Yang Harus Diketahui Tentang Tumbuh Kembang Si Anak 6 Tahun

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Karena tumbuh kembang anak tidak berhenti saat ia masuk sekolah …

“Masa ‘honeymoon’ gw selesai nih,” begitu saya menginformasikan pada kawan-kawan, saat Dhia mulai masuk SD. Rasa-rasanya dulu saat Dhia masih duduk di bangku playgroup dan TK, setiap hari masih berasa ‘honeymoon’. Santai, bisa ngopi-ngopi after office, dan tak memikirkan tugas sekolah maupun ulangannya. Sekarang, jadwal ngopi bisa tergantung pada jadwal ulangan sekolah Dhia. Hahaha.

Keuntungan punya anak perempuan - Mommies Daily

Tapi tak apa, seiring berjalannya waktu, perubahan memang biasa terjadi. Begitu juga dengan perubahan bentuk tubuh dan perkembangan Dhia. Perubahan mencolok saat Dhia berusia 6 tahun adalah keterampilan motorik kasarnya. Koordinasinya juga ikut meningkat. Seperti, mulai lancar mengayuh sepeda dengan gaya berdiri, atau lebih mantap saat melempar bola.

Lain halnya dengan kepercayaan dirinya. Saya melihat Dhia lebih percaya diri saat hari pertama sekolahnya di SD tiba. Dia tak lagi merengek minta ditemani. Malah lebih terlihat lebih enjoy, saat saya meninggalkannya(kelihatan saat saya ngintip ke kelasnya, dia sedang berkenalan dengan teman barunya).

Ini baru sebagian, pertumbuhan dan perkembangan si anak 6 tahun lainnya adalah:

Perkembangan fisik

Selain motorik kasarnya yang berkembang pesat, beberapa perkembangan fisiknya juga menunjukkan peningkatan. Seperti mulai terampil menggunakan gunting, pena, alat musik, peralatan makan dan lainnya. Keseimbangan dan koordinasi tubuh juga lebih baik. Ini terlihat dari keterampilan fisiknya seperti berlari, melompat dan berenang.

(Baca: Perubahan Hormon yang Bikin Anak 6-8 Tahun Super Moody)

Perkembangan kognitif

Masuk usia 6 tahun, anak akan terlihat memiliki pemahaman yang lebih besar tentang lingkungan sekitarnya. Bahkan saat ia bermain dengan teman-temannya, ia seolah mengerti bahwa keadilan sangat penting bagi mereka. Selain itu, keterampilan berkomunikasinya yang lebih baik juga membuat anak 6 tahun mudah mendapatkan teman baru.

Tidak heran bila si 6 tahun juga tiba-tiba bercerita tanpa henti sepanjang malam sebelum tidur, untuk menceritakan pengalamannya bersekolah hari itu. Sesekali anak 6 tahun juga akan menceritakan tentang humor, karena ia memang sudah mulai memahaminya.

Bagian kepandaian dalam membaca dan menulis juga berkembang pesat. Saya ingat betul saat Dhia baru masuk SD, ia belum lancar membaca. Namun dalam waktu 2-3 bulan, tiba-tiba ia sudah dapat memahami buku cerita yang saya belikan untuknya. Hal ini diiringi dengan kemampuan menulis dan menggambarnya yang juga mulai jago. Dhia jadi punya kegiatan yang seru saat menunggu makanan datang di restoran, yaitu membuat komik!

(Baca: 8 Vaksin untuk Anak SD Hingga Remaja, Emang Masih Perlu?)

Sedangkan berhadapan dengan ilmu pengetahuan, kini si 6 tahun akan terlihat lebih mengerti dan tertarik. Ia sudah dapat menggunakan logika dan penalaran yang cukup baik. Ini akan membuatnya lebih jarang bermain dengan mainan plastik, dan lebih tertarik pada benda-benda asli. Tapi, saat ini juga menjadi saat yang tepat untuk melatih anak lebih fokus, belajar investigasi dan pengamatan terhadap objek tertentu.

Perkembangan emosi

Perkembangan ini juga yang membuat masa honeymoon saya berakhir. Sebab, saat ini si 6 tahun berpotensi lebih mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Sehingga, penjagaan ketat dan selalu menjawab segala pertanyaan dengan benar dan baik sangat berpengaruh dalam hal ini. Berbicara tentang kebiasaan perilakunya saat ini juga sangat disarankan agar tidak kebablasan.

Oiya, saat usia 6 tahun rasa empati Dhia juga berkembang lebih baik. Meskipun belum berbentuk perilaku, namun dari caranya bercerita tentang teman atau keadaan yang membutuhkan kepedulian sudah menggambarkan kalau dia mampu mengungkapkan perasaannya. Sayangnya, saat usia ini anak juga mungkin masih memiliki kesulitan dalam mengendalikan emosi. Sehingga, mommies mungkin akan tetap mendengar rengekan atau kemarahannya sesekali.

Jangan heran pula bila si 6 tahun kini lebih suka bermain dengan teman-temannya. Di mana hal ini berpotensi membuatnya selalu meninggalkan adiknya saat akan bermain (dan drama adiknya pun dimulai :D). Ia juga mulai senang dengan permainan tim yang membuatnya merasa memiliki kelompok bermain.

(Baca: Ide Playdate Anak yang Seru dan Edukatif)

Ada beberapa cara sederhana yang bisa diterapkan untuk mengawal perkembangan emosi anak 6 tahun. Yaitu berbicaralah tentang rasa hormat, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain; memuji perilaku positifnya; selalu menyemangati kegiatannya; dan tetap dan terus tunjukkan rasa kasih sayang untuk membantu membangun harga dirinya.

Meskipun masa ‘honeymoon’ tampak berakhir saat anak meniup lilinnya untuk yang keenam kalinya. Tapi prestasi-prestasi (besar maupun kecil) akan membuat setiap orangtua bangga. Kalau saya sih, selalu saja ngembeng, saat kakak berhasil dalam hal apapun, meskipun ia sudah besar. Bagaimana dengan mommies?


Post Comment