Now Reading
Deteksi Dini Kesehatan Kecerdasan Anak Usia Sekolah

Deteksi Dini Kesehatan Kecerdasan Anak Usia Sekolah

dewdew
kesehatan intelegensi anak

Untuk mendeteksi kesehatan intelegensi atau kecerdasan anak, ada 3 tes yang bisa dilakukan.

Sebagaimana yang disampaikan Kementerian Kesehatan Indonesia anak usia sekolah merupakan usia awal mengenal dunia pendidikan formal, lingkungan yang menuntut anak untuk mampu menerapkan kemampuan intelektualnya dalam memecahkan berbagai masalah. Kemampuan ini menurut Kemenkes Indonesia yang akan meningkatkan kualitas bangsa di masa depan. Wih, berat, ya. Nah, bagaimana caranya supaya kualitas bangsa optimal? Ya, tentunya harus diiringi dengan kualitas dan kuantitas pendidikan sekolah masa kini, yang seyogyanya bukan cuma tanggung jawab sekolah, tapi juga keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Salah satu cara meningkatkan kualitas tersebut adalah dengan deteksi dini kesehatan kecerdasan anak. 

Yang perlu kita ketahui, nih, ada 3 hal penting dalam tipe belajar setiap anak yang mendasari perkembangan kecerdasan mereka, yaitu:

  1. Kemampuan menangkap
  2. Kemampuan memahami
  3. Kemampuan menyimpan informasi dalam memori

Itulah sebabnya deteksi dini kesehatan intelegensi anak sangat diperlukan. Kemenkes sendiri melakukannya melalui program penjaringan kesehatan anak sekolah. Kalau mommies bukan tipe yang sabar menunggu hasil pemerintah, bisa melakukannya sendiri, kok, melalui lembaga-lembaga psikologi independen. Hal ini demi mendeteksi adanya faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan anak yang meliputi dominasi otak dan multiple intelligence modalitas belajar. Untuk mendeteksi kesehatan intelegensi anak tersebut, ada 3 tes yang bisa dilakukan.

Tes Dominasi Otak untuk mengenali kemampuan model berpikir

Tes ini sering digunakan untuk mengenali adanya kecenderungan dominasi fungsi otak pada belahan kiri dan kanan dalam menjelaskan bagaimana otak bereaksi ketika memahami sebuah permasalahan dan menentukan solusinya. 

Dominasi otak kiri: Tipe anak dengan dominasi otak kiri memiliki model berpikir dengan karakteristik senang membuat aturan, menaati aturan, dan pola pikirnya runut. Ia cenderung sangat logis, analitik dan senang membuat daftar. Berdasarkan deteksi tersebut, kita bisa menentukan bahwa sistem pembelajaran yang cocok adalah model auditorik dan part of whole atau diajari tahap demi tahap untuk memelajari sesuatu secara keseluruhan.

Dominasi otak kanan: Tipe anak yang didominasi otak kanan memiliki model berpikir dengan karakteristik intuitif. Proses belajarnya biasanya acak atau tidak berurutan, sementara ingatan visualnya kuat, cenderung tidak suka diatur, sering bertanya, kreatif dan senang hal baru. Kita pun bisa mengetahui bahwa tipe pembelajaran yang cocok adalah visual dan part of whole, atau mengetahui secara keseluruhan terlebih dahulu, baru kemudian mengetahui secara detil.

Dominasi otak kiri dan kanan sama: Kalau yang ini, anak akan memiliki model berpikir dengan karakteristik logis, bekerja efisien dan berurutan, kreatif dan brilian, menyelesaikan masalah secara holistik dan detail hingga ia akan cocok dengan sistem pembelajarannya adalah the whole brain,  atau perpaduan kedua belahan otak. 

Baca juga: Sleepwalking Pada Anak Berbahayakah?

