3 Kesalahan Orangtua yang Memiliki Anak SD

Atas nama sayang, nggak tega, biar nggak dihukum dan sederet alasan lainnya, tanpa sadar kita malah menjerumuskan anak menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab.

Peralihan dari anak TK menjadi anak SD ternyata bukan hanya anaknya yang membutuhkan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi, namun orangtua sendiri juga perlu beradaptasi. Beradaptasi dari hal apa saja? Banyak! Terutama, ikut campur terlalu jauh dalam urusan tanggung jawab anak di sekolah :D.

Berdasarkan pengalaman saya dengan anak-anak yang sekarang sudah duduk di bangku SMP dan satu lagi masih di SD, orangtua acapkali masih sibuk mengurus keperluan anak bahkan untuk hal printilan yang nggak penting.

Paham kok saya, bahwa kita sebagai orangtua tentunya ingin memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi. Kita tidak ingin melihat anak kita frustasi, sedih, takut, khawatir dan sebaganya. Masalahnya, memasuki usia SD itu, IMO, adalah masa transisi mereka ke usia remaja lalu dewasa. Bukankah mereka seharusnya dikenalkan dengan realitas kehidupan? Dan masa transisi itu akan lebih mudah jika orangtua tidak lagi melakukan beberapa hal ini …

Atas nama sayang, nggak tega, biar nggak dihukum dan sederet alasan lainnya, tanpa sadar kita malah menjerumuskan anak menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab.  Peralihan dari anak TK menjadi anak SD ternyata bukan hanya anaknya yang membutuhkan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi, namun orangtua sendiri juga perlu beradaptasi. Beradaptasi dari hal apa saja? Banyak! Terutama, ikut campur terlalu jauh dalam urusan tanggung jawab anak di sekolah :D.  Berdasarkan pengalaman saya dengan anak-anak yang sekarang sudah duduk di bangku SMP dan satu lagi masih di SD, orangtua acapkali masih sibuk mengurus keperluan anak bahkan untuk hal printilan yang nggak penting.  Paham kok saya, bahwa kita sebagai orangtua tentunya ingin memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi. Kita tidak ingin melihat anak kita frustasi, sedih, takut, khawatir dan sebaganya. Masalahnya, memasuki usia SD itu, IMO, adalah masa transisi mereka ke usia remaja lalu dewasa. Bukankah mereka seharusnya dikenalkan dengan realitas kehidupan? Dan masa transisi itu akan lebih mudah jika orangtua tidak lagi melakukan beberapa hal ini … 1.	Sibuk mencari alasan untuk kesalahan yang anak lakukan Percaya deh, penting banget anak-anak itu belajar yang namanya sebab akibat, konsekuensi dari apa yang mereka perbuat. Anak nggak mengerjakan tugas sekolah? Ya biarkan saja mereka mendapat teguran dari guru atau mendapat nilai kurang untuk mata pelajaran tersebut. Biarkan mereka menjelaskan sendiri ke gurunya, kenapa mereka lalai. Anak salah memakai seragam? Ya nggak perlu tergopoh-gopoh minta orang rumah untuk mengantar. Anak bangun siang lalu terlambat? Biarkan dia dihukum. Jangan kita yang sibuk mencari alasan dan memberi penjelasan ke wali kelasnya. Apalagi alasannya dibuat-buat.  Biar anak belajar, bahwa the real world doesn’t work sesuai kehendak mereka. Nggak nyaman memang melihat anak ketakutan. Takut dimarahin guru. Takut dapat nilai jelek. Takut dihukum. But that moment of unhappiness teaches a lifelong lesson. Next, mereka akan belajar untuk bertanggung jawab.  2.	Membantu mereka melakukan segalanya Menyiapkan buku-buku sekolah anak dan tas sekolahnya.  Menyiapkan seragam serta sepatunya.  Mengerjakan tugas sekolahnya yang menurut kita sulit.  Membawakan barang-barang yang ketinggalan.  Kalau hal-hal ini terjadi hanya di minggu awal tahun ajaran saya masih bisa maklum. Tapi kalau terus menerus begini bahkan sampai si anak duduk di kelas 3 SD, please lah …! Coba dong, ajarkan anak-anak rutinitas harian di rumah, karena hal ini bisa berpengaruh ke kehidupan mereka di sekolah. It helps them learn self responsibility.  Memang apa salahnya sih menyiapkan tas sekolah anak? Salah, karena itu membuat mereka nggak sadar pelajaran apa yang akan mereka hadapi di sekolah, mereka nggak belajar untuk bertanggung jawab dengan barang-barang mereka. Mereka akan berpikir, mamalah yang akan melakukan segalanya, which is NOT! Ajarkan mereka pentingnya menyiapkan segala sesuatu. Apa kita juga berharap ART kita menyiapkan tas kerja kita? Nggak kan! 3.	Memberikan rewards nyaris untuk segala hal Mohon maaf, tapi kalau … Nilai ulangan bagus sedikit dapat hadiah.  Sekolah nggak terlambat dapat hadiah.  Bangun tepat waktu dapat hadiah.  Rajin hadir di setiap kelas les tambahan dapat hadiah.  Apa yang mau kita ajarkan? Bahwa melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban mereka itu layak mendapat hadiah? Itu semua kan kewajiban mereka sebagai seorang murid. Belajar, masuk sekolah tepat waktu, bangun tidur sesuai jadwal, les atau ekskul. Ibarat kata di dunia kerja, ketika kita melakukan pekerjaan sesuai job description ya memang itu sudah tugas kita, bukan? Ketika kita mau mendapatkan kenaikan gaji, ya kita harus melakukan sesuatu di luar job description atau di atas standar yang ada.  Maka pesan saya, biarkan anak-anak kita mengalami apa yang namanya melakukan kesalahan, merasakan kegagalan. Tugas kita adalah menunjukkan pelajaran apa yang  mereka dapat dari setiap kesalahan dan kegagalan. - Mommies Daily

