Beralih Karier di Usia 40-an? Pastikan Menerapkan 5 Pola Pikir Ini

Mengubah haluan karier di saat usia masih 20 dan 30-an tergolong hal yang biasa, tapi bagaimana jika hal ini dilakukan ketika menginjak 40? Pastikan mommies memiliki lima pola pikir ini untuk memudahkan berganti karier.

Beralih Karier di Usia 40-an - Mommies DailyImage: by Ilya Pavlov on Unsplash

Ini nih yang sempat kepikiran sama saya beberapa tahun belakangan ini. Secara sudah hampir 10 tahun menjadi jurnalis penulis, pingin beralih profesi mendalami skill lain yang juga saya kuasai sejak SMA. Yaitu di bidang fotografi, ya meski pada praktiknya nanti, masih ada unsur menulisnya, ya.

Selama saya wara-wiri kerja di dunia media, bisa dibilang inilah zona aman saya. Ditambah, kantor dimana saya berkarya sekarang, punya peraturan yang sangat mommies friendly. Jadi bisa dibilang, ketika di usia 40-an akan beralih karier, untuk saya pribadi, bisa dibilang sesuatu yang sangat menantang.

Baca juga: Freelancer Lyfe: Tak Semanis yang Anda Bayangkan

 

Di tengah mencari inspirasi menyoal hal ini, saya menemukan artikel di Scarymommie.com, di artikel tersebut tertera sebaiknya ada lima pola pikir yang bisa mommies sematkan, agar peralihan karier di usia 40-an berjalan lebih mudah.

1. Terlambat kah untuk berganti karier?

Jawabannya belum terlambat! Bahkan seseorang masih memungkinkan mengubah karier di usia 40, 50, dan 60. Alasannya di usia-usia ini seseorang sudah jauh lebih bijaksana. Artinya, mommies punya kendali sepenuhnya akan hidup mommies, dibandingkan pertama kali memulai karier. Jadi disaat memutuskan ke bidang mana mommies akan beralih, pilihan itu dibuat atas keyakinan yang matang

2. Apa saja kelebihan yang akan didapat?

Mengerjakan poin ini nggak bisa diawang-awang. Sediakan secarik kertas, bagi dua bagan, tulis dengan logo + dan -. Nah, mulai deh mommies menjabarkan satu demi satu. Beralih karier yang selaras dengan tujuan dan hasrat mommies akan secara signifikan memengaruhi suasana hati dan perilaku, lho. Tahu betul, apa sih yang sebetulnya saya butuhkan dalam hidup ini? Selain itu, berani melangkah dari zona nyaman.

3. Kelemahan

Kalau tadi sisi positif, mommies juga wajib memperhitungkan sisi negatifnya. Misalnya nih, yang sudah menikah dan punya anak, pastikan tidak ada perubahan penghasilan yang signifikan. Karena pengaruhnya akan terasa ke alur cash flow keluarga. Jadi ada baiknya, peralihan karier mommies tidak memengaruhi kualitas hidup anak-anak, terutama pendidikan dan kesehatan. Untuk poin ini, sebaiknya mommies memang memiliki dana darurat.

Baca juga: Dana Darurat, Sebainya Simpan di Mana?

4. Menghadapi transisi

Ketika sudah di usia 40-an, pasti banyak hal yang menjadi pertimbangan. Jika sudah ada titik yakin, jangan terhalangi dengan pendapat dari orang lain yang bernada negatif. Fokus pada hal-hal baik yang akan mommies raih.

5. Lakukan bertahap

Tetap bijaksana dengan diri sendiri dan keluarga. Peralihan karier tentu bukan hal yang mudah. Apalagi soal stabilitas keuangan keluarga. Siapkan segala hal yang dibutuhkan, dari beberapa tahun sebelumnya. Tabungan, networking, cari mentor yang berhubungan dengan karier mommies yang baru jika perlu, dan lain-lain.  

IMHO, jika mommies memutuskan untuk menjadi freelancer, sempatkan ke financial advisor untuk membedah cash flow keluarga. Karena yang namanya beralih dari penghasilan tetap ke penghasilan yang tidak pasti di setiap bulannya, akan membutuhkan penyesuaian di sana sini.

Baca juga: Dari Kantoran ke Mompreneur. Ini Tips Menjadi Entrepreneur Mom

 


Post Comment