Tes Kecerdasan Majemuk untuk mengenal 9 jenis kecerdasan

Tes ini bermanfaat untuk mengetahui kemampuan kecerdasan anak dalam memecahkan masalah dan adaptasi dalam situasi baru. Terdapat 9 kecerdasan yang meliputi:

  • Kecerdasan linguistik
  • Kecerdasan logika matematik
  • Kecerdasan visual spasial
  • Kecerdasan musikal
  • Kecerdasan kinestetik
  • Kecerdasan interpersonal
  • Kecerdasan intrapersonal
  • Kecerdasan naturalis
  • Kecerdasan eksistensi spiritual

Tes modalitas belajar untuk mengenali kemampuan dalam menangkap, memproses, menyimpan dan mengungkapkan informasi.

Kemampuan-kemampuan di atas dilakukan baik melalui penglihatan, pendengaran, atau pergerakan tubuh. Kalau tadi kita sudah bisa menentukan sistem pembelajaran anak melalui tes-tes tersebut di atas, saatnya kita menentukan strategi pembelajaran melalui tes modalitas belajar.

Anak visual: keunggulannya adalah biasanya anak lebih rapi dan teratur. Ia cenderung teliti dan detil dalam mengerjakan sesuatu, tidak terganggu dan tetap konsentrasi walau sekelilingnya sedang ribut. Ia adalah tipe yang suka membaca, dan tulisan tangan cenderung rapi. Sayangnya, ia memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan, walau sebenarnya ia tahu apa yang ingin ia katakan. Ia kurang bisa mengingat hal-hal penting yang disampaikan dalam instruksi verbal. Ia pun kurang suka bicara.
Strategi: Guru dan orangtua bisa menggunakan materi visual, gambar, diagram, atau peta. Lalu gunakan warna untuk menandai hal-hal penting saat ia belajar. Untuk waktu-waktu tertentu, ajak anak membaca buku berilustrasi.

Anak auditori: keunggulan anak-anak auditori adalah suka menggunakan suara sebagai sarana mencapai keberhasilan dalam belajar. Jadi ketika ia harus menjabarkan hasil belajar di depan umum, ia seringkali dapat melaksanakannya dengan baik. Ia juga mudah menangkap ucapan orang lain dengan relatif cepat, tata bahasanya baik, dan suka bicara. Anak-anak ini sering ditemukan menonjol di diskusi kelas. Sayangnya ia memiliki keterbatasan karena kurang bisa mengingat informasi ketika dibacakan tidak dengan disuarakan yang keras. Ia juga memiliki kekurangan dalam menulis karangan, serta sulit diam dalam waktu relatif lama. 
Strategi: Orangtua dan guru bisa mendukung anak untuk berpartisipasi dalam diskusi di kelas atau bahkan musyawarah keluarga. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras. Cobalah diskusi ide dengan anak secara verbal, ya, mommies.

Baca juga: Ide Les Online Untuk Anak Selama Pandemi

Anak kinestetik: keunggulan anak kinestetik adalah menangkap pembelajaran melalui gerakan-gerakan. Gerakan-gerakan tersebut ia gunakan sebagai sarana memasukkan informasi ke dalam otaknya. Anak kinestetik biasanya menonjol di bidang olahraga dan memiliki koordinasi antara mata dan tangan yang baik.Sayangnya, ia memiliki keterbatasan seperti cenderung gelisah bila harus belajar dengan duduk terlalu lama. Ia pun kurang mampu dalam mengeja sebuah kata. 
Strategi: Jangan paksa anak belajar diam berjam-jam. Mommies bisa mencoba memberikan aktivitas sederhana di antara waktu belajar. Gunakan warna terang untuk menandai hal-hal penting di bukunya pada saat belajar. Jika memungkinkan, ajak anak belajar sambil mengeksplorasi lingkungan.

Deteksi dini intelegensi anak ini sangat penting, ya, mommies. Agar kita bisa mengenali cara belajar anak dan ia pun bisa mencapai kecerdasan secara optimal. 

Photo by Jerry Wang on Unsplash

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top