Now Reading
Membesarkan Anak Berwawasan Global

Membesarkan Anak Berwawasan Global

Agar anak menjadi bagian dari warga dunia yang berwawasan global mari coba biasakan mereka melakukan hal-hal ini. 

Pagi tadi, sembari sarapan, anak saya memutar musik yang barus saya dengar. “Siapa ini? Kok enak,” tanya, saya. “Boney M. Ini band yang personelnya berasal dari Karibia. Band-nya dibuat di Jerman Barat. Lagu yang dimainkan tentang orang Rusia. Berbahasa Inggris, menggunakan instrumen Arab dan Jepang. Pertama kali show di Polandia. Paling populer dimainkan di Prancis,” nyerocos anak saya, yang segera membuat mata saya terbelalak. “Lalu didengerin sama anak Jawa,” timpal saya, tergelak.

Begitulah, fenomena zaman sekarang. Di sekitar kita, ada banyak unsur-unsur budaya asing yang kita terima, termasuk unsur budaya yang sudah saling bercampur. Kita tidak asing lagi makan roti Jepang, jajanan Korea, salad Yunani, burger AS, dan sebagainya. Maka, seiring globalisasi berkembang sangat cepat, kita perlu mendidik anak berwawasan global, terbuka terhadap budaya lain, dan memiliki kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari warga dunia.

Cobalah ide-ide ini untuk membesarkan anak yang memiliki keingintahuan yang tinggi tentang dunia dan pada akhirnya anak berwawasan global.

Baca juga:

Pentingnya Anak Memiliki Kemampuan Beradaptasi

Anak Berwawasan Global - Mommies Daily

Banyak membaca

Buku adalah jendela dunia, kata pepatah. Dari kecil, akrabi anak dengan karya sastra dunia yang terkenal dan menggugah, seperti kisah mitologi Yunani, Fable Aesop, Le Petite Prince, Robinson Crusoe, Huckleberry Finn, dan sebagainya. Lalu, buku-buku tentang sejarah dunia, tokoh penemu dan ilmuwan dunia, serta banyak lagi lainnya. Kekuatan buku yang mampu menggambarkan sebuah tempat dengan detail, tapi tidak disajikan sebagai sebuah fakta kering semata, bagi anak, sama dahsyatnya dengan membawanya traveling. Deskripsi tempat-tempat jauh itu akan menempel di benak anak. Buku petualangan atau catatan perjalanan, seperti The Travels of Marco Polo, Richard Halliburton Book of Marvels, atau Kepulauan Nusantara Alfred Russel Wallace, akan mengajak anak melihat dunia yang menakjubkan.

Baca juga:

7 Tanda Anak Punya Kemampuan Adaptasi yang Baik

Kenalkan dengan folksong

Di sekolah, umumnya anak diajari lagu-lagu daerah Nusantara. Tentu, itu bagus. Akan tetapi, lagu Nusantara saja tidak cukup. Anak juga perlu mengenal lagu atau nyanyian tradisional dari belahan dunia lain. Ini yang jarang sekali diajarkan. Lagu seperti The Pied Piper, Funicula Funicula, The Lion Sleeps Tonight, On Ilkla Moor Baht ‘at, Sakkijarven Polka, dan banyak lagi lainnya. Di seluruh dunia, pasti punya lagu folk mereka yang terkenal sepanjang masa. Tidak seperti lagu pop yang mudah berganti, lagu folk tidak pernah terlupakan. Biasanya isinya juga mengandung kisah kepahlawanan, mitos, atau legenda yang hidup dalam masyarakat. Lewat lagu folk, anak juga diajak mengenal dan memahami budaya yang beragam.

Belajar bahasa asing

Tentu, semua sepakat, bahasa Inggris penting diajarkan ke anak. Mengenai metode, bisa beragam. Tidak harus les, kok. Anak saya, misalnya, belajar bahasa Inggris langsung lewat buku-buku sastra (dan Youtube, tentu saja). Kita tidak boleh meremehkan kemampuan anak. Semula, saya hanya coba-coba saja sodorin anak buku, ternyata ia mampu memahami, dan bahkan kemajuannya sangat pesat dan jauh melampaui saya. Selain bahasa Inggris, anak juga perlu dikenalkan dengan bahasa asing lain. Pilihan saya, jatuh ke bahasa Prancis, Latin, dan Arab.

Baca juga:

Cara Membesarkan Anak Agar Mampu Beradaptasi

Belajar geografi

Jangan dibayangkan, geografi seperti buku teks kita waktu sekolah dulu. Sesederhana mengajarkan arah mata angin, posisi matahari, memahami batas-batas, atau denah rumah. Sebelum mengenalkan anak pada peta atau membawanya bertualang ribuan mil, anak bisa dikenalkan pada ilustrasi sederhana, misalnya, tentang kolam ikan yang bisa menggambarkan danau besar. Tentang aliran sungai kecil, untuk menceritakan tentang Sungai Nil. Sebuah bukit kecil bisa menjadi Pegunungan Alpen Swiss, dan sebagainya. Saya ingat, dulu ada teman jet set, yang travelingnya selalu jauh-jauh dan sering. Suatu kali, habis pulang dari Great Wall Cina. Tapi pas ditanya, “Di sebelah mana sih?” Dia menggeleng bingung, tidak bisa mengungkapkan. “Mana ya?”

Berkomunitas

Sebagai orang yang mengaku gamer, anak saya menemukan ‘rumahnya’ di aplikasi chatting Discord. Di situ, ia berteman dengan para gamer dari seluruh dunia. Ada beberapa server/komunitas yang bisa diikuti, yang sesuai minat anak. “Ngobrolnya nggak selalu game, sih. Bisa aja tiba-tiba ada yang bahas soal pineapple pizza or salad pizza? Ada juga komunitas pendidikan di situ. Kalau mau,” kata anak saya.

Menguatkan akar

Sebetulnya saya tidak terlalu khawatir soal mendidik anak berwawasan global. Secara alami, ia sudah banyak terpapar dengan budaya global. Seperti belajar bahasa Inggris saja, tahu-tahu bisa sendiri, akibat dari gadgetnya. Justru, paparan budaya asing ini terlalu kuat, muncul dari mana-mana. Kalau ditanya, anak saya lebih paham apa yang terjadi di luar negeri, ketimbang peristiwa dalam negeri. Problem terbesar saya justru ketika ingin mencari sumber belajar untuk menguatkan akar dan identitas kelokalan, saya dihadapkan pada masalah minimnya sumber belajar. Sebab, saya sendiri, merupakan generasi yang sudah cukup terkikis dari akar dan tidak paham budaya etnis dan bangsa sendiri. Sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya anak mengenal budaya global, ia harus punya bekal akar yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing di kancah pergaulan internasional.

Baca juga:

Hal yang Menghalangi Anak Untuk Mampu Beradaptasi

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top