Mempersiapkan Anak Menghadapi Intoleransi, Apa yang Harus Dilakukan?

“Langkah-langkah mengajarkan anak toleransi sebetulnya terus berjalan, selama anak masih berkembang.” – Alia Mufida, M. Psi, Psikolog, Mentari Anakku

Mempersiapkan Anak Menghadapi Intoleransi - Mommies DailyImage: by Kelly Sikkema on Unsplash

Begitu bunyi kalimat awal pembuka dari Mbak Fida ketika saya wawancara. Pernyataan yang menyiratkan, betapa urusan mengenalkan toleransi pada anak adalah proses yang terus bergulir. Sejak dini hingga nanti dewasa menjadi manusia mandiri. Semangat dan jangan pernah lengah mommies.

Mempersiapkan anak menghadapi intoleransi berarti harus diawali dengan mengenalkan anak nilai-nilai toleransi. Awalnya, Mbak Fida menekankan orangtua bisa membantu anak mengenali dirinya sendiri. “Supaya mulai tumbuh percaya dirinya, apa yang ada di dirinya merupakan hasil pemberian Tuhan dan mereka bangga akan apa yang mereka miliki. Misalnya anak kita rambutnya lurus atau keriting. Pertama-tama sebaiknya kita membuat anak bisa menerima apa yang Tuhan berikan, dan jangan lupa apresiasi selalu, seriring berkembangnya mereka. Supaya mereka paham bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan yang terbaik.”

Dilanjutkan Mbak Fida, sejak anak usia 2-3, anak itu sudah tahu ada perbedaan di luar sana. Mulai dari jenis kelamin, warna kulit, jenis rambut, dan bentuk tubuh. Reaksi dari anak, bisa berupa pertanyaan. Sering, kan, ya mommies dapat pertanyaan sejenis ini?

“Mah, kakak itu kenapa rambutnya keriting?”

“Om itu, putih sekali ,ya, ma” ,dan seterusnya…

Inilah momen berharga untuk menyampaikan perbedaan kasat mata yang anak identifikasi. Mbak Fida menyarankan, mommies bisa meresponnya dengan konteks pembicaraan seperti ini, “Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Dari situ baru bisa kita kasih contoh. Dan inilah yang luar biasa mengenai Tuhan, bahwa dia bisa menciptakan dua variasi manusia yang beda-beda, nggak ada dua manusia yang sama persis, walau kembar pasti ada bedanya. Menunjukkan kita menerima adanya perbedaan-perbedaan tadi.”

Rumah adalah tempat pertama anak terpapar dan belajar nilai-nilai toleransi

Nah, tapi hati-hati mommies. Sebaiknya antara ucapan kita dan implementasi di rumah berjalan seiringan. Mbak Fida mencontohkan, saat anak kita bercerita tentang keunikan temannya respon kita seperti apa? Yang kita bahas sehari-hari apa, bahkan apa saja yang kita jadikan bahan lucu-lucuan di rumah? Nilai-nilai itu akan tertanam di anak-anak. Kadang-kadang, kita sudah merasa sudah kasih tahu kok, nggak apa-apa berbeda. Tapi kadang-kadang saat menerapkannya di kejadian sehari-hari, ternyata bertentangan yang awalnya kita percayai.

Pas Mbak Fida cerita contoh di atas, saya agak ngerasa “ditampar” :D. Kalau si kecil mau memilih outfit-nya sendiri, kadang kan menurut kita nggak serasi, tuh, ya – terus gemas deh kita ganti baju si kecil. Padahal, ya, sudah, kita harus mengormati perbedaan pendapat antara ibu dan anak, biarkan anak memilih yang menurut dia nyaman.

Manfaat mengenalkan anak toleransi atas perbedaan yang ada

Melanjutkan dari Mbak Fida, semua orangtua pasti ingin anaknya punya karakter yang kuat, yang bisa peduli sama orang lain, punya empati, tapi di saat bersamaan nggak jadi followers, atau hanya ikut-ikutan. Supaya mampu memilih, mana yang mau diikutin mana yang nggak.

