Menaklukkan Hantu dalam Pikiran Anak

Dalam psikologi, ternyata anak takut pada hantu bisa muncul dari beberapa sebab. Salah satunya, ketakutan akan ketidakpastian.

Anak Takut Hantu - Mommies Daily

Suatu kali, anak saya Pi (12) pulang sekolah dengan wajah pucat. Ia langsung memburu saya dengan cerita yang membuatnya ketakutan setengah mati. Ia mendengar cerita dari teman sekolahnya, tentang salah satu ruangan di sekolah yang terkenal angker: ruang musik. Menjelang petang, seorang siswa dikejutkan oleh alunan suara instrumen alat musik yang sedang dimainkan. Padahal, nyata-nyata tak ada satu pun orang di dalam ruangan tersebut. Dalam benaknya, Pi mendeskripsikan alunan musik yang dimainkan si hantu, yang katanya sebuah lagu daerah. Gemparlah seisi kelas, begitu menurut anak saya.

Cerita tentang hantu di ruang musik itu rupanya menghantui Pi sampai berhari-hari. Untuk ke kamar mandi malam-malam saja, ia sampai harus membangunkan saya. Biasanya tidak pernah sampai begitu.

Beberapa waktu kemudian, koleksi cerita horor dia bertambah. Tentang beberapa temannya yang punya indera keenam, teman yang kesurupan, teman yang pernah diganggu hantu, dan sebagainya. Ada lagi, tentang teman yang kecanduan menonton film-film horor di bioskop. Ihh, anak saya mah, penakut pisan. Mana berani dia menonton film horor. Dalam hati saya tersenyum. Mungkin memang lagi masanya. Saya jadi ingat, dulu, waktu masih seumur dia, lagi seru-serunya sharing kisah-kisah horor dengan teman sekolah.

Dekonstruksi ketakutan

Saya pernah mendengar cerita beberapa teman yang anaknya (berpotensi) indigo. Di usia yang masih sangat dini, mereka punya teman-teman yang tidak terlihat. Selama anak tidak ketakutan dengan kehadiran ‘teman-teman’ tersebut, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Problemnya, jika anak jadi penakut banget. Bukan anak indigo, tapi pikirannya selalu dipenuhi oleh hantu-hantu yang tak pernah dilihatnya. Satu menit saja kecolongan melihat iklan film horor, bisa menjadi mimpi buruk berhari-hari buat anak saya. Pernah sampai bikin ia trauma menginjakkan kaki ke bioskop. Hadeh!

Dalam psikologi, ternyata takut pada hantu bisa muncul dari beberapa sebab. Salah satunya, ketakutan akan ketidakpastian. Biasanya, ketika anak berada di tempat baru atau tempat yang asing baginya. Begitu juga, takut akan gelap. Jika dirunut, ketakutan itu bisa muncul karena ia tidak tahu bagaimana beradaptasi dengannya.

Ketakutan berlebihan pada hantu juga bisa muncul disebabkan karena anak yang dimanjakan. Karena terbiasa dimanjakan, anak kemudian merasa bahwa dunia ini tidak aman, tanpa keberadaan orang tuanya. Keyakinan ini membuat anak lebih mudah percaya pada hantu dan monster yang menakutkan. Hal ini berlaku pula bagi orang dewasa yang takut pada hantu. Bisa jadi, dulu waktu kecilnya dimanjakan.

Menurut M Farouk Radwan, founder 2knowmyself, alasan lain munculnya ketakutan tersebut adalah karena pikiran anak yang terlalu terbebani -entah itu beban akademik atau tuntutan dari orang tua- sehingga melepaskannya dalam bentuk ketakutan pada hantu.

Baca juga:

Megaphone Parenting, Pola Asuh yang Membuat Anak Menjadi Pencemas.

Menantang rasa takut

Dalam kasus anak saya, saya mengajaknya bicara dan menginterogasinya, apa yang membuatnya takut? Pernahkah ia melihat sendiri seperti apa bentuknya si hantu? Percayakah ia pada hantu? Saya tidak mencoba membuatnya menentang keberadaan hantu atau makhluk halus. Berkaca pada diri saya, walau saya orang yang sepenuhnya percaya pada keberadaan hantu, tapi sampai saat ini belum pernah sekalipun saya melihat sosoknya. Berbeda dengan suami, yang dikaruniai kepekaan melihat hantu. Tapi toh, tidak membuatnya jadi penakut. Dari situ, anak bisa belajar untuk menerima, ada orang-orang yang terlahir dengan bawaan indera keenam dan ada yang tidak. Dan, kalau ia bukan anak berindera keenam, tidak ada alasan untuk takut pada hantu.

Mendekatkan anak pada cerita hantu

Meski penakut, saya tidak akan menjauhkan anak dari cerita-cerita hantu. Sebab, cerita juga memberi dampak positif. Cerita menakutkan mengajari anak cara menerima dan menaklukkan ketakutan mereka. Anak jadi memahami bahwa takut adalah juga bagian dari emosi, seperti juga kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan. Semua emosi perlu dirasakan dan diproses. Anak juga bisa belajar pelajaran hidup dari karakter-karakter dari buku (horor) yang mereka baca.

Kalau media film bioskop terlalu menakutkan buat anak (seperti tipe anak saya yang sensitif), tampaknya buku cerita lebih pas. Bukankah karakter Harry Potter hidup di alam imajinasi yang penuh dengan hantu-hantu dan dunia sihir? Lewat kisah Harry Potter ini anak bisa belajar bahwa hantu, seperti juga manusia, ada yang baik dan ada yang jahat.

Dari fiksi, anak juga bisa belajar bahwa hantu (atau monster) tak selalu menjadi sesuatu yang perlu ditakuti. Malah ceritanya bisa menghibur dan menginspirasi. Saya jadi mikir-mikir, sepertinya koleksi bacaan horornya perlu diperbanyak, nih!

Baca juga:

10 Hal yang Membuat Anak Tumbuh Menjadi Anak yang Bahagia.


Post Comment