Kesalahan Orangtua yang Sulit Dimaafkan Anak Hingga Dewasa

Jadi orangtua itu susah, baru terasa saat kita punya anak. Tapi meski berbagi darah daging, adakah kesalahan orangtua yang sulit dimaafkan sampai kita dewasa?

Hal ini menjadi penting karena pola pengasuhan orangtua di masa lalu jadi sangat memengaruhi relasi kita di masa sekarang. Relasi dengan suami, anak, keluarga besar, bahkan di pekerjaan.

Sulitnya, pola pengasuhan ortu kita dulu itu seringkali tidak sengaja kita lakukan pada anak kita. Saya sering sekali mendengar cerita ibu yang otomatis mencubit anak ketika salah karena ibunya dulu melakukan hal yang sama. Dan hal ini sudah di luar kendali karena seperti refleks saja.

Solusinya satu sih, belajar mengenali emosi sendiri dan belajar untuk jeda. Belajar untuk paham kapan emosi negatif memuncak yang biasanya berakhir menyakiti anak, lalu berhenti dan lakukan hal lain dulu agar anak tidak jadi korbannya.

Sebelumnya, saya pernah bertanya di Instagram pribadi saya tentang toxic parents. Banyak sekali cerita yang rasanya sulit dipercaya, dari ditusuk pensil sampai berdarah sampai diancam dibunuh dengan pisau.

Kami bertanya pada komunitas Mommies Daily di Instagram @mommiesdailydotcom. Ini 3 kesalahan orangtua yang tidak bisa mereka maafkan. Jangan sampai kita lakukan pada anak-anak kita ya!

Alasan Tertinggi Kenapa Orangtua Melakukan Tindak Kekerasan Pada Anak - Mommies Daily

Ibu terlalu perfeksionis

S, 32 tahun, ibu satu anak

Saat kecil, ibu saya adalah ibu dengan segambreng peraturan yang harus dipatuhi seluruh isi rumah termasuk ayah. Peraturannya dari yang masuk akal demi kedisiplinan seperti aturan menonton TV hanya saat setelah mandi, tidak boleh makan sambil melakukan hal lain seperti nonton atau membaca buku, dan tidur tepat waktu.

Di luar itu, ada seabrek peraturan lain yang lama kelamaan membuat saya meledak. Contoh: Memotong sayuran saat memasak harus dengan cara yang menurut ia benar, jika tidak, ia bisa merepet marah dan menganggap masakannya gagal, tidak peduli rasanya tetap enak.

Posisi menyimpan barang, cara mencuci piring, cara menjemur baju, semua ada rules spesifik yang tidak boleh dilanggar atau membuat moodnya berantakan seharian. Padahal kenapa terlalu strict juga saya bingung, cuci piring kan yang penting bersih, jemur baju yang penting kering, dan banyak hal yang prosesnya menurut saya tidak terlalu signifikan sampai harus ngomel seminggu penuh.

Di sisi lain, ia juga keukeuh anak-anaknya harus membantu. Padahal kami sudah menyerah karena yang terbaik adalah membiarkan ia kerja sendiri. Keluhannya hanya akan capek tapi ia puas, jika kami membantu, keluhannya bisa satu minggu penuh betapa kami tidak becus mengerjakan pekerjaan rumah. Satu kata: Terlalu perfeksionis.

Dan ini terbawa sampai saya dewasa, saya sulit puas pada diri sendiri bahkan sampai menangis karena kesalahan kecil yang padahal tidak signifikan. Satu kesalahan kecil di 5-10 tahun lalu bisa saya ingat detailnya sampai sekarang dan bisa membuat saya menangis.

Sampai sekarang, hubungan kami hanya baik-baik saja kalau berjauhan. Kalau dekat, sudahlah semua jadi korban kritik.

Tidak pernah menghargai pendapat anak

H, ibu satu anak

Kalau aku sih yang sampe sekarang masih nggak bisa terima alesan orang tua ngelakuin sesuatu ke aku pas kecil itu karena mereka nggak ngehargain consent aku. Nggak pernah nganggep pendapat aku itu juga penting, dan dari kecil udah dibebanin dengan harapan-harapan masa depan mereka tentang aku.

