Kenapa Kesehatan Mental Begitu Penting untuk Jadi Orangtua yang Lebih Baik

Kemarin saya menulis di Instagram Story tentang stereotype emak-emak. Mudah marah, bawel, dan banyak emosi negatif lainnya.

Saat isu mental health nyaring digaungkan saya baru sadar, emak-emak bukan sengaja lho mau marah-marah dan cerewet. Bisa jadi mereka hanya sedang menanggung beban amat berat setelah jadi ibu, harus tetap menjadi istri, dan mungkin kehilangan diri sendiri.

mental
Saya tidak bisa menemukan riset tentang seberapa banyak orangtua di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa. Namun dari survei Global Health Data Exchange tahun 2017, ada 27,3 juta orang mengalami masalah kejiwaan di Indonesia. Dengan demikian, secara kasar 1 dari 10 orang Indonesia punya masalah mental dan ini tertinggi di Asia Tenggara.

Gangguan kejiwaan dengan pengidap paling banyak adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder) sebanyak 8,4 juta orang. Kemudian 6,6 juta orang mengalami depresi, dan 2,1 juta mengalami gangguan perilaku.

(Baca: Daftar Tempat Konsultasi Psikologi Di Jabodetabek)

Dari angka sebanyak itu, yang tertangani hanya sedikit sekali. Di Indonesia 96,5% pasien skizofrenia tidak mendapat perawatan medis yang memadai. Wajar saja karena fasilitas pun tidak mendukung. Negara seluas ini hanya memiliki 48 rumah sakit jiwa dengan 8 provinsi tidak punya RSJ sama sekali.

Plus tenaga medisnya yang masih sangat kurang. Psikiater di Indonesia hanya berjumlah 800 orang. Padahal penduduk ada hampir 250juta jiwa, maka 800 orang psikiater itu masing-masing harus menangani 300-400 ribu orang. Angka yang sangat sangat tidak ideal.

Bagaimana kesehatan mental mempengaruhi pola pengasuhan kita sebagai orangtua?

Tanpa sakit mental pun, jadi orangtua sudah sangat sulit. Harus menyeimbangkan diri dengan berbagai peran dari ibu, istri, hingga diri sendiri secara personal maupun profesional. Orang yang tidak sehat secara mental, pasti akan kesulitan menyeimbangkan peran-peran ini.

Anak dari orangtua yang tidak sehat mental juga dikhawatirkan merasa diabaikan dan tidak mendapat kasih sayang penuh. Pada akhirnya anak juga akan mengalami masalah mental serupa karena tidak punya orangtua yang sadar dan hadir penuh di masa pertumbuhannya.

Dilansir mentalhealth.org.uk, anak-anak dengan orangtua yang tidak sehat mental pun mengalami perubahan emosi, psikologis, dan tingkah laku yang lebih berat dibanding anak dengan orangtua yang sehat. Sebabnya bisa karena genetis, mereka juga lebih rentan terkena penyakit mental. Namun bisa juga karena situasi dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif untuk tumbuh kembang anak.

(Baca: Mom, Mengakui Diri Punya Masalah Mental itu Tidak Apa-apa)

Mengasuh saat punya penyakit mental, mungkinkah?

Mungkin saja tapi mungkin akan terasa sangat sulit. Merasa tidak produktif, banyak pekerjaan tidak selesai, berakhir marah-marah terus pada anak. Anak jadi rentan terkena kekerasan fisik baik mental jika dibesarkan oleh orangtua yang punya penyakit mental.

Belum lagi kemungkinan anak trauma yang terbawa sampai masa depan. Duh, jangan sampai, ya! PR besar sekali buat semua orangtua agar anak tumbuh dengan trauma masa kecil seminimal mungkin agar ia juga bisa jadi orang dewasa yang sehat secara mental.

(Baca: Tentang Inner Child: Masa Lalu yang Menghantui Masa Kini)

Apa yang harus dilakukan jika kita merasa punya penyakit mental?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, menyadari kalau ada yang tidak beres dari diri kita adalah tahapan paling awal.

- Cari support system yang sudah sadar benar kalau penyakit mental ini penting untuk disembuhkan.
– Datang ke psikolog. Mendatangi psikolog hingga bertemu yang cocok ini memang butuh usaha dan mungkin melelahkan. Tapi jangan menyerah!
– Hindari lingkungan toxic, ketahui batasan diri seberapa jauh bisa menerima kritik
– Tunda punya anak lagi! Fokus dulu pada kesehatan mental baru memutuskan untuk punya anak.


Post Comment