“Nah, salah satu manfaat mengenalkan konsep perbedaan itu, ya untuk ini. Karena banyak yang terjadi sekarang dari mulai TK-SD, anak-anak nggak mau berteman dengan teman yang begini atau begitu. Sehingga si teman-temannya ini, ingin berubah menjadi seperti itu, supaya ditemenin.”

Supaya anak berani bicara ketika mendapat perlakuan intoleransi

Pertama anak butuh paham mengenai regulasi emosinya sendiri dan empati kepara orang lain. “Itu yang perlu terus kita tekankan, being kind dan pahami perasaan diri sendiri apa, supaya kita bisa paham yang dirasakan sama orang lain. Yang bisa ajarkan adalah, kalau kita diperlakukan tidak baik, sebetulnya perlu latihan semacam role play sama orangtua di rumah. Supaya anak bisa belajar secara nyata,” jelas Mbak Fida.

“Supaya anak bisa cerita, kita harus punya koneksi yang positif sama anak, yang tentu saja sudah dibangun sejak mereka kecil, harapannya anak akan kembali ke kita. Dia akan cerita soal kekhawatirannya, kekesalannya, apa yang membuat mereka sedih, senang, malu dan marah, sehingga kita selalu ada menenami mereka menjalani proses tersebut. Paling tidak membimbing menemukan jawaban dari masalah mereka,” papar Mbak Fida lebih detail menyoal cara supaya anak mau terbuka sama orangtua.

Tahapan-tahapan di atas yang sudah Mbak Fida jabarkan berupa: membuat anak kenal dengan dirinya, memiliki konsep diri yang baik, menumbuhkan percaya diri, mengenalkan banyak orang berbeda, mengenali perasaan, dan koneksi yang positif antara orangtua dan anak – merupakan building blocks of confidents. Sedikit demi sedikit menambah level kepercayaan dirinya, supaya kalau anak mendapatkan perlakukan intoleransi, pertahanan anak-anak nggak mudah runtuh, karena anak-anak punya building blocks of confident yang kokoh.

Kalaupun blocks of confidents digoyahkan, untuk kembali utuh nggak susah. Tapi kalau sudah dari awal blocks of confidents nggak kuat/sedikit, akan lebih mudah runtuh, jika ada gangguan dari luar yang terlalu besar.

Ketika anak terlanjur mendapatkan perlakuan intoleransi, orangtua harus gimana?

Mbak Fida bilang, “pada intinya orangtua perlu mendengarkan apa yang dialami anak, kemudian acknowledge perasaannya.”

Bentuknya seperti ini mommies: “wah kamu pasti sedih banget ya, waktu temen kamu ngomong seperti itu?”. Kata Mbak Fida lebih lanjut, nggak apa-apa mommies menebak perasaan anak. Mudah-mudahan anak bisa membenarkan. Selanjutnya, ajak anak berpikir sama-sama, kira-kira kita bisa apa ya kalau ada teman yang berbuat seperti itu. 

Namun perlu diingat, jangan terburu-buru mengambil langkah selanjutnya, misalnya jadi terpancing emosi. Mbak Fida mengingatkan, penting juga double check ke pihak sekolah, jika kejadiannya di sana. Supaya bisa kerja sama dengan guru. Kemudian ajak anak untuk ngobrol, kira-kira apa yang membuat temannya bicara seputar hal yang berbau intoleran. Intinya sebagai orangtua juga harus mengetahui detail kronologisnya. 

“Jika kejadiannya masih kejadian yang tidak ‘besar’, kita sebagai orangtua, butuh untuk bijaksana dan nggak ikutan ‘baper’. Tapi tunjukkan empati kita ke anak. Walau lebih mudah teori, ya, daripada praktiknya. Tapi ini semua berproses kok, bukannya tidak mungkin dilakukan,” tutup Mbak Fida.


Post Comment