggu rasio bakteri baik dan buruk, memperburuk ketidaksimbangan pH dan meningkatkan kemungkinan infeksi. Gunakan pembersih luar yang lembut. Jika Mommies rentan terhadap infeksi jamur dan bakteri, hindari penggunaan pelembap atau pelumas vagina yang mengandung gliserin, paraben, ftalat, atau propilen glikol.

“Hiperpigmentasi biasanya dialami oleh wanita kulit hitam dan sawo matang ketika mereka menua,” jelas Mona Gohara, M.D., anggota dari Shape Brain Trust dan dokter kulit di Connecticut. “Kondisi ini diperburuk hasil bertahun-tahun mencukur dan waxing, ditambah terjadinya gesekan. Oleskan pelembap yang mengandung asam laktat setiap malam sebelum tidur,” saran Gohara.

Namun, untuk ketenangan hati, dan tidak salah pengobatan, alangkah baiknya mengunjungi dokter kandungan atau dokter kulit Mommies untuk membahas mengenai masalah kulit vagina Anda.

Baca juga: 10 Fakta Bau Vagina yang Mengkhawatirkan

Photo by rosemary watson on Unsplash

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top