Now Reading
Memberi Label Pada Anak

Memberi Label Pada Anak

Rahmasari Muhammad

Hati-hati memberi label pada anak, tanpa sadar kita sudah menciptakan image dirinya, membentuk cara pandang dia (dan orang lain) terhadap dirinya.

Terkadang sebagai orangtua, kita suka membandingkan anak kita dengan anak-anak lain dan juga dengan ‘normal cases’ atau standar umum di masyarakat. Manusiawi sih, tapi terlalu sering membandingkan juga bisa bahaya lho…

Terlalu sering membandingkan membuat kita lupa kalau setiap anak berbeda, dengan karakter, sifat, personality, dan kebiasaan yang berbeda, sama seperti kita, orang dewasa. Kita juga nggak suka, kan kalau dibanding-bandingkan terus sama orang lain? Nah..sebenarnya anak juga begitu.

Tanpa kita sadari, proses membandingkan itu seringkali mungkin karena kita yang ingin merasa lebih nyaman, merasa anak kita itu sama atau setidaknya mirip dengan anak-anak lain, hingga akan lebih mudah diterima oleh lingkungan atau masyarakat di sekitarnya. Sederhananya, kita berharap bahwa anak kita memenuhi ‘standar umum’, jadi anak (dan kita sebagai orangtua) gak di-judge sama lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

Memang tuntutan lingkungan dan masyarakat itu berat, sih, tapi kita juga harus pandai-pandai menarik garis batas, ada yang baik dan bisa diikuti, dan ada juga yang tidak cocok sama kita dan tak perlu diikuti. Iya kan? Kita juga nggak bisa ‘memaksakan’ hal yang kesannya ‘normal’ ke anak, padahal belum tentu hal itu yang terbaik untuk anak (dan untuk kita sebagai orangtuanya).

Pada kenyataannya, setiap anak juga memiliki sifat dan pembawaannya masing-masing yang harus kita hargai dan apresiasi. Kalau kita merasa anak tidak memenuhi standar umum, akibatnya kita cenderung suka memberu label pada anak dengan label negatif jika dianggap berbeda. Padahal, kebiasaan atau karakter yang kita anggap berbeda dan tidak umum itu sebenarnya bisa dikembangkan dan menjadi potensi yang baik bagi anak kedepannya.

Baca juga: 5 Kalimat Orangtua yang Bisa Memicu Stres pada Anak

Misalnya anak kritis dan sering bertanya kita labeli ‘sok tahu’,

Anak yang berpendirian kuat dan tidak mudah bilang iya, kita labeli ‘susah diatur’ atau ‘keras kepala’,

Anak yang aktif dan kinestetik kita labeli nggak bisa duduk manis’ atau ‘nakal’.

Anak yang berempati tinggi dan sensitif atau perasa kita labeli ‘cengeng’ dan sederet label-label negatif lainnya yang akan diserap dan dipercaya oleh anak bahwa dirinya memang seperti itu. Stigma yang akan melekat di pikiran, hati dan akhirnya memengaruhi tindakannya.

Padahal, misalnya nih, anak kuat dan teguh pendirian serta aktif dan kritis itu baik, kan? Saya pribadi lebih memilih karakter seperti itu daripada karakter yang pasif, atau iya-iya aja. Saya juga lebih suka jika anak saya mempunyai pendirian, tidak mudah terbawa “arus”, dan berani mengatakan tidak.

Contoh lain, anak yang sensitif dan perasa serta mudah berempati juga baik, sebagai modal dari kecerdasan sosial emosional yang baik kedepannya. Tidak mudah untuk berempati kepada orang lain, dan dunia memerlukan lebih banyak orang yang bisa berempati, peduli serta toleran.

Baca juga: Tanda Anak Terkena Social Anxiety dan Cara Mengatasinya

Pada kenyataannya, jauh lebih mudah mengajarkan anak calistung daripada mengajarkan anak berempati dan peduli kepada orang lain. Jadi beruntung, lah, kita yang punya anak-anak yang sensitif, peduli serta mempunyai empati tinggi =)

Jadi harus bagaimana?

Ya membandingkan proses dan pencapaian anak itu wajar, tapi ingat bahwa proses dan pencapaian tersebut akan berbeda di tiap anak, karena kelebihan, kekurangan, sifat dan kebiasaan tiap anak juga berbeda. Masing-masing anak tentunya juga mempunyai kelebihan yang bisa kita “asah” untuk menjadi modal masa depannya. Sayang, kan kalau kelebihan anak malah jadi tertutup oleh “konsep ideal” berdasarkan standar umum tadi? So, It’s a matter of our perspectives.

Jadi, kalau orang dulu bilang nama adalah doa, saya sih setuju. Tapi, saya lebih meyakini bahwa ‘label adalah doa’. Jadi hati-hati kalau melabeli anak karena tanpa sadar kita sudah menciptakan image dirinya, dan juga membentuk cara pandang dia (dan orang lain) terhadap dirinya. Label dan Image ini bisa melekat, dipercaya dan dibawa hingga dewasa, atau malah bahkan seumur hidupnya.

Baca juga: Panda Parenting, Pola Asuh Santai Untuk Ajarkan Anak Kemandirian

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top