Lebaran #dirumahaja Mau Ngapain Ya?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Saat seluruh rencana berantakan, waktunya menyusun rencana baru untuk Lebaran #dirumahaja.

Tidak mudah untuk cerita. Lebaran yang biasanya momen penuh suka cita berkumpul di tengah keluarga besar, kali ini akan tanpa keriaan. Sejak Februari, saya sudah siapkan tiket mudik dengan kereta api, pulang pergi. Seperti biasa, tiket online selalu rebutan, cepet-cepetan. Manusia berencana, Tuhan berkehendak. Pandemi ini membuat seluruh rencana berantakan. Mudik batal, reunian SMP bubar jalan, halal bi halal keluarga besar diundur, piknik liburan sekolah Juni Juli pun terancam #dirumahaja.

Bagian terberat, pandemi ini juga menghancurkan sendi ekonomi. Tak terkecuali keluarga besar saya. Adik-adik yang berwiraswasta, kesusahan jualan. Setiap kali ngobrol dengan orangtua di luar kota, selalu ada saja kabar sedih yang datang. Sepupu-sepupu juga terdampak badai ekonomi. Ada yang usahanya sepi, ada yang sampai terbelit utang ratusan juta. Pilu!

Keluar dari tradisi, lebaran tahun ini saya menyusun sederet rencana baru.

Masak-masak

Baru sadar, saya tak pernah memikirkan menu lebaran. Mudik tinggal bawa badan, seluruh hidangan sudah disediakan oleh ibu atau ibu mertua. Opor ayam kampung (yang ayamnya motong sendri), sambal goreng ati, yang dimakan dengan ketupat dan kerupuk udang. Toples kue-kue pun berderet. Balik Jakarta, masih dibawain segembol oleh-oleh makanan.

Sekarang, saya terpaksa harus menyusun menu masakan sampai cookies lebaran, semua bikin sendiri. Belum lagi, persiapan stok belanja dan menu makanan sampai tiga hari ke depan (jaga-jaga kalau tukang sayur langganan libur). Menu yang saya bayangkan, sederhana saja. Nasi kuning dan ayam kampung. Menurut saya, nasi kuning lebih pas karena bermakna doa dan perayaan momen bahagia. Selain faktor penghematan, kalau ada dana berlebih, mending buat berbagi.

Lebaran #dirumahaja - Mommies daily

Video Call

Lebaran adalah momennya keluarga besar, yang dalam kasus saya, semua tinggal tersebar di beberapa kota. Mereka juga tidak bisa mudik. Bisa dipastikan, acara sungkem-sungkeman, peluk cium, doa, petatah-petitih dari Bapak, jadi virtual. Dilanjutkan video call ke mertua, ipar-ipar, sepupu, Pakdhe Budhe, Paklik Bulik, keponakan, dan sebagainya, cukup dari layar mini. Tak perlu pake masker dan hand sanitizer! Eh, tapi, tetap pakai baju rapi berkerudung ya :p.

Ramaikan WA

Ucapan-ucapan maaf lahir batin dan selamat hari raya pasti bertaburan di whatsapp dari kerabat, sahabat, teman-teman, komunitas. Lupakan halal bi halal, reuni, dan meet up, luangkan waktu khusus untuk mantengin whatsapp, beri sentuhan personal, dan tetap memberi kualitas perhatian pada orang-orang terdekat. Kalau sekadar copas ucapan saja, rasanya gimana, gitu!

Berbagi Senyum

Nyaris, selama pandemi, tidak mampir ke masjid. Sholat Ied pun akan di rumah, sehingga tidak papasan dengan orang lain. Idealnya sih, silaturahmi ke tetangga dekat rumah. Berhubung, baru pindah rumah, belum kenal tetangga, rasanya betul-betul sendirian. Ini lebaran pertama di kompleks baru. Tak ada salahnya, saling mengucapkan selamat hari raya, pada siapa pun orang yang saya temui, yang melintas di depan rumah. Berbagi ucapan dan senyuman (barangkali angpau juga). Tapi, kalau semua pada pake masker, gimana kasih senyuman ya?

Rutinitas Biasa

Yang jelas, lebaran ini akan sama dengan hari-hari biasa saat karantina. Tetap #dirumahaja yang paling aman dan nyaman, dengan segala ritual mamalia: eat, sleep, repeat. Biar lebih bermakna, luangkan waktu untuk berdoa dan bermeditasi, untuk kebaikan semua.

Baca juga:

Saat Berada di Situasi yang Tidak Ideal, Apa yang Bisa Kita Lakukan?


Post Comment