Agar Anak Tumbuh dengan Mental yang Sehat

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Masalah kesehatan mental atau kesehatan jiwa anak dan remaja menjadi topik yang sedang happening. Lantas, di mana salahnya orangtua?

Masalah Mental Pada Anak - Mommies Daily

Saya suka deg-degan setiap kali mendengar cerita dari anak remaja saya tentang teman-temannya. Tentang kenakalan dan problematikanya. Di satu sisi, ikut emosi dengan kelakuan temannya (tentu tidak terkecuali anak saya juga). Di sisi lain, saya iba. Toh, mereka masih anak-anak.

Baca juga:

8 Masalah Anak Remaja yang Sering Terjadi Menurut Para Psikolog

Fakta berbicara, remaja sekarang lebih rapuh dibanding zaman kita dulu. Bisa bunuh diri gara-gara patah hati atau beda aliran idola dengan temannya. Mereka tidak bisa dikerasin dengan disiplin ala militer. Kurang ulet, kurang kuat menghadapi tekanan, dan sepertinya diberi tanggung jawab terlalu banyak saja langsung kewalahan. Saya merasa tidak sendiri.

Jika melihat data secara global, menurut WHO, diperkirakan satu dari lima remaja mengalami gangguan mental. Melukai diri sendiri menjadi penyebab kematian yang ketiga bagi remaja. Kenyataan yang mencemaskan. Sejak beberapa tahun terakhir ini, depresi pada anak sekolah dan remaja angkanya meningkat terus setiap tahunnya. Walaupun trennya para orangtua dari generasi milenial cenderung memanjakan anak, kesehatan mental atau kesehatan jiwa anak dan remaja menjadi topik yang sedang happening. Lantas, di mana salahnya orangtua?

Belum selesai dengan diri sendiri

Jika anak bermasalah, lihatlah bagaimana ia dididik di rumah. Bukan saya yang bilang, tapi Nanny 911 (program televisi yang pernah populer tahun 2000-an). Evaluasi ala Nanny 911, dari pagi sampai pagi lagi, bagaimana orangtua menerapkan disiplin? Saya yakin tidak ada orangtua yang sengaja ingin menjerumuskan anak. Lagipula, who are we to judge?

Kita harus tahu perilaku anak di dalam dan di luar rumah, di depan kita atau ketika sedang tidak di depan kita. Bisa jadi bedanya 360 derajat. Kalau kenyataannya anak bermasalah perilakunya, kita harus mau legowo untuk melihat kekurangan kita. Segala sesuatu yang di luar batas kewajaran, perlu mengaktifkan antena kecurigaan kita.

Anak mudah sekali menyerap energi negatif dari orang-orang di sekelilingnya. Anak yang sulit diatur, akan mengalami kesulitan saat masuk ke lingkup sosial. Anak tidak hanya butuh cinta, tapi juga membutuhkan otoritas. Sayangnya banyak orangtua yang kesulitan menegakkan otoritas pada anak. Biasanya, hal ini karena orangtua masih banyak persoalan dalam hidupnya (Siapa sih yang tidak punya masalah). Mereka yang masih berkubang dalam masalahnya, berarti belum selesai dengan dirinya. Orangtua yang seperti ini tidak bisa menjadi fasilitator yang baik bagi anak.

Untuk memastikan anak kita sehat mentalnya, terlebih dahulu kita harus selesai dengan diri sendiri. Mau mengakui apabila kita tidak sedang baik-baik saja, dan segera mencari solusinya.

Baca juga:

Tentang Inner Child Masa Lalu yang Menghantui Masa Kini

Tidak mengisi rekening bank pribadi anak

Ini bukan mengacu pada matre (atau uang, literally). Belum lama, saya menemukan buku Sean Covey, yang berjudul 7 Habits of Highly Effective Teens di rak perpustakaan. Sean menyebut istilah ‘Rekening Pribadi Anak’. Ia mengumpamakan, bagaimana perasaan kita tentang diri kita sendiri ibarat rekening pribadi di bank. Setiap saat kita bisa menyetor dan menarik dana dari rekening tersebut dari hal-hal yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan. Banyak tidaknya dana rekening tersebut terkait dengan berapa banyak kepercayaan diri kita. Apakah kita kaya atau malah defisit?

Beberapa gejala rekening bank anak Anda nilainya rendah: antara lain, anak mudah menerima tekanan teman; Anak bergumul dengan perasaan tidak berharga dan rendah diri; Anak terlalu khawatir dengan apa yang orang lain pikirkan tentangnya; Anak bertindak sombong untuk menyembunyikan rasa tidak aman dirinya; Anak merusak diri sendiri dengan masuk ke rokok, narkoba, pornografi, vandalisme atau geng; Anak mudah cemburu.

Beberapa gejala rekening bank anak Anda sehat: Mampu membela diri sendiri dan menahan tekanan teman; Anak tidak terlalu khawatir menjadi populer; Anak melihat kehidupan secara positif; Anak percaya diri; Anak bisa fokus dan punya tujuan; Anak bahagia melihat temannya berhasil.

Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk membantu anak menambah rekening banknya? Masih menurut Sean, caranya adalah dengan membantu anak untuk menepati janji pada diri sendiri, membantu orang lain di sekitarnya, memaafkan diri sendiri, jujur, menemukan cara untuk memperbarui diri, dan bekerja berdasarkan talentanya dan menggunakannya untuk membantu orang lain.

Baca juga:

Apa yang Dibutuhkan Anak Remaja dari Orang tua Mereka?

Tidak memiliki tujuan di luar dirinya

Atau bahasa kerennya sense of purpose. Punya tujuan hidup yang tidak sekadar memenuhi kebutuhan biologis diri sendiri atau keluarga. Dunia yang makin individualistik, banyak orang bekerja berlomba-lomba untuk memperkaya diri. Makin jarang yang mau bertindak untuk kemaslahatan masyarakat. Anak perlu belajar untuk berbuat kebaikan pada orang lain, darimana? Ya, dari orangtuanya. Dengan demikian, anak belajar bahwa dunia tidak terpusat pada diri dan masalah pribadinya semata.

Baca juga: Penyebab Insecure di Kalangan Anak Remaja


Post Comment