Megaphone Parenting, Pola Asuh yang Berisiko Membuat Anak Menjadi Pencemas

Megaphone Parenting, tipe pola asuh ini berisiko membuat anak takut hingga menjadi seseorang yang pencemas. Seperti apa tanda-tandanya?

Megaphone Parenting - Mommies Daily

Image: Oleg Laptev on Unsplash

Pernah nggak mommies menghujani si kecil dengan kalimat yang sama ketika dia melakukan kesalahan? Alih-alih mengenali apa yang menjadi kesulitannya, kita malah menggunakan “kekuasaan” sebagai orangtua untuk mendikte anak. Beginilah kira-kira gambaran yang terjadi di Megaphone Parenting.

Baca juga: 5 Langkah Redakan Emosi Memuncak di Depan Anak

Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psi Psikolog Remaja dan Keluarga menjabarkan lebih detail, tentang Megaphone Parenting, “tipe pengasuhan di mana orangtua seolah mendikte anak dalam melakukan apapun, jika anak berbuat salah mereka hanya mengulangi pembicaraan yang sama tanpa mencoba mengenali apa kesulitan anak, tanpa coba memahami apa yang dirasakan anak.”

Ciri khas lain dari Megaphone Parenting ini adalah identik dengan ancaman yang ditujukan kepada anak, dengan berteriak. Harapannya, sih, anak bisa paham dengan instruksi orangtua. Tapi cara ini sudah pasti tidak efektif.

Lalu pakai cara apa dong? Supaya anak nggak hanya paham aturan, tapi dengan sadar mematuhinya, bukan karena di bawah tekanan? Gini mommies, menurut Mbak Vera penting untuk melakukan mirrorring yaitu serangkaian perilaku orangtua yang membuat anak merasa dia didengar, dipahami apa yang ia rasakan.

Contoh kasus: Anak yang menangis saat diantar ke sekolah karena tidak mau ditinggal orangtuanya.

Megaphone Parenting: “Ayo tidak boleh nangis, kan di rumah tadi sudah janji. Mama tidak suka kalau begini.” (lalu biasanya disertai ancaman akan hukuman)

Mirrorring: “Kamu sedih ya ditinggal di sekolah sama Mama? Nanti kan mama akan jemput lagi, mama peluk lagi ya sampai sedihnya turun sedikit. Sekarang kamu bisa main dulu sama teman-teman dan gurumu. Tuuu lihat, mereka sudah menunggu.”

Baca juga: 10 Kalimat Menenangkan Anak yang Lagi Marah

Dari apa yang dicontohkan Mbak Vera, terlihat jelas ya, butuh yang namanya kesabaran ekstra. Soalnya kalau nggak punya stok sabar segunung, orangtua akan cenderung memandang anak sebagai obyek yang semestinya hanya mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, supaya hidupnya baik-baik saja. Padahal anak punya hak untuk mengeluarkan dan dikenali emosinya.

Masih dari Mbak Vera, “orangtua seperti ini beranggapan semuanya akan baik-baik saja jika anak menuruti saja apa yang ditetapkan orangtua secara berulang-ulang. Misalnya anak dapat nilai buruk, “makanya kan mama sudah bilang berkali-kali musti lebih giat belajar” tanpa mengajak anak melihat apa permasalahan sebenarnya.”

Baca juga: Mom, Choose Your Battle Wisely Saat Berhadapan dengan Anak

Semoga kita bisa selalu belajar sabar, ya, mommies. Jadi tak ada kisah Megaphone parenting yang mampir di keluarga mommies.


Post Comment