Mom, Mengakui Diri Punya Masalah Mental itu Tidak Apa-apa

Masalah mental semakin sering dibicarakan. Melawan stigma, mencoba menyebarkan pada sebanyak mungkin orang bahwa punya masalah mental adalah sesuatu yang wajar.

Stigma paling umum adalah masalah mental sama dengan gila. Ke psikolog atau psikiater hanya untuk orang gila. Padahal arti gila aja blur ya, gila kan bukan diagnosa medis.

overthinking, think, pikir, mental

Tapi kadang orang juga bingung, apa benar saya mengalami gangguan mental? Atau hanya lebay dan drama saja? Kapan harus ke psikolog?

Pertama ketika masalahnya sudah terasa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Cemas berlebihan, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, sakit kepala atau sakit perut tanpa sebab pasti, dan lain sebagainya.

Kedua, sudah berusaha mencari solusi dari masalah tersebut tapi belum juga hilang. Olahraga sudah, ibadah sudah, curhat sana-sini sudah, berusaha perbaikin sendiri juga sudah tapi masalah itu tetap menganggu. Mungkin sudah saatnya butuh orang lain seperti psikolog untuk membantu.

(Baca: 9 Tanda Kita Terlalu Lama Mengabaikan Kesehatan Mental)

Ketiga, masalah membuat kita jadi punya kebiasaan buruk. Iya pelarian gitu, jadi merokok, alkohol, makan terlalu banyak, atau … belanja terlalu impulsif atas nama bahagia.

Yang terakhir ketika ada perubahan besar dalam hidup yang bisa jadi traumatis. Seperti orangtua meninggal atau kelahiran bayi. Trauma atas pengasuhan di masa lalu yang muncul lagi saat dewasa juga bisa jadi trigger masalah mental.

Satu hal yang perlu diperhatikan: Jangan denial!

Sadari dulu kalau memang kita butuh bantuan. Tidak perlu demi gengsi lalu malah malu mengakui kelemahan diri. Namanya juga manusia, lemah itu tidak apa-apa, sakit itu wajar, baik fisik maupun mental.

Karena kalau denial, masalah yang ada jadi lebih lambat tertangani. Kemungkinan semakin parah juga tentu ada. Padahal jika semakin parah, penyakit mental bisa menimbulkan penyakit fisik juga lho!

Plusss, hubungan dengan orang terdekat juga bisa jadi terpengaruh. Kita jadi individu yang menyulitkan, jadi istri yang tidak menyenangkan, jadi ibu yang mudah marah. Hanya karena kita tidak mau mengakui masalah mental yang kita punya.

(Baca: Mengenali Ciri Anak yang Menderita Mentall Illness)

Pernah nggak sih merasa ada yang salah dengan pola asuh kita ke anak? Gampang marah, kalau marah suka lepas kontrol atau ngeluarin kalimat2 yang nyakitin buat anak kita?

Atau mungkin kita yang merasa punya luka masa lalu dari pola asuh orang tua kita ke kita? Generasi dulu yang kaku, otoriter, penuh kritikan dan hukuman fisik, membuat kita pada akhirnya memiliki dendam dan tumbuh menjadi pribadi yang tidak sehat secara emosi serta mental?

Memasuki Ulang tahun Mommies Daily (MD) ke-10, kami membawa campaign #MDMentalHealthJourney. Kenapa? Karena kami concern dengan tingginya masalah kesehatan mental di Indonesia yg banyak dialami oleh orang tua, remaja hingga bahkan anak-anak.

Sebagai kick off event dari campaign ini, kami akan mengadakan: TALKSHOW & WORKSHOP: Play Therapy for Your Better Mental Health bersama psikolog sekaligus terapis Play Therapy, mbak Irma Gustiana Mpsi, Psi.

Yuk, kenali dan atasi trauma masa lalu, masalah psikologis, yang ternyata mempengaruhi cara kita mencari pasangan, menjalani masa kehamilan hingga membesarkan anak.

Agar kita bisa lebih sehat secara mental terkait dengan hubungan kita dengan pasangan dan pola asuh terhadap anak. Daftarnya di sini ya! https://fdly.me/MDAnniversary

revisi-2-ig-post


Post Comment