Serba-Serbi Penyebab dan Cara Mengatasi Infertilitas

New Parents

dewdew・21 Dec 2020

detail-thumb

Topik infertilitas selalu menarik dibahas karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Apa itu infertilitas? Apa penyebabnya? Bagaimana penanganannya?

Beberapa hari lalu, Mommies Daily berkesempatan untuk Instagram Live bersama dr. Reino Rambey Sp.OG dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda, Jakarta tentang topik ini. Mommies bisa cek kumpulan tanya jawab kami dengan beliau mengenai infertilitas, definisi, hingga penyebab serta penanganannya berikut ini, ya.

Apa itu infertilitas?

Pasangan suami istri dapat dikatakan infertil bila sudah menikah, berhubungan seks secara rutin tanpa kontrasepsi, namun tak juga hamil setelah setahun (untuk pasangan di bawah usia 35 tahun) atau setelah 6 bulan (untuk pasangan usia di atas 35 tahun).

Apa, sih, penyebab infertilitas? 

Ini yang perlu dikonsultasikan pada dokter. Penyebabnya sendiri bisa jadi gaya hidup, posisi rahim, kualitas modal yaitu sel telur, atau sperma, masalah hormon, dan lain-lain. Setiap individu pasti berbeda. 

Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi infertilitas?

Menangani kenapa seseorang belum hamil itu harus dilihat betul-betul penyebabnya. Temukan dulu masalahnya, baru bisa kita tahu cara menangani infertilitas tersebut. Jadi segeralah ke dokter untuk menemukan masalah utama.  

Baca Juga: Merasa Susah Hamil? Cek Dulu Gaya Hidup!

Bagaimana proses pemeriksaan dari dokter sampai tegak diagnosa infertil?

Sebenarnya tidak perlu pemeriksaan klinis, ya. Begitu menikah, rutin melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, namun belum juga hamil setelah setahun, maka hal tersebut dapat dikatakan infertilitas. Nah, penyebabnya apa, itulah yang harus dicari melalui pemeriksaan klinis. 

Ada tidak, sih, infertilitas yang nggak bisa diatasi?

Selama ada sel telur dan sperma, dan memiliki tempat untuk embrio berkembang maka infertilitas dapat diatasi. Kecuali sudah tak ada lagi sel telur, sperma sudah rusak, dan kondisi rahim yang tidak normal, atau bahkan tidak ada. 

Jika kondisi sel telur habis, atau sperma rusak apakah tetap bisa hamil?

Secara alami tentu tidak bisa. Dengan kata lain, modalnya sudah tidak ada. Tapi di luar negeri yang aturannya lebih bebas bisa saja hamil, dengan syarat dilakukan melalui proses donor sel telur atau sperma. Yang mana proses ini belum lazim dilakukan di Indonesia. 

Jika memiliki anak pertama butuh proses panjang, apakah nanti kehamilan berikutnya juga butuh proses panjang?

Tidak tentu. Tergantung kondisinya pada saat itu. Ada yang 12 tahun baru bisa punya anak pertama melalui bayi tabung, eh, nggak sampai setahun hamil anak kedua dengan cara yang alami. Kita tidak pernah bisa menentukan setiap kehamilan pasti prosesnya mudah atau tidak. 

Inseminasi dengan sperma 5 juta setelah washing apakah ada kemungkinan berhasil?

Untuk bisa hamil memang sel sperma minimal 1- 2 juta. Asumsinya,sih, akan baik, dan besar kemungkinan sperma berhasil bertemu dengan sel telur. Tapi sekali lagi yang perlu diingat, proses inseminasi hanya proses mempertemukan antara sel telur dan sperma. Proses setelahnya, apakah kemudian berhasil dibuahi atau tidak, tidak dapat dapat diketahui dengan pasti. 

Apa, sih, penyebab kegagalan inseminasi?

Tidak bisa diketahui dengan pasti, karena itu semua tergantung dari kondisi setiap orang saat proses tersebut dilakukan.Tapi umumnya adalah karena masalah modal. Karena itu, wanita dan pria yang sudah menikah, jika memang ingin langsung punya anak, jangan menunggu lama. Begitu setahun tidak juga hamil, sudah dapat dipastikan infertil. Harus segera ditemukan penyebabnya. Karena semakin lama menunggu, semakin bertambah umur, masalah semakin menumpuk, penyelesaian akan semakin lama. 

