Sandwich Generation, Tanggung Jawab atau Beban?

Ketika ingin selalu berusaha menjadi anak yang berbakti, tapi, kok, capek juga ya boncos terus setiap bulan?

Menjalani kehidupan sebagai generasi sandwich, di mana kita terjepit antara harus membiayai keluarga sendiri dan tetap membantu orangtua, rasanya memang jadi beda-beda tipis, sih, antara tanggung jawab, atau beban.

Panti Jompo & Rusun Khusus Lansia

Bagi keluarga dan anak sendiri, memang biaya hidup jelas sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita sebagai orangtua, setidaknya sampai anak menyelesaikan sekolahnya. Syukur-syukur kalau bisa terus membiayai pendidikan anak sampai ia sarjana. Selebihnya, anak sudah dikategorikan sebagai orang dewasa, artinya, ia bisa mengambil keputusan sendiri akan kelanjutan hidupnya.

Sedangkan bagi kedua orangtua kita, memang sepatutnya, begitu kita membentuk keluarga baru (menikah dan punya anak), kita tidak lagi menjadi tanggung jawab mereka. Namun, realita berkata sebaliknya, bahwa kitalah yang kini “harus” bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka di masa tua. Wait, harus? Nggak, sih, karena hal ini memang tidak ada yang mengatur, kembali ke pribadi masing-masing saja.

(Baca: Pilihan Produk Dana Pensiun untuk Karyawan Swasta)

Pertanyaannya, dalam realita kehidupan yang kita jalani sekarang ini, apakah ini kian menjadi tanggung jawab, atau beban? Berikut jawaban dari para Mommies.

“Kalau dibilang beban, artinya durhaka!”
“Menanggung biaya orangtua adalah tabungan akhirat.”
“Kalau sudah ditakdirkan begitu, ikhlasin aja.”

Ada pula yang jujur menjawab kalau hal ini adalah terpaksa. Dosa? Nggak, lah. Ini realita! Ada juga, kok, yang menganggap ini bukanlah beban, namun berkah. Saya juga setuju, karena memang, kita patut bersyukur apabila masih diberikan kemampuan untuk membiayai orangtua. Karena apa yang kita syukuri tersebut akan kembali menjadi berkat di dalam kehidupan kita.

Ada juga satu jawaban yang menarik ketika salah satu ibu bilang, “Nggak usah ngomongin sandwich kalau masih butuh orangtua buat jaga anak!” Memang, sih, karena biasanya perempuan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan ibunya, termasuk dalam hal mempercayakan anak. Namun, hal ini jatuhnya membuat kita jadi lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan ibu. Meski saya pribadi lebih menyarankan, pakai pengasuh saja, demi hidup yang lebih aman dan tentram, hahaha!

(Baca: Begini Pilihan Kegiatan Pensiun Para Mama Millennials)

Ada pula pasutri yang justru lebih banyak membiayai orangtua dari pihak istri, meskipun pemasukan bulanan 100% berasal dari kantong suami. Kalau dipikir secara logis, memang jatuhnya jadi nggak adil, apalagi kalau biaya untuk orangtua itu membuat yang punya uang jadi nggak bisa menikmati hasil keringatnya. Kan, miris, jadinya!

Oleh karena itu, supaya tanggung jawab ini tidak menjadi beban, sebaiknya pastikan:

1. Kita dan pasangan sudah bertekad dan sama-sama setuju untuk membiayai kedua orangtua (baik dari salah satu maupun kedua belah pihak).

2. Kita dan pasangan sudah menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Hindari istilah “nyenening orangtua” selama kita sendiri tidak bisa menjamin sampai mana kita bisa menyanggupi kebahagiaan mereka. Yakinlah, berapapun biaya yang kita keluarkan untuk mereka tidak akan mengurangi rasa bakti kita, kok!

3. Pos keuangan keluarga sendiri diatur dan dicatat dengan baik, untuk menghindari terjadinya bocor halus setiap bulan, dengan alasan membiayai kehidupan orangtua. Kalau sudah dikategorikan sebagai item pengeluaran rutin bulanan, seharusnya, sih, tidak lagi menyebabkan bocor halus, ya!

(Baca: Terlambat Mempersiapakan Dana Pensiun, Harus Bagaimana?)

Pada dasarnya, semua orangtua ingin menjadi yang terbaik bagi anaknya. Begitu pula sebaliknya, sebagai anak, kita ingin selalu berbakti pada kedua orangtua kita. Namun, tidak ada salahnya kalau kita berusaha semaksimal mungkin menjadi orangtua yang mandiri, kelak ketika anak kita sudah beranjak dewasa. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah nanti ketika anak kita sudah menikah dan punya keluarga sendiri, ia wajib membiayai kehidupan kita?

Kalau kita tidak ingin anak kita menanggung beban masa tua kita nanti, maka persiapkan masa depan kita dari sekarang dengan hal sederhana, seperti menyisihkan sebagian dari pemasukan kita sekarang ini ke pos dana pensiun. Ingatlah betapa pentingnya menabung untuk kehidupan kita di masa yang akan datang, di mana kita tidak lagi bisa seproduktif sekarang.


Post Comment