1. Sibuk mencari alasan untuk kesalahan yang anak lakukan

Percaya deh, penting banget anak-anak itu belajar yang namanya sebab akibat, konsekuensi dari apa yang mereka perbuat. Anak nggak mengerjakan tugas sekolah? Ya biarkan saja mereka mendapat teguran dari guru atau mendapat nilai kurang untuk mata pelajaran tersebut. Biarkan mereka menjelaskan sendiri ke gurunya, kenapa mereka lalai. Anak salah memakai seragam? Ya nggak perlu tergopoh-gopoh minta orang rumah untuk mengantar. Anak bangun siang lalu terlambat? Biarkan dia dihukum. Jangan kita yang sibuk mencari alasan dan memberi penjelasan ke wali kelasnya. Apalagi alasannya dibuat-buat.

Biar anak belajar, bahwa the real world doesn’t work sesuai kehendak mereka. Nggak nyaman memang melihat anak ketakutan. Takut dimarahi guru. Takut dapat nilai jelek. Takut dihukum. But that moment of unhappiness teaches a lifelong lesson. Next, mereka akan belajar untuk bertanggung jawab.

2. Membantu mereka melakukan segalanya

Menyiapkan buku-buku sekolah anak dan tas sekolahnya.

Menyiapkan seragam serta sepatunya.

Mengerjakan tugas sekolahnya yang menurut kita sulit.

Membawakan barang-barang yang ketinggalan.

Kalau hal-hal ini terjadi hanya di minggu awal tahun ajaran saya masih bisa maklum. Tapi kalau terus menerus begini bahkan sampai si anak duduk di kelas 3 SD, please lah …! Coba dong, ajarkan anak-anak rutinitas harian di rumah, karena hal ini bisa berpengaruh ke kehidupan mereka di sekolah. It helps them learn self responsibility.

Memang apa salahnya sih menyiapkan tas sekolah anak? Salah, karena itu membuat mereka nggak sadar pelajaran apa yang akan mereka hadapi di sekolah, mereka nggak belajar untuk bertanggung jawab dengan barang-barang mereka. Mereka akan berpikir, mamalah yang akan melakukan segalanya, which is NOT! Ajarkan mereka pentingnya menyiapkan segala sesuatu. Apa kita juga berharap ART kita menyiapkan tas kerja kita? Nggak kan!

3. Memberikan rewards nyaris untuk segala hal

Mohon maaf, tapi kalau …

Nilai ulangan bagus sedikit dapat hadiah.

Sekolah nggak terlambat dapat hadiah.

Bangun tepat waktu dapat hadiah.

Rajin hadir di setiap kelas les tambahan dapat hadiah.

Apa yang mau kita ajarkan? Bahwa melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban mereka itu layak mendapat hadiah? Itu semua kan kewajiban mereka sebagai seorang murid. Belajar, masuk sekolah tepat waktu, bangun tidur sesuai jadwal, les atau ekskul. Ibarat kata di dunia kerja, ketika kita melakukan pekerjaan sesuai job description ya memang itu sudah tugas kita, bukan? Ketika kita mau mendapatkan kenaikan gaji, ya kita harus melakukan sesuatu di luar job description atau di atas standar yang ada.

Maka pesan saya, biarkan anak-anak kita mengalami apa yang namanya melakukan kesalahan, merasakan kegagalan. Tugas kita adalah menunjukkan pelajaran apa yang mereka dapat dari setiap kesalahan dan kegagalan.


Post Comment