Katakan 7 Hal Ini Saat Reparenting Inner Child

Self

annisast・26 Jan 2021

detail-thumb

Masa kecil, tidak bisa diulang lagi. Namun trauma dan berbagai pengalaman di masa kecil kadang terbawa sampai dewasa dan menjadi inner child yang menghantui :( Yuk, coba reparenting inner child kita.

Di masa anak-anak, kita pertama kali belajarr memproses emosi. Belajar bagaimana menghadapi berbagai masalah dan apa efeknya pada kondisi mental kita. Jika orangtua tidak bisa memvalidasi emosi, cenderung meremehkan, apalagi memberi pengalaman buruk seperti kekerasan baik fisik maupun emosional, maka trauma itu akan terbawa hingga dewasa.

Kita mungkin akan lebih mudah marah, tidak bisa mengambil keputusan sendiri, merasa tidak berharga, sampai yang terburuknya adalah, mengulang kembali pola parenting itu pada anak kita. Anak kita akan juga menerima kekerasan yang sama sehingga ia juga membawa trauma, dan rantainya jadi tidak terputus.

Di titik ini mungkin kita akan merasa, masa kecil yang buruk sudah berlalu dan tidak perlu diingat kembali. Padahal, mengulang ingatan tentang masa kecil dan membantu diri kita menjadi orangtua yang baik, yang memvalidasi emosi, bisa menolong kita untuk healing, untuk sembuh dari trauma masa lalu.

Istilahnya, reparenting inner child. Menjadi orangtua untuk diri sendiri di masa kecil. Reparenting adalah memberi atau berlaku baik pada diri sendiri, hal-hal yang tidak kita terima sebagai anak-anak.

Reparenting inner child ini bisa dilakukan sendiri namun butuh komitmen dan kesabaran. Tidak ada hasil yang instan, kita butuh kesadaran bahwa hanya diri kita yang bisa membantu untuk sembuh dari trauma masa lalu dan memaafkan semua yang sudah berlalu.

Dari Tiny Buddha ini beberapa hal yang bisa dikatakan pada diri sendiri saat proses reparenting inner child. Mommies bisa mengucapkannya sambil memeluk diri sendiri. Ingat butterfly hug Ko Mun Yeong di drakor “It’s Okay to Not be Okay”? Nah, itu cara untuk memanipulasi otak kita seolah kita sedang dipeluk orang lain.

I love you. Kamu disayang, banyak yang sayang padamu. Ini kalimat yang paling banyak ingin didengar anak namun terlalu banyak orangtua yang terlalu canggung untuk mengucapkannya.

Iya kamu didengar. Menangis itu boleh kok. Saat kecil, kita seringkali diminta berhenti menangis padahal sedang sangat sedih sehingga emosinnya terpendam. Sekarang saat dewasa, nangis boleh kok. Peluk diri sendiri dan bilang, kamu boleh menangis, kamu didengar.

Maaf ya. Banyak orangtua yang terlalu gengsi meminta maaf sehingga berbagai kesalahan berlalu begitu saja tanpa ada permintaan maaf sama sekali. Sekarang, ketika reparenting, yuk minta maaf pada dirri sendiri.

Ini bukan salahmu. Banyak kejadian di masa kecil yang kita anggap sebagai salah kita padahal bukan. Peluk diri sendiri dan bilang, ini bukan salahmu, kamu tidak bersalah.

Aku memaafkanmu. Berbagai luka masa lalu kadang membuat kita malu dan sangat bersalah. Memaafkan diri sendiri bisa membantu untuk berdamai dengan itu.

Terima kasih sudah sampai di sini. Berterima kasih pada diri sendiri itu penting sekali untuk membantu kita menghargai diri.

Kamu sudah lakukan yang terbaik. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, kamu sudah lakukan yang terbaik, kamu sudah berusaha sebisamu. Kamu tidak perlu jadi sempurna.

Terakhir, jangan lupa lakukannya sambil menyadari nafas. Ketika berbagai emosi muncul dan pikiran berlari ke sana-sini, maka bernafaslah dulu. Beri jeda. Sadari bahwa perasaanku sekarang tidak ditentukan oleh masa laluku.

Baca juga:

Saat Perasaan Kurang Terus Menerus Muncul Sebagai Ibu

Tentang Inner Child: Masa Lalu yang Menghantui Masa Kini