Ketika Lingkungan Kerja Terlalu Toxic untuk Dihadapi

Si toxic, alias racun ini bisa muncul dalam wujud apapun. Dari pasangan yang terlalu banyak mengatur, sampai lingkungan kerja yang membuat kita tertekan.

Iya sih yang namanya kerja kadang memang melelahkan sekali. Harus diingat pula kalau tidak ada tempat kerja yang sempurna. Meski demikian, tidak berarti membenarkan culture yang toxic.

kantor, ibu bekerja

Apa saja contoh toxic culture di lingkungan kerja?

1. Pekerjaan yang tidak kunjung selesai

Kalau sampai subuh masih di kantor lalu jam 9 pagi harus sudah di kantor lagi, duh, sepertinya kalau pekerjaan tidak juga selesai kenapa harus dipaksakan sampai subuh? Sekarang tidak selesai, besok juga tidak selesai.

Iya saya mengerti banyak pekerjaan yang diburu deadline, tapi kalau merasa sudah berlebihan sehingga menganggu relasi lain dengan anak dan keluarga, itu sudah tanda-tanda lingkungan kerja yang tidak sehat.

2. Atasan yang kritik berlebihan

Saya pernah dengar, atasan adalah salah satu faktor terpenting orang bertahan di pekerjaan. Saya setuju banget sih, punya atasan yang tidak drama, logis, dan fleksibel adalah sumber ketenangan bekerja.

Sementara ada (pengennya sih bilang “banyak” hahahaha) atasan yang mengkritik tanpa alasan yang jelas. Pokoknya semua salah dan semua hal bisa di-twist jadi negatif. Duh, nggak perlu banget ya beban hidup yang udah berat ini ditambah negativity yang berlebihan. Apalagi dari bos sendiri.

(Baca: Toxic Relationship: Ciri-ciri dan Cara Mengakhirinya)

3. Karyawan saling komplain atau adu domba, tidak bahagia

Tembok saja bisa bicara di kantor yang toxic tuhhh ahahahaha. Saking satu sama lain sikut-sikutan dan tidak saling dukung. Saking semua hal jadi bahan untuk saling menjatuhkan.

4. Peraturan yang tidak konsisten

Ada karyawan yang boleh pulang tepat waktu, ada pula yang lembur saja maish dinyinyirin. Ada yang bahkan boleh masuk 3 hari seminggu, ada yang mau cuti saja dipersulit. Peraturannya bagaimana sih sebenernya?

5. Promosi pekerjaan tidak transparan

Ini adalah tanda komunikasi tidak berjalan lancar. Ada karyawan yang prestasi biasa saja tapi tiba-tiba promosi, ada yang rajin bekerja tapi tak kunjung promosi. Semua serba salah paham, semua serba bingung karena jalur komunikasi antara atasan dan bawahan kurang jelas.

6. Tingkat turnover yang tinggi

Ini juga bisa jadi indikator. Karena kantor yang membuat orang betah, ya untuk apa resign dalam waktu cepat? Cepat di sini dalam konteks millennials ya, 3-5 tahun itu sudah terhitung lama. Namun jika dalam 3-6 bulan banyak karyawan keluar masuk sih jelas ada yang salah pada culture perusahaan.

(Baca: Pernikahan Sulit dan Menakutkan, Benarkah?)

Lalu apa yang harus dilakukan ketika lingkungan kerja terlalu toxic?

1. Berhenti menyalahkan diri sendiri

Kadang ketika terpapar sesuatu yang negatif terus menerus, yang kita pikirkan adalah: Apa yang salah pada diri kita sih? Kenapa harus seperti ini?

Berhenti menyalahkan diri sendiri dan sadari bahwa yang terjadi di luar sana adalah di luar kendali kita.

2. Kumpulkan teman yang merasakan hal serupa lalu komplain ke manajemen

Ini sulittt sekali saya pernah merasakan. Karena rasanya pilihannya hanya take it or leave it. Tapi kadang kita sayang sekali pada kantornya namun tidak sayang pada orang-orang di dalamnya, jadi tidak ada salahnya sih mengumpulkan orang yang berpikiran serupa lalu bicara pada manajemen atau atasan yang kita percaya.

(Baca: 5 Kesalahan Fatal Sesaat Setelah Menerima Gaji)

3. Dokumentasikan segalanya, jangan mau telepon, jangan hapus email

Saya pernah dengar cerita teman yang terjebak di kantor toxic sampai kalau ada seseorang mau bicara via telepon, ia harus menolaknya. Ia hanya bersedia membicarakan apapun tentang pekerjaan atau tentang rekan kantor via chat atau email. Dengan demikian, semua akan terdokumentasikan dengan baik dan tidak bisa jadi bahan fitnah. Separah ituuu. :(

4. Pertimbangkan segalanya lalu cari pekerjaan baru atau resign.

Ini yang terbaik memang kalau ada di lingkungan kerja toxic. Segera cari pekerjaan baru, atau tabung dana darurat sampai bisa bertahan hidup untuk 3 bulan tanpa pekerjaan lalu resign.

Tidak mudah apalagi kalau memang dalam kondisi sangat butuh uang ya. Ditulis saja pros cons nya jika tetap bertahan atau keluar kerja. Lebih bisa ditoleransi yang mana?

Semangat bekerja semuanya! Semoga selalu dijauhkan dari lingkungan toxic ya!


Post Comment