Now Reading
5 Kalimat Orangtua yang Bisa Memicu Stres pada Anak

5 Kalimat Orangtua yang Bisa Memicu Stres pada Anak

dewdew

Hati-hati saat bicara pada anak karena tanpa kita sadari, bisa banget kalimat yang keluar dari mulut kita bisa memicu stres pada anak. 

Tanpa orangtua sadari, beberapa kalimat yang sering terucap bisa memicu stres pada anak. Hati-hati, pada anak yang memiliki mental health issue, bukan tak mungkin membuatnya makin stres lalu membawanya pada depresi. Terutama untuk anak jelang remaja dan remaja, penilaian orang lain menjadi salah satu pemicu kecemasan mereka. Menurut Kara Handali, M.Psi., meski nampak cuek terhadap orang tua, namun kata-kata orang tua ternyata besar, lho, pengaruhnya terhadap para remaja. Stop katakan ini pada mereka sebelum terlambat.

“Masih muda, kok, stres?”

Anak juga manusia, mommies. Mereka juga bisa stres, lho! Terutama untuk pra-remaja dan remaja. Begitu banyak yang mereka alami, mulai dari jerawat yang bikin nggak pede, hingga bully di sekolah yang mungkin belum bisa ia ungkapkan.

Yang sebaiknya dikatakan: “Mama lihat kamu kelihatan lesu belakangan ini, lagi berat,ya, tugas-tugas sekolah?”

“Kamu, tuh, baik-baik aja. Nggak usah terlalu dipikirin.”

Terkadang problema remaja buat orangtua terlihat sebagai masalah yang ‘ecek-ecek’. Dibandingkan beban orangtua, ya, memang nggak ada apa-apanya. Tapi nggak bisa juga menyepelekan masalah yang dihadapi anak dalam kesehariannya.

Yang sebaiknya dikatakan: “Kamu jadi lebih banyak diam, nak. Lagi ada yang dipikirin, ya? Mau cerita nggak sama Mama atau Papa, mungkin?”

BACA JUGA: Social Media Bikin Anak Jadi Konsumtif? Benarkah?

“Kamu harus berusaha lebih keras lagi!”

Iya, memang menyemangati anak itu perlu. Tapi kita juga harus tahu batasannya. Bisa saja sebenarnya hasil yang  ia dapatkan, menurutnya sudah melewati usaha yang super keras. Dengan berkata begitu berarti kita nggak menghargai usahanya.

Yang sebaiknya dikatakan: “Iya, susah ya dek? Mama senang lihat Adek berusaha buat selesain tugasnya walaupun sebenarnya udah pengen cepet-cepet main.”

“Kamu, tuh, udah gede. Masa harus dikasihtahu terus, sih?”

Kalimat seperti ini seringkali diucapkan orangtua hanya karena melihat anak tak melakukan tanggung jawab yang diberikan. Tapi sering juga kita menganggap mereka masih kecil dan bilang, “Belum waktunya kamu tahu,” Bikin bingung nggak, sih?

Yang sebaiknya dikatakan: “Kak, ingat kesepakatan kita apa? Ada yang belum dilakukan nggak?” Alih-alih fokus pada hal yang tidak dilakukan, cobalah untuk mengapresiasi hal baik yang dilakukan anak. Remaja mulai punya cara sendiri untuk mengerjakan sesuatu, jadi jangan terburu-buru berkomentar. Siapa tahu dia punya cara sendiri untuk melakukan tanggung jawabnya.

“Nggak usah caper, deh!”

Ya, memang anak itu cari perhatian sama orangtuanya. Sama siapa lagi, dong? Apalagi kalau dia merasa dicuekin, atau tidak diindahkan. Sesederhana karena orangtuanya sedang sibuk atau sedang tak bisa diganggu. 

Yang sebaiknya dikatakan:  “Kamu mau Mama udahan kerjanya ya? Sebentar ya, Nak. Kasih Mama 10 menit boleh? Abis itu kita ngobrol.”

Mommies, menerima dan memahami perasaan anak bukan berarti kita menyetujui atau mendukung perilakunya. Kita bisa menyemangati anak untuk berjuang lagi ketika gagal, tetapi kita perlu terlebih dahulu membuatnya merasa dipahami. Karena melalui rasa dipahami, anak mau membuka diri dan mendengarkan nasihat orangtua.

BACA JUGA: Tips Menyusui Bagi Ibu Baru Lahir Agar Tidak Stres

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top