Apa gaya hidup yang paling memengaruhi infertilitas?

Rokok paling berpengaruh. Jadi sebaiknya, ya, berhenti atau kalau sulit yang kurangi merokok. Selain itu apa yang kita makan juga berpengaruh, ya. Hari gini, banyak makanan yang mengandung pengawet, sifatnya, kan, merusak sel di dalam tubuh. Coba dicek lagi makanan yang selama ini dikonsumsi. 

Berikutnya, kalau boleh dipaparkan, angka obesitas saat ini meningkat, inilah salah satu gaya hidup yang juga memengaruhi infertilitas. Ketika seorang wanita atau pria berat badannya melebihi BMI, maka ia memiliki kecenderungan penyakit metabolik. Akibatnya ada sel-sel dalam tubuh yang mengalami kerusakan. Memang tidak selalu orang yang mengalami berat badan tidak ideal kemudian tidak bisa hamil, tapi pastinya menurunkan kesempatan untuk mudah hamil.

Yang terakhir, tingkat stres ternyata juga ikut memengaruhi, lho. Bekerja nyaris 12 jam sehari, pergi pagi pulang malam, tanpa terkena sinar matahari, menyebabkan kadar vitamin D dalam tubuh rendah. Beberapa penelitian membuktikan, rendahnya vitamin D dapat membuat sel-sel dalam tubuh memiliki kualitas yang rendah. 

Terapi apa yang dilakukan terhadap pasangan yang mengikuti program bayi tabung? Apakah bisa dilakukan lebih dari satu?

Perlu pemeriksaan lebih lanjut mengenai hal ini. Tergantung kondisi dari setiap orang. Bayi tabung itu pada prinsipnya, hanya merangsang sel telur tumbuh, dan dipetik pada saat kondisi subur, lalu dipertemukan dengan sperma di dalam sebuah tabung. Setelah menjadi embrio, baru dimasukkan ke dalam rahim. Nah, kalau bisa saran, ya, anutlah gaya hidup sehat sehingga kualitas modal, seperti sel telur dan sperma prima. Kita juga harus menemukan masalah utamanya. Misalnya di dalam rahim ada miom yang bisa mengganggu pertumbuhan embrio, untuk itu atasi dulu masalah miom di dalam rahim sebelum dilakukan proses memasukkan embrio. 

Jika berat badan berlebih, haruskah menurunkan dulu berat badan dulu sebelum program hamil?

Pastinya setiap dokter akan menyarankan seseorang untuk menurunkan dulu berat badan yang berlebih saat melakukan program hamil. Kenapa? Karena seperti yang tadi sudah dijelaskan, sel-sel dalam tubuh, dalam hal ini termasuk sel telur dan sel sperma menurun kualitasnya bila berat badan berlebih. Jika Body Mass Index normal, maka sel-sel di dalam tubuh akan jauh lebih baik dan sehat. 

Adakah saran untuk wanita yang ingin segera hamil?

Sebisa mungkin terapkan pola hidup sehat, mengonsumsi gizi seimbang, seperti memperbanyak makan sayur dan buah. Mungkin terdengar klise, kurangi stres. Kalau memang tekanan pekerjaan berat, carilah cara untuk mengurangi stres tersebut. Segeralah konsultasi ke dokter bila setelah menikah, dalam setahun belum juga hamil padahal sudah melakukan hubungan seks secara rutin tanpa bantuan kontrasepsi. Semakin lama menunda, semakin menumpuk masalahnya, dan semakin lama pula proses penyelesaiannya.

Oya, satu lagi, jika memiliki keraguan dan pertanyaan, mohon dapat menanyakannya pada dokter yang biasa mommies kunjungi. Mencari informasi di google, atau menanyakan pengalaman pada orang lain boleh saja dilakukan, namun hindari untuk membuat kesimpulan sendiri, karena justru malah akan membuat stres makin meningkat.

Baca juga: 6 Fakta Bayi Tabung yang Patut Kita Ketahui