Begini Cara Mengajarkan Tentang Rasisme Pada Anak Sesuai Usianya

Kasus George Floyd di Amerika Serikat yang memicu demonstrasi besar hingga kerusuhan, mau nggak mau ikut menyita perhatian kita di tengah pandemi ini.

Masalah rasisme memang belakangan di negara “sedemokratis” Amerika Serikat sangat marak. Sering saya temukan di timeline media sosial, video-video tangkapan masyarakat mengenai betapa marahnya ras kulit putih di Amerika Serikat terhadap warga non-kulit putih yang bercakap-cakap menggunakan bahasa asal negara mereka di ruang publik.

rasisme rasis

Klaimnya, kalau sudah tinggal di Amerika Serikat, bicaralah menggunakan bahasa Inggris. Memang bahasa Inggris bahasa yang berasal dari Amerika Serikat, ya? Baru tahu.

Bukan cerita baru, kalau (sebagian) warga kulit putih merasa paling superior di Amerika Serikat (bahkan di dunia), terutama terhadap warga kulit gelap. Insiden Floyd hanya salah satu saja dari sekian banyak kasus.
Jika bicara soal rasisme, bagaimana dengan Indonesia, negara yang kita tinggali ini?

Masalah rasisme di negeri sendiri sebenarnya nggak jauh-jauh seperti di negara orang lain. Mirip-mirip. Familiar dengan makian, “Dasar sipit!”, atau “Orang item!”? Yes, masyarakat Indonesia sendiri, juga ada yang rasis, lho.

Agar sikap ini tak turun ke anak-anak, berikut ini yang bisa kita ajarkan soal rasisme berdasarkan kategori umur supaya mereka menghormati perbedaan dan besar tanpa perlu membeda-bedakan manusia dari rasnya.

Rasisme di usia bayi dan balita

Jangan salah, anak di bawah usia 3 tahun saja mampu menangkap atau merasakan adanya ketakutan, urgensi, atau kemarahan dalam suara dan perilaku orang yang lebih dewasa.Karenanya, berdiskusi, menonton berita tentang rasisme, atau bahkan bersikap rasis sangat tidak dianjurkan dilakukan di dekat bayi dan balita. Mereka sangat peka, lho, terhadap apa yang ada di sekeliling mereka.

Ingin membesarkan anak yang nggak rasis? Bisa banget dimulai di usia ini. Mengenal ras manusia bagi bayi, sama seperti mereka belajar bahasa, kok. Untuk itu, perkenalkan bayi dan balita pada ragam ras manusia melalui buku yang menggambarkan karakter multi rasial. Nggak ada kata terlalu dini untuk membacakan buku pada bayi. Jadi, sangat mungkin mengenalkan bayi pada ragam ras manusia.

Pilih buku, atau misalnya untuk balita, tv show yang mengedepankan multi rasial dengan berbagai sifat dasar mereka. Oya, hindari memilih jalan cerita yang menitik beratkan karakter antagonis atau protagonis hanya pada satu ras. Misalnya saja, nih, yang sipit selalu pelit, atau yang hitam selalu jahat, sementara yang berkulit terang selalu baik.

Rasisme di usia prasekolah dan sekolah dasar

Usia ini sudah pasti merupakan usia-usia kritis, nih. Di usia ini pula banyak momen yang sering bikin kita terkaget-kaget dan rasanya ingin ambles ke bumi kalau mereka tiba-tiba berkata dengan keras dan menunjuk seorang saudara dari Timur, “Mama, kok, kulit dia gelap sekali? Serem!”

Di usia prasekolah dan sekolah dasar, anak-anak akan mulai bertanya mengapa orang lain terlihat berbeda dari mereka. Mengapa kebanyakan orang dari Timur Indonesia berambut keriting, mengapa teman-teman di Papua kulitnya sangat gelap, dan mengapa keturunan etnis Tionghoa lebih banyak yang matanya sipit?

Jawaban yang kita berikan bisa beragam dan tentunya harus positif. Bisa dimulai dengan penjelasan dari sisi agama, bahwa multi ras merupakan pertanda betapa besarnya kekuasaan Tuhan karena menciptakan manusia yang berbeda-beda. Bisa juga dari sisi studi sosial, misalnya saja, tetangga yang keturunan Tionghoa suka membantu kita yang bersuku Jawa. Ajarkan pada anak bahwa perbedaan itu selalu bisa membawa kebaikan.

Oya, please, hindari untuk memberikan stigma stereotip terhadap satu ras. Misalnya saja bahwa yang matanya sipit pasti jorok, atau yang berkulit gelap pasti menyeramkan. Karena ingatlah, anak merupakan duplikat orangtuanya. Kalau orangtua rasis, anak akan tumbuh dengan konsep pemikiran yang sama. Secara alamiah, anak itu pure dan nggak pernah melakukan diskriminasi terhadap latar belakang atau berdasarkan ras manusia.

Jadi kalau sampai ia tumbuh besar sebagai seorang yang rasis, itu sudah pasti pengaruh lingkungan. Lingkungan yang paling berpengaruh? Ya orang-orang terdekatnya, seperti orangtua, kerabat, atau tetangga.

Ada baiknya juga membiarkan anak bersekolah di sekolah yang memiliki murid atau guru multi ras, agar anak sudah terpapar pada perbedaan sejak dini.

Rasisme di usia pra-remaja dan remaja

Nah, di usia ini lebih tambah lagi tantangannya. Apa lagi usia pra-remaja hingga remaja rata-rata sudah memiliki smartphone dan akses terhadap cerita, berita, hingga insiden rasisme, yang tak selalu mampu kita kontrol 24 jam. Sebagai orangtua kita mesti bisa bersikap terbuka dan mampu berdiskusi mengenai apa itu rasisme, apa akibatnya, dan contoh-contoh insidennya.

Bukan nggak mungkin, mereka sendiri sudah sempat terpapar dengan kejadian George Floyd kemarin, kan? Atau misalnya mulai bertanya-tanya, mengapa ada hashtag #blacklivesmatter, mengapa banyak yang posting image hitam di timeline sosial media.

Alih-alih mengajari, di usia ini kita sudah bisa membuka diskusi dengan bertanya bagaimana pendapatnya soal kasus Floyd misalnya, kalau ia bertanya. Atau misalnya, jika terjadi kasus bully terhadap satu murid beda ras di sekolahnya, apa yang ia anggap benar untuk dilakukan.

“Pada usia ini, anak-anak pra dan remaja dapat berpikir lebih abstrak tentang rasisme, ketidakadilan dan kekerasan versus protes damai dan mendiskusikan pandangan mereka dengan orang tua,” jelas Dr. Jenny Radesky, seorang dokter spesialis anak di University of Michigan AS, yang fokus pada perkembangan perilaku. Jadi sangat bisa kalau kita mau berdiskusi tentang apa yang mereka pikirkan, yang mereka rasakan, jika melihat jenis-jenis ketidakadilan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Nggak perlu kita capek-capek berkhotbah, orangtua sangat bisa memanfaatkan buku-buku atau film dokumenter mengenai sejarah rasisme. Setelah menontonnya ajak anak-anak berdiskusi. Percaya, deh, jika dihargai pendapatnya, anak akan lebih terbuka mengenai perasaannya tentang rasisme. Menurut Radesky lagi, akan lebih baik kalau antara orangtua dan anak pra remaja melakukan percakapan yang membuat mereka sampai pada pemahaman mereka sendiri dan dapat melihat hal-hal dalam konteks sosial yang lebih besar.


Post Comment