5 Tanda Anda Rela Menderita Demi Pekerjaan

Work & Career

?author?・03 Feb 2020

detail-thumb

Ketika anda terus-terusan terjebak di situasi yang lebih banyak mengorbankan kepentingan pribadi demi kebutuhan perusahaan, hati-hati bisa jadi mommies sedang menjadi pribadi yang rela menderita demi pekerjaan. Kenali lima tandanya.

Rela Menderita Demi Pekerjaan -  Mommies DailyImage: JESHOOTS.COM on Unsplash

Kata Melody Wilding, seorang pelatih eksekutif dan pekerja sosial berlisensi, “orang yang rela menderita demi pekerjaan (martir), adalah orang yang menggunakan kesibukannya itu sebagai lencana kehormatan, mereka membanggakan diri kalau lembur, merasa menjadi orang yang tepat untuk melakukan segalanya.” Sekilas orang seperti ini superior sekali, ya.

Baca juga: Mau Branding Diri Sendiri? Yuk, Lakukan dengan Tepat!

Ditambahkan Melody, kategori orang seperti ini menempatkan pekerjaan sebagai prioritas pertama di atas segalanya, bahkan rela menunda liburan, dan sedihnya kesehatan mental mereka, yang terakhir ini, menurut saya paling menyedihkan.

Sebelum terjerembap lebih jauh, karena mungkin saja nih, di antara mommies ada yang tidak sadar sedang menjalankan peran tersebut, yuk kenali tanda-tandanya.

1. ”Saya merasa istimewa jika bisa mengambil alih pekerjaan orang lain dan menyelesaikan masalah tersebut.”

Kata Orbé-Austin, psikolog berlisensi yang fokus membantu para profesional mengelola karier mereka, biasanya tanda ini menunjukkan orang yang mencari validasi eksternal untuk diakui istimewa. Di sisi lain, ada kerugian yang dia sedang ciptakan sendiri, yaitu justru tidak fokus pada pencapaian, keterampilan dan nilai-nilai pada diri sendiri. Akhirnya mengabaikan self love, bela-belain sakit demi beban pekerjaan yang sebetulnya bukan kapasitas diri anda.

2. "Tidak ada orang lain yang bisa melakukan pekerjaan ini selain saya."

Melody menjelaskan tentang sudut pandang para martir, “melihat permintaan bukan sebagai pilihan, tetapi sebagai tuntutan. Mereka berpikir, bahwa segala sesuatu yang melintasi dirinya, adalah sesuatu yang harus mereka lakukan.”

Misalnya gini, jika posisi anda adalah seorang supervisor, dan mendapati pekerjaan tim tidak seperti standar yang diinginkan. Dan langsung mengambil alih tanggung jawab tersebut. Wohooo, sabar mommies, coba deh cek lagi. Mungkin saja nih, kita yang harus memberikan instruksi lebih jelas, atau bisa jadi tenggat waktu yang diberikan kurang. Dan yang paling penting adalah mengelola harapan kita terhadap manusia, yang selalu berpotensi melakukan kesalahan.

Kalau terus-terusan tidak mampu mendelegasikan tugas mommies, dampaknya bisa sampai merugikan rekan kerja, lho. Sama saja dengan “merampok” peluang orang lain untuk mengembangkan dirinya. Akhirnya dari sisi jenjang karier tidak berkembang.

Baca juga: 10 Perbedaan Boss & Leader, di mana Kita Berada?

3. ”Saya harus menjadi yang pertama.”

“Para martir kerja menyamakan harga diri mereka dengan seberapa banyak yang dapat mereka lakukan dan produktivitas mereka,” jelas Melody Wilding. Bahaya sekali jika terus-terusan terjadi. Melody bilang model yang begini berpotensi tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, karena beban pekerjaan yang terlalu tinggi berada di atas kepentingan diri sendiri keluarga.

Hati-hati dengan tipe rekan kerja seperti ini. Karena pola pikir dia, akan menganggap koleganya juga harus siap setiap saat, ketika dibutuhkan. Siap nggak dapat email tengah malam, terus menciptakan kegelisahan? Huhuhu.

4. Yang ia kenal hanyalah kerja keras

"Ketika anda seorang martir kerja, anda dibutakan oleh di mana peluang itu berada, anda hanya berpikir bahwa peluang itu adalah dalam bekerja keras," kata Orbé-Austin. Jangan mengorbankan harga diri, hanya untuk menemukan harga diri dalam sebuah pekerjaan. Jika mommies berpikir, melakukan banyak pekerjaan berbanding lurus dengan promosi yang akan diterima, berarti mommies belum memahami bagaimana promosi itu terjadi.

Seseorang bisa berkembang dalam kariernya juga ditentukan strategi dia dalam bekerja, bagaimana dia berkomunikasi internal dan eksternal, target-target yang dipenuhi dan tentu attitude.

5. “Saya tidak bisa berlibur.”

Survei yang dilakukan pada 2017, oleh Asosiasi Perjalanan Amerika, menunjukkan sebagian karyawan tidak bisa mengambil cuti untuk liburan karena mereka merasa tidak ada orang lain yang dapat melakukan pekerjaannya. Duh, kok sedih sekali, kan ada yang konsep kerja “delegasi”, ya.

Sementara itu, di 2018 data lain mengatakan 4.000 orang enggan ambil cuti untuk libur karena takut posisinya dapat diganti orang lain, dianggap kurang berdedikasi, dan pekerjaan akan jauh lebih menumpuk kalau ambil cuti.

Padahal kata Melody, salah satu kunci keberhasilan karier adalah pemulihan lewat berlibur. Liburan berarti berinvestasi dalam bentuk energi dan re-charge tenaga.

Baca juga: 52 Hal Sederhana yang Membuat Perempuan Cerdas Semakin Bertambah

*Artikel ini diadaptasi dari:  www.huffppost.com