Contoh pertama, aku pas kecil disunat dan nggak pernah dikasih tau! Mamaku juga nggak tau tindakannya diapain dan dia juga nggak minta izin papaku! Emang sih aku masih bayi dan aku baik-baik aja sekarang, tapi senggaknya mereka bisa kasih tau pas aku udah dewasa dan bisa mencerna informasi itu.

Contoh kedua, pas pemilihan sekolah dari SD sampai kuliah, harus ikut pilihan mamaku, nggak pernah nanya aku mau nggak sekolah di situ. Contoh terakhir, dari kecil mamaku selalu bilang, ‘anak perempuan itu kalau udah gede harus ngurusin orang tuanya, bla bla bla’. Aku punya dua saudara laki-laki dan mamaku nggak pernah ngomong gitu ke mereka. Lah mereka kan anaknya juga, terus nggak suruh ngurusin juga? Enak bgt!

Makanya dari dulu sampe sekarang hubunganku sama mamaku nggak pernah akur. Dan sekarang aku udah nggak tinggal di Jakarta, jaraaaang banget kontak sama keluarga. Kalau pulang ke Jakarta juga selalu nginep di hotel.

Dan sekarang aku lagi hamil anak pertama, aku udah wanti-wanti banget ke diri sendiri, jangan sampe jadi orang tua kaya mamaku.

Kekerasan karena belajar

G, 31 tahun, ibu satu anak

Dulu sewaktu aku sekolah tepatnya pas SD, setiap mau ulangan, itu pasti selalu diliputi ketakutan. Karena harus belajar dan siap mental ditanyain soal yang akan diulangkan, sama ibuku.

Kenapa? Karena kalau aku nggak bisa jawab pertanyaan itu atau salah, aku pasti kena cubit dan cubitnya pasti di paha. Sampe biru menghitam.

Pernah satu waktu aku ulangan Agama dan PPKN. Semaleman udh capek belajar, lalu paginya harus bangun pagi untuk kemudian ditanyain sama ibuku. Namanya anak capek mungkin yaa, aku nggak fokus. Kebetulan juga sambil sarapan.

Ketika 1 soal ditanyain, aku salah jawab, masih woles. Kedua dan ketiga aku salah, kupingku dijewer, pahaku dicubit sampe dipelintir dan membiru. Nangis nggak? Nggak, cuma meringis. Karena mungkin udah biasa. Kebetulan itu aku kelas 2 SD.

Kemudian waktu salah sebut rukun islam pun, bukunya dilemparin ke aku, kena mata dan akhirnya seharian mataku berair. Tapi aku gak cerita sama ibuku. Ibuku juga nganggep itu biasa ajaaa. Ketika seminggu itu ulangan terus, paha-ku harus siap kalo nggak bisa jawab.

Rekor paling banyak waktu itu ada 3 cubitan di paha kiriku dan 2 cubitan di paha kananku. Semuanya biru menghitam. Nangis nggak? Awalnya. Tapi kemudian aku nggak ambil pusing. Yaa namanya anak-anak. Nggak sampai sana, ketika nilai ulanganku jeblok, aku dikatain “makannyaa belajar yaaa blok…. (goblok).” Thats it. Itu yang masih aku inget sampe sekarang.

Lalu, apa aku begitu sama anakku? Pernah, kalo dia nakal. Kelepasan dan khilaf. Lalu aku minta maaf dengan menyesal. Aku berharap, aku tidak seperti ibuku ketika itu. Meski demikian, aku tetap berterimakasih kepada beliau. Karena jika tidak demikian, mungkin aku nggak akan sekuat ini :)

Baca juga:
Tentang Inner Child: Masa Lalu yang Menghantui Masa Kini
10 Alasan Tertinggi Kenapa Orangtua Melakukan Tindak Kekerasan Terhadap Anak
Ibu Wajib Baca: Mitos Kekerasan Seksual pada Anak


Post Comment